Oleh : Firman Syah Ali
Khalifah Umar bin Khattab (634–644) terkenal dengan jargonnya “Tidak boleh ada satu pun warga, muslim maupun non-Muslim, yang tidur dalam keadaan lapar”. Tentu saja bukan sekedar jargon yang disampaikan dalam pidato-pidato dahsyat dan berapi-api di atas mimbar. Khalifah Umar bin Khattab bukan tipikal pemimpin omon-omon. Beliau memikul sendiri bahan-bahan makanan itu dan diantarkan ke warga yang membutuhkan. Beliau kontrol agar tidak terjadi korupsi.
Beliau juga membentuk Diwan pendaftaran penduduk untuk menjamin jatah makanan setiap bayi, yatim, lansia, dan penyandang disabilitas dari Baitul Mal. Saat krisis Am al-Ramadah (638), dapur umum Madinah memberi makan hingga 40.000 orang/hari, pasokan dikirim ke seluruh wilayah Khilafah.
Tapi gerakan Khalifah Umar Bin Khattab waktu itu hanya di Kota Madinah dan sekitarnya, belum universal. Padahal wilayah khilafah waktu itu sudah terbentang dari Mesir hingga Persia.
Apa yang telah dipepopori oleh Umar Bin Khattab kemudian diuniversalkan oleh Emperor Umar bin Abdul Aziz (717–720) dari Imperium Umayyah. Beliau menyebarkan sistem jaminan pangan secara seragam di seantero teritorial imperium Umayyah, dari Spanyol hingga India. Beliau juga menjamin bantuan khusus bagi penyandang disabilitas, janda, dan warga non-Muslim di setiap provinsi. Wakaf abadi mulai dikembangkan sebagai sandaran pendanaan agar program dapat berkelanjutan (sustainable).
Program yang dimulai oleh Khalifah Umar Bin Khattab dan diuniversalkan oleh Emperor Umar Bin Abdul Aziz ini kemudian disempurnakan oleh Emperor Al-Mahdi (775–785) dari Imperium Abbasiyah.
Beliau membangun dapur umum tetap di Baghdad dan kota-kota utama imperium Abbasiyah, rutin menyajikan makanan bagi fakir miskin dan pelajar. Beliau juga memperluas jaringan lumbung cadangan pangan strategis.
Emperor Harun ar-Rasyid (786–809 M) kemudian menyatukan layanan, Bimaristan (rumah sakit) dengan menu khusus pasien, serta dapur madrasah bagi santri dan ulama. Beliau gabungkan pendanaan Baitul Mal dan wakaf secara teratur. Kemudian semakin disempurnakan oleh Emperor Al-Ma’mun (813–833 M), di mana beliau menetapkan standar menu dan pengawasan gizi bagi pelajar di lingkungan Baitul Hikmah, menghubungkan asupan dengan kemampuan belajar.
Namun puncak pelembagaan MBG terjadi pada era Imperium Utsmaniyah (Ottoman), yang kita kenal sebagai sistem Imaret Utsmaniyah (1336–1922). Sultan Orhan mendirikan imaret pertama di Bursa, kemudian pada tahun 1530 sudah ada 83 imaret besar di seluruh wilayah imperium. Imaret-imaret tersebut 90% dibiayai wakaf abadi, yaitu dari tanah, pasar, penggilingan, tidak tergantung anggaran tahunan. Standarisasinya jelas, baik menu, porsi, maupun kebersihan. Program tersebut melayani pelajar, ulama, musafir, jamaah haji, dan semua golongan tanpa diskriminasi.
PERKEMBANGAN DI LUAR OTTOMAN
Terinspirasi oleh Utsmaniyah, pada tahun 1790 Sir Benjamin Thompson (Count Rumford) mendirikan Lembaga Orang Miskin di Munich, program terorganisir pertama di Eropa yang memberi makan anak sekolah sekaligus pendidikan dasar, kemudian beliau membuka dapur umum di London yang mampu memberi makan hingga 60.000 orang/hari, menjadi rujukan model dapur massal di Eropa Barat Laut. Sebelum itu di Eropa hanya berupa bantuan gereja atau sedekah pribadi, belum bersistem layanan anak sekolah sebagaimana Utsmaniyah.
