Oleh: Firman Syah Ali
Dulu sebelum ada ledakan teknologi digital berbasis algoritma yang disebut kecerdasan artifisial (AI), sedikit sekali orang menulis opini di media massa maupun media sosial.
Ledakan generatif AI terjadi pada tahun 2022 dan terus berkembang secara disruptif hingga artikel ini saya tulis. Jadi kita sudah empat tahun hidup bersama ledakan generatif AI. Saya sebut ledakan, karena AI sendiri secara sangat terbatas sudah ada sejak tahun 1956, John McCharty tokohnya.
Sejak terjadinya ledakan generatif AI tersebut, ruang digital mendadak sesak dengan pujangga, penulis, kolumnis, pelukis, sutradara, komponis, kurator, editor dan selebritis instan berbasis AI.
Hanya bermodal prompt muncul banyak penulis dan pujangga instan. Orang yang selama ini tidak pernah menulis di media massa, tiba-tiba menulis sehari tiga kali, seperti jadwal minum obat. Media massa dan media sosialpun sesak dengan tulisan-tulisan mereka, yang sebetulnya tidak ada yang baca, karena pembaca sudah cerdas, mereka tau bahwa mereka sedang disuguhi “tulisan robot” yang berputar-putar dan penuh pengulangan gagasan.
Membaca tulisan hasil copy paste AI ibarat memakan hidangan makanan dalam porsi besar namun hambar. Baru baca satu dua baris saja sudah mual-mual.
Tapi penulis-penulis instan berbasis prompt AI itu tidak kapok-kapok membanjiri media massa dan media sosial dengan tulisannya. Mungkin bagi mereka yang penting namanya selalu mendominasi halaman pencarian google, sehingga nafsu digital narcissistnya terpuaskan. Mereka tidak peduli tulisannya bikin mual para penikmat literasi.
Karena sering munculnya nama seseorang dalam mesin pencarian google memang dapat mengubah identitasnya secara signifikan. Misalnya, ada seseorang yang sejak dulu tidak terkenal sebagai aktivis IPNU, PMII maupun GP Ansor, tiba-tiba sekarang terkenal sebagai tokoh NU gara-gara mesin pencarian google. Dengan sumber daya ekonominya, dia mampu memobilisasi media massa untuk membangun identitas barunya sebagai tokoh NU.
Mereka yang rajin memborbardir ruang siber dengan tulisan-tulisan robot sebetulnya sedang membawa dunia pada krisis otentisitas yang parah, pada erosi keaslian manusia.
Saya punya pengalaman pribadi mengirim opini ke sebuah media massa. Seperti biasa tulisan saya dimuat dan dishare kemana-mana. Tau-tau saya dikirimi pesan WA oleh teman lama, “bang, kamu kok ketularan jadi robot? Tulisanmu tidak otentik, terlalu sempurna, jelas kalau hasil copas AI”. Maka saya buka kembali tulisan itu, ternyata oleh redaksi medianya sudah diubah menjadi bukan bahasa saya, tapi sangat halus dan sempurna, khas AI. Saya telepon redaksi medianya, beliau minta maaf dan tidak pernah diulangi lagi.
Jadi mediapun terkadang mengubah tulisan orang dengan teknologi AI dengan prompt “ubahlah bahasa dan gaya tulisan ini sedemikian rupa sehingga dapat mendominasi mesin pencarian google”.
Di tengah banjirnya penulis dan pujangga instan berbasis copas AI ini, saya senang melihat penulis-penulis lama seperti Dahlan Iskan, Rosadi Jamani dan lain-lainnya masih sering menginfakkan tulisannya di media sosial.
*) Penulis adalah Juara Nasional Lomba Penulisan Ilmiah Piala Menteri Negara Agraria Tahun 1996.


