Google search engine
HomeEkbisKetika Semua Kaya, Tidak Ada Lagi yang Disebut Paling Kaya

Ketika Semua Kaya, Tidak Ada Lagi yang Disebut Paling Kaya

KAYA, MISKIN, DAN PEMBANDING: MENGAPA KESEJAHTERAAN HARUS DILIHAT DARI KONTEKS MASYARAKAT?

Oleh : Basa Alim Tualeka (Aslim)

Dalam kehidupan masyarakat, istilah kaya dan miskin pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Keduanya sering dipahami melalui perbandingan kondisi ekonomi, sosial, kesempatan, dan kualitas hidup di antara anggota masyarakat. Karena itu, sebuah pemikiran menarik dapat diajukan: jika dalam suatu daerah semua orang kaya, maka tidak ada lagi yang dianggap luar biasa kaya; jika semua orang miskin, maka tidak ada lagi yang disebut paling miskin; tetapi ketika dalam satu daerah terdapat orang kaya dan orang miskin, muncullah pembanding yang membuat perbedaan itu terlihat jelas.

Gagasan tersebut bukan berarti kemiskinan atau kekayaan tidak mempunyai ukuran objektif. Dalam ilmu ekonomi, seseorang dapat dikategorikan miskin berdasarkan garis kemiskinan, pendapatan, kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, kepemilikan aset, maupun akses terhadap layanan publik. Namun dalam kehidupan sosial, manusia juga mengenali status ekonominya melalui perbandingan dengan lingkungan di sekitarnya.

Dengan demikian, persoalan yang lebih penting bukan sekadar siapa kaya dan siapa miskin, melainkan mengapa terjadi kesenjangan dan bagaimana masyarakat membangun kesejahteraan bersama.

1. Semua Kaya: Kekayaan Menjadi Kondisi Normal

Bayangkan sebuah daerah yang seluruh penduduknya memiliki rumah layak, pendidikan tinggi, pekerjaan yang baik, penghasilan mencukupi, akses kesehatan, kendaraan, tabungan, dan aset produktif.

Dalam kondisi tersebut, tidak mudah menunjuk seseorang sebagai “orang kaya” hanya karena ia memiliki banyak harta. Sebab hampir semua orang berada dalam kondisi ekonomi yang relatif baik.

Orang yang memiliki sepuluh rumah mungkin dianggap lebih kaya daripada orang yang memiliki tiga rumah. Tetapi jika hampir seluruh masyarakat memiliki aset yang banyak, maka kekayaan tersebut menjadi sesuatu yang relatif biasa.

Di sinilah terlihat bahwa kehebatan ekonomi seseorang tidak hanya ditentukan oleh jumlah kekayaannya, tetapi juga oleh posisi kekayaan tersebut dibandingkan dengan masyarakat di sekitarnya.

Namun, masyarakat ideal bukanlah masyarakat yang sengaja menciptakan kemiskinan agar orang kaya terlihat hebat. Justru sebaliknya, cita-cita pembangunan adalah meningkatkan kesejahteraan sehingga sebanyak mungkin masyarakat dapat hidup layak.

2. Semua Miskin: Kemiskinan Menjadi Kondisi Bersama

Sebaliknya, bayangkan suatu daerah yang hampir seluruh penduduknya hidup dalam kekurangan. Rumah tidak layak, lapangan pekerjaan terbatas, pendidikan rendah, pelayanan kesehatan sulit dijangkau, dan pendapatan masyarakat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam keadaan seperti itu, mungkin sulit menemukan seseorang yang disebut “paling miskin” karena hampir semua orang mengalami persoalan yang sama.

Tetapi hal tersebut bukan berarti daerah itu bebas dari kemiskinan. Justru sebaliknya, kondisi tersebut menunjukkan kemiskinan struktural yang dialami secara luas.

Ini penting. Jangan sampai masyarakat menganggap, “Karena semua orang miskin, berarti tidak ada masalah.” Justru apabila kemiskinan dialami hampir seluruh penduduk, pemerintah harus melihatnya sebagai persoalan pembangunan yang serius.

