Google search engine
HomeDewan DakwahMenjadi Timor Leste Islami? atau “Vatican-nya Asia”?

Menjadi Timor Leste Islami? atau “Vatican-nya Asia”?

Secuplik Renungan Ust. Bahrun di Perjalanan Menuju Casidio

Oleh: Royhan Mufid Akbar, Santri Praktik Dakwah Ranadhan (PDR) PPIC eLKISI, Mojokerto

Dewandakwahjatim.com, Timor Leste – Malam itu gelap. Jalanan menuju Casidio nyaris tanpa penerangan. Hanya lampu motor yang membelah sunyi. Di atas kendaraan sederhana itulah, Ust. Bahrun berbicara dengan nada yang berbeda—lebih dalam, lebih berat.

Angin malam berhembus, namun pikirannya terasa lebih kencang berputar.

“Saya ustadz, sejak kembali dari mondok tahun 2016 ke Timor Leste ini, sampai 2024 saya merasa belum memberikan kontribusi besar untuk dakwah di sini…”

Kalimat itu bukan keluhan. Ia pengakuan jujur seorang pejuang yang merasa belum maksimal.

Delapan Tahun yang Dipikirkan dalam Sunyi

Beliau baru dua bulan kembali ke Baucau. Sebelumnya, ia berkeliling ke berbagai daerah di Timor Leste untuk bersilaturahim dengan komunitas Muslim yang tersebar.

Namun perjalanan fisik itu tidak sebanding dengan perjalanan batinnya.

“Kalau malam akhir-akhir ini saya merenung… apa yang bisa saya lakukan untuk dakwah di sini… bahkan kadang sampai menangis memikirkan itu.”

Tangis itu bukan karena lemah. Ia lahir dari tanggung jawab.

Regenerasi atau Kehilangan Arah

Ust. Bahrun menyampaikan harapan besar: mengirim minimal lima anak untuk mondok, lalu kembali berdakwah di kampung halaman masing-masing.

“Yang bisa meneruskan dakwah ini ya orang-orang pondok. Bukan yang lain.”

Bagi beliau, ketahanan dakwah bukan hanya soal semangat. Ia butuh sistem pembinaan, disiplin keilmuan, dan mental yang terlatih.

Tanpa regenerasi, dakwah akan berjalan sporadis. Dengan kaderisasi, ia akan berkesinambungan.

Realitas yang Tidak Sederhana

Beliau juga menjelaskan bahwa secara sosial, hubungan masyarakat Muslim dan non-Muslim relatif berjalan normal.

Namun secara kebijakan, dinamika berbeda.

“Pemerintah sekarang mulai waspada kepada kami.”

Karena itu, ketika tamu datang, sering kali harus disampaikan bahwa kedatangan tersebut sebatas kunjungan keluarga atau silaturahim biasa.

Bukan untuk menutup-nutupi, tetapi menjaga agar tidak terjadi kesalahpahaman administratif.

Di sisi lain, beliau menyebut adanya semangat misionaris yang kuat di negara tersebut.

“Ada misi besar supaya Timor Leste jadi pusat Katolik di Asia.”

Ungkapan itu menggambarkan kekhawatiran beliau terhadap arah identitas keagamaan negara di masa depan.

Pertanyaan Besar di Jalan Gelap

Perjalanan menuju Mushola Al-Fatimah, Casidio, malam itu menjadi simbol.

Gelap. Sepi. Namun tetap dilalui.

Pertanyaannya bukan apakah Timor Leste akan menjadi negara Islam.
Pertanyaannya bukan pula apakah ia akan menjadi “Vatican-nya Asia.”

Pertanyaannya adalah:

Apakah umat Islam di sana mampu bertahan dengan pembinaan yang kuat?
Apakah ada kader yang siap kembali dan menetap?
Apakah dakwah akan terstruktur atau sekadar bertahan dari waktu ke waktu?

Dakwah Bukan Soal Dominasi, Tapi Keberlanjutan

Renungan Ust. Bahrun menunjukkan bahwa dakwah di wilayah minoritas bukan tentang ekspansi agresif. Ia tentang keberlanjutan.

Tentang menjaga iman generasi yang sudah ada.
Tentang membina muallaf agar tidak kembali goyah.
Tentang mencetak kader lokal yang mengerti medan sendiri.

Di atas motor itu, di tengah jalan gelap menuju Casidio, satu hal terasa jelas:

Dakwah di Timor Leste tidak membutuhkan slogan besar.
Ia membutuhkan kader yang pulang dan bertahan.

Keterangan Foto:
Perjalanan malam menuju Mushola Al-Fatimah, Casidio – Timor Leste.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments