JAKARTA-kanalsembilan.com (10 Juni 2026)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan terhadap perekonomian global akibat inflasi yang masih tinggi, ketidakpastian kebijakan moneter, serta konflik geopolitik yang berkepanjangan.
Dalam hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan yang digelar 26 Mei 2026, OJK menilai sektor jasa keuangan Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang kuat dengan kinerja intermediasi yang tumbuh positif dan tingkat permodalan yang tetap solid.
Ketidakpastian global meningkat seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga energi tetap tinggi dan menambah tekanan inflasi dunia. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama (higher for longer) dan memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara.
Meski demikian, perekonomian global masih menunjukkan daya tahan. Aktivitas manufaktur dunia masih berada pada zona ekspansi meski melambat. Di Amerika Serikat, pasar tenaga kerja tetap kuat, sementara di Tiongkok pertumbuhan ekonomi mulai melemah akibat lemahnya permintaan domestik dan investasi.
Di dalam negeri, aktivitas ekonomi masih terjaga. Sektor manufaktur kembali mencatat ekspansi pada Mei 2026, inflasi tetap terkendali meskipun mengalami peningkatan akibat kenaikan harga energi global, dan neraca perdagangan masih membukukan surplus.
Pasar Modal Masih Tangguh
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Mei 2026 ditutup di level 6.127,38 atau terkoreksi 11,92 persen secara bulanan dan turun 29,14 persen sejak awal tahun.
Meski demikian, likuiditas pasar tetap terjaga. Rata-rata nilai transaksi harian meningkat menjadi Rp22,86 triliun dari Rp18,51 triliun pada April 2026. Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) saham sebesar Rp4,10 triliun, namun lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai Rp17,02 triliun.
Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat 0,32 persen secara bulanan menjadi 437,26. Sementara industri pengelolaan investasi tetap menunjukkan ketahanan dengan nilai aset kelolaan (asset under management/AUM) mencapai Rp1.049,84 triliun.
Jumlah investor pasar modal terus bertambah signifikan. Hingga Mei 2026, total investor mencapai 27,75 juta atau tumbuh 36,27 persen dibandingkan awal tahun.
Kredit Perbankan Tumbuh Hampir 10 Persen
Kinerja perbankan nasional juga tetap solid. Hingga April 2026, penyaluran kredit tumbuh 9,98 persen secara tahunan menjadi Rp8.755 triliun.
Pertumbuhan tertinggi berasal dari kredit investasi yang naik 19,48 persen, disusul kredit konsumsi 6,13 persen dan kredit modal kerja 6,04 persen. Kredit korporasi tumbuh 15,51 persen, sementara kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan positif 0,16 persen.
Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun.
Likuiditas dan permodalan perbankan tetap kuat. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat 23,97 persen, jauh di atas ketentuan minimum. Sementara rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross berada di level 2,17 persen, menandakan kualitas kredit masih terjaga.
Industri Asuransi dan Dana Pensiun Bertumbuh
Pada sektor asuransi, total aset industri mencapai Rp1.202,16 triliun atau meningkat 3,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
OJK mencatat tingkat kesehatan industri asuransi tetap kuat dengan rasio Risk Based Capital (RBC) asuransi jiwa sebesar 476,11 persen dan asuransi umum serta reasuransi sebesar 311,74 persen, jauh di atas batas minimum 120 persen.
Sementara itu, aset dana pensiun tumbuh 6,12 persen menjadi Rp1.690,64 triliun.
Fintech dan Kripto Terus Berkembang
Pada sektor pinjaman daring (peer-to-peer lending), outstanding pembiayaan tumbuh 26,11 persen menjadi Rp102,07 triliun.
Di industri aset kripto, jumlah akun konsumen meningkat menjadi 21,70 juta akun pada April 2026. Nilai transaksi aset kripto mencapai Rp22,98 triliun atau naik 2,86 persen dibanding bulan sebelumnya.
OJK juga telah memberikan izin kepada PT Luno Indonesia Ltd. sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), sekaligus terus memperkuat pengawasan terhadap industri aset digital dan kripto.
Edukasi Keuangan dan Perlindungan Konsumen Diperkuat
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, OJK telah menyelenggarakan 1.792 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau lebih dari 8,24 juta peserta.
Di sisi perlindungan konsumen, OJK bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat telah menerima lebih dari 579 ribu laporan penipuan transaksi keuangan sejak November 2024. Dari laporan tersebut, sebanyak 515.553 rekening berhasil diblokir dengan total dana korban yang diamankan mencapai Rp638,9 miliar.
Selain itu, IASC berhasil membantu pengembalian dana korban penipuan sebesar Rp196,93 miliar.
OJK Terus Perkuat Stabilitas dan Reformasi Sektor Keuangan
Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, OJK terus memperkuat berbagai kebijakan, termasuk mendukung implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), reformasi pasar modal, pengembangan industri keuangan digital, serta penguatan tata kelola dan perlindungan konsumen.
OJK menegaskan akan terus memantau perkembangan global dan domestik guna memastikan sektor jasa keuangan tetap resilien serta mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi dunia yang masih tinggi. (za).


