SURABAYA-kanalsembilan.com (27 Juni 2026)
Memasuki dunia kerja tidak hanya membutuhkan kompetensi akademik, tetapi juga karakter yang kuat, kemampuan mengelola tekanan hidup, serta keberanian membangun personal branding yang positif.
Berangkat dari semangat tersebut, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Adi Buana Surabaya menggelar Seminar Nasional bertajuk “Healing Branding dan Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri” dalam rangka Dies Natalis ke-55 Universitas Adi Buana sekaligus Dies Natalis ke-11 Fakultas Ilmu Kesehatan.
Seminar menghadirkan praktisi medis, penulis, sekaligus kreator konten edukasi kesehatan dr. Gia Pratama sebagai narasumber utama. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak mahasiswa mengenali potensi diri, menjaga kesehatan mental, serta berani menulis “skrip” kehidupan mereka sendiri agar mampu berkembang menjadi versi terbaik.
Rektor Universitas Adi Buana Surabaya, Dr. Untung Lasiyono, S.E., M.Si., mengatakan pemilihan dr. Gia sebagai pembicara bukan semata karena profesinya sebagai dokter, tetapi karena mampu menunjukkan bahwa seseorang dapat berkembang melampaui profesi yang dimiliki.
“Beliau bukan hanya seorang dokter dan Direktur IGD, tetapi juga aktif menulis buku, membuat konten edukasi kesehatan, hingga memproduksi film. Kami ingin mahasiswa mendapatkan inspirasi bahwa setelah lulus nanti mereka memiliki banyak peluang untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Untung, seminar tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa, khususnya yang akan menyelesaikan studi, agar lebih siap menghadapi dunia kerja maupun dunia usaha dengan karakter yang kuat, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Adi Buana, Dr. dr. Hayati, M.Kes., AIFO-K, menjelaskan tema Healing Branding dipilih karena persoalan kesehatan mental dan stres kini menjadi tantangan yang banyak dihadapi generasi muda.
“Kami ingin memberikan sudut pandang yang berbeda kepada mahasiswa mengenai bagaimana mengelola stres (manage stress) sehingga proses healing berjalan lebih cepat. Ketika mental sehat, mereka akan lebih mudah mengembangkan potensi diri, meraih prestasi, sekaligus membangun branding diri yang positif,” katanya.
Dalam pemaparannya, dr. Gia mengawali materi dengan mengajak peserta menjawab pertanyaan sederhana namun mendasar, yaitu “Siapa sebenarnya diri kita?”. Menurutnya, setiap manusia telah dibekali kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk terus memperbaiki diri.
Ia kemudian mengibaratkan kehidupan dengan pergerakan bumi yang terus berputar. Selama bumi masih berputar, manusia juga harus terus bergerak maju atau move on, apa pun tantangan yang dihadapi. “Selama kita masih diberi kesempatan hidup, berarti masih ada kesempatan untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.
dr. Gia juga mengingatkan bahwa setiap orang merupakan penulis bagi jalan hidupnya sendiri. Karena itu, seseorang tidak perlu sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki latar belakang, kesempatan, maupun titik awal kehidupan yang berbeda. “Kita sering melihat keindahan dalam diri orang lain, tetapi lupa melihat keindahan dalam diri sendiri. Yang paling adil adalah membandingkan kita dengan kita yang kemarin,” tuturnya.
Ia memperkenalkan konsep Personal Best (PB), yakni mengukur keberhasilan berdasarkan perkembangan diri sendiri dari hari ke hari. Menurutnya, fokus pada proses tersebut akan membantu seseorang terhindar dari kecemasan terhadap masa depan maupun penyesalan terhadap masa lalu.
Sebagai bagian dari konsep Healing Branding, dr. Gia menjelaskan terdapat empat pilar utama yang harus dimiliki setiap individu, yakni kompetensi, konsistensi, karakter, dan kontribusi. Keempat aspek tersebut menjadi fondasi dalam membangun citra diri sekaligus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Selain itu, ia menekankan pentingnya disiplin dalam menjalani kebiasaan-kebiasaan kecil, seperti rutin berolahraga dan menjaga pola makan. Menurutnya, kesehatan fisik dan kesehatan mental saling berkaitan sehingga keduanya harus dijaga secara seimbang. “Umur hanyalah angka. Yang membuat seseorang tetap muda adalah semangat dan gelora dalam dirinya,” katanya.
Dalam sesi tersebut, dr. Gia juga membagikan penjelasan mengenai perbedaan cara kerja otak laki-laki dan perempuan dalam menghadapi tekanan hidup. Melalui pendekatan neurosains, ia berharap peserta dapat lebih memahami perbedaan cara berpikir sehingga mampu membangun komunikasi dan hubungan yang lebih sehat.
Ia pun mengibaratkan kesehatan jiwa seperti pakaian yang harus rutin dibersihkan dari berbagai “noda” psikologis, seperti kesombongan, iri hati, maupun prasangka buruk agar seseorang tetap memiliki pikiran yang jernih.
Menutup seminar, dr. Gia mengungkapkan bahwa dirinya lebih nyaman disebut sebagai impactor dibandingkan influencer maupun selebritas. Baginya, tujuan utama yang ingin dicapai bukan sekadar dikenal banyak orang, melainkan mampu memberikan dampak positif melalui ilmu, pengalaman, dan karya yang dibagikannya kepada masyarakat. “Saya lebih senang disebut impactor karena yang ingin saya lakukan adalah memberikan dampak yang baik bagi orang lain,” ungkapnya.
Kepada para mahasiswa Universitas Adi Buana, ia juga berpesan agar tidak pernah menyerah menghadapi tantangan kehidupan. “Apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah. Tetap semangat, percayalah masa depanmu cerah,” pesannya.
Melalui seminar ini, Universitas Adi Buana berharap mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang baik, tetapi juga karakter yang tangguh, kemampuan mengelola tekanan hidup, serta keberanian membangun personal branding positif sebagai bekal menghadapi dunia profesional dan memberikan manfaat bagi masyarakat. (mde).


