https://www.facebook.com/share/p/1QXwkaRQEN/
Menghormati atau memuliakan orang dengan cara membungkukkan badan tidak boleh di dalam islam berdasarkan hadits yang shahih dan fatwa para ulama.
Dari Anas bin Malik, kami bertanya kepada Nabi:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِى بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ « لاَ ». قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لاَ وَلَكِنْ تَصَافَحُوا
“Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada orang yang dia temui?”
Rasulullah bersabda: “Tidak boleh!”
Kami bertanya lagi, “Apakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?”
Nabi bersabda: “Tidak boleh. Yang benar hendaknya kalian saling berjabat tangan.” (HR Ibnu Majah no 3702)
Dan berkata Anas Bin Malik radhiyallahu anhu,
يا رسول الله الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له؟ قال: لا.
“Wahai Rasulullah ada seorang di antara kami berjumpa dengan saudaranya atau temannya, apakah dia boleh MEMBUNGKUKKAN badan kepadanya?”
Jawaban Nabi, “Tidak boleh.” (HR. Tirmidzi).
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Seorang laki-laki bertanya,
يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ؟ قَالَ: “لَا”، قَالَ: أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: “لَا”، قَالَ: أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: “نَعَمْ”
“Wahai Rosululloh, seseorang dari kami bertemu saudaranya, atau kawannya, apakah dia membungkuk (untuk menghormatinya)?”
Beliau menjawab: “Tidak”.
Dia bertanya lagi: “Apakah dia memeluknya dan menciumnya?”
Beliau menjawab: “Tidak”.
Dia bertanya lagi: “Apakah dia memegangi satu tangannya dan berjabat tangan?”
Beliau menjawab: “Ya”.
(HR. Tirmidzi, no. 2728; Ahmad, no. 13044. Ash-Shohihah, no. 160)
Dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata: Ketika Mu’adz datang dari Syam, dia bersujud kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Beliau bersabda:
مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Apa ini hai Mu’adz?!”
Mu’adz menjawab: “Aku mendatangi kota Syam, aku mendapati mereka bersujud kepada uskup-uskup dan panglima-panglima perang mereka. Maka aku menginginkan dalam hatiku, agar kami melakukannya terhadap anda”.
Maka Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu lakukan! Sesungguhnya jika aku memerintahkan seseorang sujud kepada selain Allah, niscaya aku perintahkan istri agar sujud kepada suaminya”.
(HR. Ibnu Majah no: 1853. Irwa’ul Ghalil 7/55-58)
Berkata Imam Ibnu ‘Allan Asy Syafi’iy rahimahullah,
ومن البدع المحرمة الانحناء عند اللقاء بهيئة الركوع.
Termasuk bid’ah yang diharamkan adalah penghormatan saat berjumpa dengan cara MEMBUNGKUK. (Dalilul Falihin, 6/181).
Berkata Imam Al Bujairimi Asy Syafi’iy rahimahullah,
الانحناء لمخلوق كما يفعل عند ملاقاة العظماء حرام عند الإطلاق أو قصد تعظيمهم لا كتعظيم الله، وكفر إن قصد تعظيمهم كتعظيم الله تعالى
MEMBUNGKUK kepada makhluk, sebagaimana yang dilakukan saat berjumpa dengan para pejabat adalah haram secara mutlak.
Atau untuk memuliakan mereka, walau tidak seperti mengagungkan Allah. Jika sampai seperti mengagungkan Allah maka itu kafir. (Hasyiyah Al Bujairimi ‘Alal Khathib, 4/241).
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,
وَأَمَّا الِانْحِنَاءُ عِنْدَ التَّحِيَّةِ: فَيُنْهَى عَنْهُ كَمَا فِي التِّرْمِذِيِّ {عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ سَأَلُوهُ عَنْ الرَّجُلِ يَلْقَى أَخَاهُ يَنْحَنِي لَهُ؟ قَالَ: لَا}
Adapun membungkukan badan ketika penghormatan, terlarang darinya, sebagaimana didalam hadits riwayat Imam Tirmidzi (dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bahwasanya mereka (para sahabat) bertanya kepada Beliau, tentang seseorang yang berjumpa dengan saudaranya apakah harus membungkukan badan kepadanya? Beliau menjawab : tidak boleh).
وَلِأَنَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ لَا يَجُوزُ فِعْلُهُ إلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؛ وَإِنْ كَانَ هَذَا عَلَى وَجْهِ التَّحِيَّةِ فِي غَيْرِ شَرِيعَتِنَا كَمَا فِي قِصَّةِ يُوسُفَ: ( {وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ} .
Karena sesungguhnya ruku’ dan sujud melakukannya tidak boleh, kecuali hanya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, dan jika ini dalam rangka penghormatan pada syari’at sebelum kita sebagaimana pada kisah Nabi Yusuf (Dan mereka (saudara nabi Yusuf semuanya) bersimpuh seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu” (QS Yusuf : 100))
وَفِي شَرِيعَتِنَا لَا يَصْلُحُ السُّجُودُ إلَّا لِلَّهِ بَلْ قَدْ تَقَدَّمَ نَهْيُهُ عَنْ الْقِيَامِ كَمَا يَفْعَلُهُ الْأَعَاجِمُ بَعْضُهَا لِبَعْضِ فَكَيْفَ بِالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ؟ وَكَذَلِكَ مَا هُوَ رُكُوعٌ نَاقِصٌ يَدْخُلُ فِي النَّهْيِ عَنْهُ
Dan didalam syari’at kita, sujud tidak pantas kecuali hanya kepada Allah, bahkan sungguh telah berlalu tentang larangannya berdiri (dalam rangka menghormati) sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang-orang non Arab kepada sebagian yang lainnya, maka bagaimana lagi apabila ruku’ dan sujud ? Dan demikian sedikit ruku’ (agak membungkukan badan) termasuk dalam larangan ini” (Majmu’ Al-Fatawa 1/377).
Lajnah Ad-Daaimah ditanya,
ما حكم انحناء الرأس لمسلم عند التحية ؟
Apa hukum membungkukkan kepala kepada seorang muslim untuk penghormatan?
Mereka menjawab,
لا يجوز لمسلم أن يحني رأسه للتحية ، سواء كان ذلك لمسلم أو كافر ؛ لأنه من فعل الأعاجم لعظمائهم ، ولأنه شبيه بالركوع ، والركوع تحية وإعظاما لا يكون إلا لله “.
Tidak boleh bagi seorang muslim membungkukkan kepalanya untuk penghormatan, sama saja, baik untuk orang muslim ataupun untuk orang kafir. Karena sesungguhnya itu adalah perbuatan orang-orang ajam (non arab) kepada pembesar mereka. Dan bahwasannya itu menyerupai ruku’, sedangkan ruku’ adalah bentuk penghormatan dan pengagungan yang tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah. (Fatwa Lajnah Ad-Daaimah 26/116).
Sedangkan berdiri untuk memuliakan atau menghormati orang, ini pun terlarang. Seperti ada orang, ulama, pejabat atau penguasa duduk di depan, kemudian berdiri untuk menghormati atau memuliakannya. Berdasarkan hadits dibawah ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من أحب أن يمثل له الرجال قياما فليتبوأ مقعده من النار
“Barangsiapa yang suka seseorang berdiri untuknya, maka persiapkanlah tempat duduknya di neraka”. (HR. Abu Dawud : 5229, At-Tirmidzi: 2753, Ahmad 4/93, Al-Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad :977 dan Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahaan 1/219; Silsilah Shohihah I/627).
Berkata Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu :
ما كان شخص أحب إليهم رؤية من النبي صلى الله عليه وسلم وكانوا إذا رأوه لم يقوموا إليه لما يعلمون من كراهيته لذلك
“Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para shahabat) cintai saat melihatnya selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Namun jika melihat beliau, mereka tidak pernah berdiri karena mereka mengetahui kebencian beliau atas hal itu”. (HR. Al-Bukhari Al-Adabul-Mufrad: 946, At-Tirmidzi: 2754 dan Asy-Syamaail:335, Ibnu Abi Syaibah 8/586, Ahmad 3/132 & 134 & 151 & 250, Abu Ya’laa no. 3784, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Atsar no. 1126).
Berdiri yang diperbolehkan syari’at adalah berdiri ketika menyambut tamu yang datang. Dan yang berdiri untuk menyambut tamu yang datang, itu pun hanya tuan rumah saja.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri ketika menyambut Fatimah radhiyallahu anha datang ke kediamannya. Dan juga ketika menyambut Sa’ad bin Mu’adz Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kepada kaum Anshar untuk berdiri menyambutnya.
عن عائشة قالت: كن أزواج النبي صلى الله عليه وسلم عنده. لم يغادر منهن واحدة. فأقبلت فاطمة تمشي. ما تخطئ مشيتها من مشية رسول الله صلى الله عليه وسلم شيئا. فلما رآها رحب بها. فقال “مرحبا بابنتي” ثم أجلسها عن يمينه أو عن شماله.
Dari ‘Aisyah ia berkata : “Suatu ketika para istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di sisi beliau tanpa ada seorang istri pun yang tertinggal. Maka datanglah Fathimah dengan berjalan kaki yang cara berjalannya tidak berbeda sedikit pun dengan cara berjalannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah beliau melihatnya, beliau menyambutnya dengan mengucapkan : ‘Selamat datang putriku’” [HR. Al-Bukhari 3623 dan Muslim no. 2450].
Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda kepada orang-orang Anshar:
قوموا الى سيدكم
“Berdirilah kalian untuk pemimpin kalian.” (HR. Muttafaq’ Alaih, Al-Bukhari no. 6262, Muslim no. 1768, dan Abu Dawud no. 5215)
Berkata Imam An-Nawawi rahimahullah,
القيام لأهل الفضل وذوي الحقوق فضيلة على سبيل الإكرام، وقد جاءت به أحاديث صحيحة، وقد جمعتها من أثار السلف وأقاويل العلماء في ذلك، والجواب عما جاء مما يوهم معارضتها وليس معارضا، وقد أوضحت كل ذلك في جزء معروف، فالذي نختاره ونعمل به واشتهر عن السلف من أقوالهم وأفعالهم، جواز القيام واستحبابه في الوجه الذي ذكرناه…
“Berdiri karena menghormati tamu agung atau orang yang sepantasnya dihormati termasuk perbuatan mulia dengan maksud menghormati mereka. Ada banyak hadits shahih terkait permasalahan ini. Saya telah mengumpulkan pandangan-pandangan orang-orang saleh dan perkataan ulama tentangnya. Saya juga menjawab penyelesaian dalil yang dianggap kontradiksi, padahal sejatinya tidak terdapat kontradiksi dalil dalam kasus ini. Saya telah menjelaskan semuanya pada bagian yang cukup populer. Pendapat yang kami pilih dan kami amalkan, pendapat ini juga didukung oleh pernyataan ulama salaf, baik berupa perkataan maupun tindakan, adalah boleh dan dianjurkan berdiri untuk menghormati kedatangan seseorang sebagaimana yang telah disebutkan. (Fatwa An Nawawi).
Berkata Ibnu Qutaibah rahimahullah,
وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِهِ نَهْيَ الرَّجُلِ عَنِالْقِيَامِ لِأَخِيهِ إِذَا سَلَّمَ عَلَيْهِ وَاحْتَجَّ بن بَطَّالٍ لِلْجَوَازِ بِمَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ عَائِشَةَ بِنْتِ طَلْحَةَ عَنْ عَائِشَةَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى فَاطِمَةَ بِنْتَهُ قَدْ أَقْبَلَتْ رَحَّبَ بِهَا ثُمَّ قَامَ فَقَبَّلَهَا ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهَا حَتَّى يُجْلِسَهَا فِي مَكَانِهِ
Hadits ini bukan bermaksud larangan seseorang berdiri untuk memuliakan saudaranya jika dia salam kepadanya.
Ibnu Baththal berhujjah kebolehan berdiri berdasarkan riwayat An Nasa’i, dari jalur Aisyah binti Thalhah, dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam jika melihat putrinya – Fathimah- dia akan menyambutnya, lalu berdiri dan menciumnya, dan memegang tangannya serta membawanya duduk ke tempatnya. (Fathul Baari).
Abu Fadhel Majalengka
(gwa-majelis-ilmu-3).