Melanjutkan inovasi orang Inggris tersebut, Prancis (1849)
menjadi negara pertama di Eropa yang mengalokasikan dana publik untuk makan siswa miskin melalui lembaga Caisses des Écoles.
Selanjutnya, United Kingdom (1906) mengesahkan Undang-Undang Penyediaan Makanan Sekolah. Memberi wewenang resmi kepada pemerintah daerah untuk membiayai makanan siswa kurang mampu.
Di benua baru, pada tahun 1933, Amerika Serikat meluncurkan program Bantuan Darurat Masa Depresi Besar dengan membagikan makanan siang gratis ke sekolah-sekolah. Kemudian pada tahun 1946 ditetapkan National School Lunch Act, program
permanen nasional Amerika Serikat untuk Makan Siang Gratis.
Dua tahun kemudian, 1948, Finlandia menjadi negara pertama yang menjamin makan siang gratis universal tanpa syarat ekonomi bagi semua siswa, tertuang dalam Undang-Undang Pendidikan.
PERKEMBANGAN PASKA UNDANG-UNDANG FINLANDIA
1950–1960-an menjadi era awal dukungan global terhadap Makan Siang Gratis. Pada tahun 1961 didirikan Program Pangan Dunia (WFP) PBB. Pada tahun 1963, WFP meluncurkan percontohan makan sekolah pertama di Togo dan Tanzania, awalnya berupa bantuan darurat dan penyaluran kelebihan hasil pertanian negara maju. Berikutnya, FAO PBB mulai memantau pasokan pangan dan gizi anak sekolah, UNESCO mulai mengaitkan dengan peningkatan partisipasi pendidikan
Pada periode yang sama, Swedia, Norwegia dan Jepang menyusul Finlandia, bahkan Jepang mengintegrasikan program Makan Siang Gratis dengan pendidikan gizi (Shokuiku) dan susu sekolah.
Sejak 1970-an, WFP memperluas programnya ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin, mulai beralih dari bantuan pangan impor ke dukungan pembangunan jangka panjang. Pada tahun 1990, Konferensi Dunia Pendidikan untuk Semua menempatkan makan sekolah sebagai syarat akses pendidikan, tahun 1996 diselenggarakan KTT Pangan Dunia yang menegaskan hak atas makanan bergizi.
Pada tahun 2000, tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) menjadikan makan sekolah sebagai strategi kunci penghapusan kelaparan dan kesetaraan pendidikan. Setahun kemudian, 2001, Putusan Mahkamah Agung India menjadikan makan siang sekolah sebagai hak konstitusional, menjadi tolok ukur hukum dunia. Hal ini dengan cepat menjadi rujukan internasional.
Tahun 2008, krisis harga pangan mendorong model “Makan Sekolah dari Hasil Lokal” (Home-Grown School Feeding), membeli dari petani lokal, menggerakkan ekonomi desa. Tahun 2015, Makan Di Sekolah menjadi tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 2 & 4), menargetkan cakupan universal pada 2030.
Pada tahun 2021, dibentuk Koalisi Makan Sekolah Dunia dipimpin WFP, kini beranggotakan lebih dari 100 negara, mempercepat perluasan kebijakan mandiri negara. Selanjutnya, pada tahun 2025, WHO menerbitkan Standar Global Makanan Sekolah, panduan gizi, keamanan, dan keberlanjutan pertama secara resmi.
CAPAIAN TERKINI
Kini, 466 juta anak di 174 negara menerima makan sekolah, 99% anggaran kini bersumber dari kas negara masing-masing, bukan lagi bantuan luar. Cakupan negara berpenghasilan rendah tumbuh tercepat, yaitu lebih dari 60% dalam dua tahun terakhir.
KONTEKS KONOHA
DI Konoha, program semulia apapun selalu jadi bahan bancakan, digarong beramai-ramai, dijadikan lahan basah untuk korupsi.
Jangankan hanya program Makan Bergizi Gratis, program pengadaan kitab suci Al-Qur’an saja dikorupsi. Jadi sejarah global MBG di atas, sulit sekali untuk dikaitkan dengan Konoha. (za).


