JAKARTA-kanalsembilan.com (17 Juli 2026)
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, Indonesia dinilai tetap menjadi salah satu tujuan investasi jangka panjang yang menarik. Fundamental ekonomi yang kuat, besarnya pasar domestik, serta reformasi transparansi di pasar modal menjadi faktor utama yang menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki keunggulan struktural yang mendukung pertumbuhan jangka panjang. Dengan jumlah penduduk lebih dari 284,4 juta jiwa, bonus demografi, serta kekayaan sumber daya alam strategis seperti nikel, tembaga, emas, gas alam cair (LNG), dan minyak kelapa sawit, Indonesia memegang peran penting dalam rantai pasok global. Posisi Indonesia juga semakin strategis sebagai anggota G20, BRICS, dan salah satu pendiri ASEAN.
Kinerja ekonomi nasional hingga kuartal I 2026 masih menunjukkan ketahanan. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,61 persen, ditopang konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, belanja pemerintah yang terjaga, serta peningkatan aktivitas investasi. Sejumlah indikator makroekonomi juga tetap positif, mulai dari aktivitas manufaktur yang berada di zona ekspansif, surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan, hingga realisasi investasi yang terus meningkat.
Kondisi tersebut turut menopang pasar modal Indonesia. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa kali mengalami koreksi sepanjang 2026 akibat dinamika pasar global, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap terjaga dengan partisipasi investor yang stabil.
Di sisi lain, koreksi IHSG justru membuat valuasi saham Indonesia semakin kompetitif. Hingga 8 Juni 2026, IHSG diperdagangkan pada Price Earnings Ratio (PER) sekitar 12,85 kali. Sebanyak 434 saham juga tercatat memiliki Price to Book Value (PBV) di bawah satu kali, sehingga dinilai memberikan peluang investasi yang menarik bagi investor berorientasi jangka panjang dengan pendekatan analisis fundamental.
Fundamental pasar modal juga tercermin dari kinerja emiten. Dari 810 perusahaan tercatat yang telah menyampaikan laporan keuangan per 31 Maret 2026, sebanyak 595 perusahaan atau sekitar 73,46 persen membukukan laba bersih. Selain itu, 221 perusahaan tercatat membagikan dividen tunai sepanjang 2026, mencerminkan kemampuan emiten menciptakan nilai bagi pemegang saham di tengah tantangan ekonomi global.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan kondisi pasar perlu dipandang secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental ekonomi nasional, kinerja perusahaan tercatat, serta reformasi yang terus dijalankan regulator bersama Self-Regulatory Organizations (SRO).
“Berbagai langkah reformasi yang dilakukan regulator dan SRO merupakan bagian dari komitmen untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang semakin kredibel. Dengan fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat, kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang,” ujar Jeffrey dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7).
Optimisme tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah investor domestik. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID). Dari jumlah tersebut, investor saham dan surat berharga lainnya mencapai 9,9 juta SID, meningkat 15,1 persen dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebanyak 8,6 juta SID.
Investor domestik juga semakin mendominasi struktur kepemilikan pasar modal. Saat ini, investor dalam negeri menguasai sekitar 61 persen kepemilikan saham, terdiri atas investor institusi domestik sebesar 43,3 persen dan investor ritel 17,7 persen. Sementara itu, kepemilikan investor asing berada pada level 39,1 persen.
Dominasi tersebut juga terlihat dari aktivitas perdagangan. Investor domestik menyumbang 65,5 persen dari total nilai transaksi di BEI, dengan kontribusi investor ritel sebesar 52,5 persen dan investor institusi domestik 13 persen. Kondisi ini menunjukkan pasar modal Indonesia semakin ditopang oleh basis investor domestik yang kuat sehingga lebih tahan menghadapi gejolak pasar global.
Untuk semakin meningkatkan kepercayaan investor, BEI bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan KSEI, dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terus mempercepat reformasi pasar modal yang berfokus pada peningkatan transparansi dan kualitas informasi.
Sepanjang 2026, sejumlah kebijakan strategis telah diterapkan, antara lain publikasi data kepemilikan saham di atas satu persen, peningkatan persyaratan minimum free float perusahaan tercatat menjadi 15 persen, perluasan klasifikasi investor menjadi 39 kategori, serta implementasi mekanisme High Shareholding Concentration (HSC).
Selain itu, BEI juga memperluas keterbukaan informasi melalui penyelenggaraan Public Expose Live, publikasi data free float dan kepemilikan saham terkonsentrasi, serta layanan IDX Hotdesk sebagai sarana komunikasi dan konsultasi bagi pelaku pasar.
Dengan kombinasi fundamental ekonomi yang tetap solid, kinerja emiten yang resilien, pertumbuhan investor domestik, serta reformasi transparansi yang berjalan konsisten, pasar modal Indonesia dinilai memiliki fondasi yang semakin kuat.
Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus menarik investasi jangka panjang sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pasar berkembang yang paling prospektif di dunia.
Versi ini disusun dengan gaya berita media online: alur lebih runtut, bahasa lebih lugas, mengurangi pengulangan, dan menonjolkan data-data penting sehingga lebih nyaman dibaca tanpa mengurangi substansi.(za).


