Google search engine
HomeEkbisTekan Kecelakaan, Profesor ITS Kembangkan Inovasi untuk Manajemen Risiko Maritim

Tekan Kecelakaan, Profesor ITS Kembangkan Inovasi untuk Manajemen Risiko Maritim

SURABAYA-kanalsembilan.com (25 Juni 2026)

Risiko kecelakaan dan kegagalan proyek masih menjadi tantangan besar industri maritim nasional. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar ke-241 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ir Silvianita ST MSc PhD melakukan penelitian yang mengembangkan inovasi manajemen risiko untuk meningkatkan keselamatan dan keandalan infrastruktur maritim.

Dengan penelitian untuk orasi ilmiahnya itu pun, Silvianita telah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar perempuan pertama dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS. Hal tersebut juga menunjukkan semakin besarnya kontribusi perempuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maritim.

Dalam orasi ilmiahnya tersebut, Silvianita memperkenalkan sistem terintegrasi bernama Methodology for Investigation of Critical Hazards (MIVTA) dan Methodology for Investigation of Risk-Based Maintenance (MIRBA) yang dikembangkannya untuk pengelolaan risiko di sektor maritim. “MIVTA digunakan untuk menemukan potensi bahaya sejak dini, sedangkan MIRBA membantu menentukan langkah mitigasi paling tepat agar risiko kecelakaan dapat diminimalkan,” jelasnya.

MIVTA bekerja dengan mengidentifikasi berbagai potensi bahaya dalam suatu operasi, mencari penyebab utamanya, serta menilai kemungkinan dan tingkat dampak yang dapat ditimbulkan. Proses tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas risiko yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut. Untuk memaksimalkan fungsinya, perempuan berhijab ini mengintegrasikan metode Fuzzy Logic di dalam sistemnya.

Perempuan dengan bidang keahlian manajemen risiko bangunan laut ini melanjutkan, Fuzzy Logic memungkinkan berbagai kondisi yang sulit diukur secara pasti diproses menjadi nilai yang lebih objektif. Alhasil, setiap potensi bahaya dapat diprioritaskan berdasarkan tingkat frekuensi dan keparahannya. “Dengan ini, kita bisa menangkap ketidakpastian di lapangan yang selama ini sulit dikuantifikasi,” terang profesor dari Departemen Teknik Kelautan ITS ini.

Hasil pemeringkatan risiko dari MIVTA kemudian diproses lebih lanjut menggunakan MIRBA. Dengan menggabungkan beberapa metode analisis, Silvianita melanjutkan, MIRBA membantu menentukan tindakan pencegahan dan strategi perawatan yang paling sesuai berdasarkan tingkat risiko yang telah diidentifikasi.

Menariknya, kedua metodologi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis risiko, tetapi juga menjadi kerangka pengambilan keputusan yang lebih terukur. Melalui pendekatan ini, alumnus sarjana ITS ini menekankan bahwa proses pengelolaan infrastruktur maritim dapat dilakukan secara lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan.

Silvianita mengatakan bahwa pengelolaan risiko tidak boleh dipandang sebagai sekadar dokumen administratif. Menurut perempuan kelahiran Surabaya tersebut, manajemen risiko harus menjadi bagian penting dalam strategi organisasi agar setiap keputusan yang diambil mampu meningkatkan keselamatan, keandalan, dan keberlanjutan infrastruktur maritim.

Pada praktiknya, Silvianita menerapkan metode tersebut pada proses pemindahan anjungan lepas pantai ke kapal pengangkut (loadout), yang merupakan salah satu tahapan dengan tingkat risiko tinggi. Hasilnya, sistem mampu mengidentifikasi sejumlah risiko prioritas yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja.

Melalui MIVTA dan MIRBA, proses identifikasi, evaluasi, dan mitigasi risiko dapat dilakukan secara lebih terukur. Dengan demikian, potensi kecelakaan kerja maupun kegagalan operasional dapat ditekan sejak tahap perencanaan. Inovasi ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-8 terkait Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Selain itu, juga poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-14 mengenai Ekosistem Laut.

Terakhir, Silvianita berharap MIVTA dan MIRBA dapat diadopsi luas oleh industri migas dan maritim nasional sehingga evaluasi risiko proyek dapat lebih terstruktur. “Manajemen risiko bukan hanya tentang menghindari kecelakaan, tetapi memastikan setiap keputusan menghasilkan operasi yang lebih aman dan berkelanjutan,” pungkasnya mengingatkan. (ist).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments