Ramadhan telah berlalu. Malam-malam penuh tangis, tilawah Al-Qur’an, dan sujud panjang perlahan menjadi kenangan. Namun pertanyaannya bukan hanya apakah kita beribadah di bulan Ramadhan, tetapi apakah kita tetap beribadah setelah Ramadhan pergi.
Para ulama mengatakan: tanda diterimanya sebuah amal adalah adanya amal baik setelahnya. Karena Allah tidak hanya memerintahkan kita beribadah di Ramadhan, tetapi sepanjang hidup.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).”
(QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah tidak memiliki masa pensiun. Shalat, tilawah, sedekah, dan ketaatan bukan hanya milik Ramadhan, tetapi milik seorang mukmin sampai ajal menjemput.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus dilakukan walaupun sed huikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, ujian sebenarnya datang setelah Ramadhan. Ketika masjid mulai sepi, Al-Qur’an mulai jarang dibuka, dan semangat ibadah mulai melemah. Di situlah terlihat siapa yang benar-benar mencintai Allah.
Jika setelah Ramadhan kita masih menjaga shalat berjamaah, masih membaca Al-Qur’an, masih menahan diri dari dosa, maka itu pertanda kebaikan. Namun jika Ramadhan pergi dan ketaatan ikut pergi bersamanya, maka kita perlu menangisi diri kita sendiri.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah, bukan hanya hamba Ramadhan, tetapi hamba Allah sepanjang kehidupan.
@arrahman.or.id
🗓️ 7 Syawal 1447
Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini tanpa mengurangi atau menambahinya. Semoga bermanfaat.
⚠️𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐌𝐄𝐃𝐈𝐀 𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅
________
♏𝐒 𝐀𝐲𝐨-𝐀𝐲𝐨 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐋𝐚𝐠𝐢
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟
(gwa-saudara-muslim-2).