Kemiskinan tidak menjadi hilang hanya karena tidak ada pembanding yang lebih kaya.

3. Ketika Kaya dan Miskin Hidup Berdampingan

Situasi yang paling mudah terlihat adalah ketika dalam satu daerah terdapat kelompok yang sangat kaya dan kelompok yang sangat miskin.

Seseorang memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, usaha besar, tanah luas, dan berbagai investasi. Tidak jauh dari tempat tersebut, ada keluarga yang rumahnya tidak layak, sulit membayar biaya pendidikan, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan makanan.

Perbedaan tersebut membuat kesenjangan menjadi sangat nyata.

Masyarakat kemudian bertanya: mengapa seseorang bisa memiliki kekayaan yang begitu besar sementara orang lain masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar?

Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan iri hati. Dalam negara demokratis dan berkeadilan sosial, pertanyaan itu merupakan pertanyaan kebijakan publik.

Pemerintah harus memastikan bahwa kesempatan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan perlindungan sosial dapat diakses masyarakat secara adil.

4. Perbandingan Dapat Menjadi Motivasi, tetapi Juga Dapat Menjadi Masalah

Perbandingan dalam masyarakat mempunyai dua sisi.

Sisi pertama adalah motivasi. Melihat seseorang berhasil dapat mendorong orang lain untuk belajar, bekerja keras, berusaha, berinovasi, dan meningkatkan kehidupannya.

Anak seorang petani dapat melihat seorang sarjana sebagai inspirasi. Anak dari keluarga sederhana dapat melihat pengusaha sukses sebagai contoh bahwa kerja keras, pendidikan, dan kreativitas dapat membuka peluang.

Tetapi sisi kedua adalah kesenjangan yang tidak sehat.

Jika perbedaan kekayaan terlalu ekstrem, sementara kesempatan untuk memperbaiki kehidupan tidak tersedia secara adil, maka perbandingan dapat melahirkan kecemburuan sosial, konflik, kriminalitas, bahkan hilangnya kepercayaan kepada pemerintah.

Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya mengatakan, “Orang miskin harus bekerja keras.” Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah masyarakat miskin memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja keras dan berhasil?

5. Kekayaan Individual Harus Berjalan Bersama Kesejahteraan Sosial

Orang kaya tidak perlu dipandang sebagai musuh orang miskin. Sebaliknya, orang kaya dapat menjadi bagian penting dalam pembangunan apabila kekayaannya diperoleh secara legal, produktif, dan bermanfaat.

Pengusaha menciptakan lapangan pekerjaan. Investor membangun usaha. Petani menghasilkan pangan. Nelayan menyediakan hasil laut. Profesional menyediakan keahlian. Semua mempunyai peran dalam menciptakan nilai ekonomi.

Masalah muncul ketika kekayaan diperoleh melalui korupsi, monopoli, eksploitasi, manipulasi, atau penguasaan sumber daya yang menghilangkan kesempatan masyarakat lainnya.

Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi tidak seharusnya hanya berbunyi: “Berapa banyak orang kaya yang lahir?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Berapa banyak masyarakat yang berhasil keluar dari kemiskinan?”

6. Daerah Ideal Bukan Semua Sama Kaya, tetapi Semua Layak Hidup

Masyarakat tidak harus memiliki kekayaan yang sama persis.

Ada orang yang memiliki kemampuan bisnis luar biasa. Ada yang menjadi dokter, profesor, pengusaha, petani, nelayan, pedagang, pekerja, seniman, atau profesi lainnya.

Perbedaan pendapatan merupakan sesuatu yang dapat terjadi karena perbedaan keahlian, produktivitas, risiko, modal, tanggung jawab, dan kesempatan.

Yang harus diperjuangkan adalah kesetaraan kesempatan, bukan keseragaman hasil.

Daerah yang ideal adalah daerah di mana tidak ada orang yang terjebak dalam kemiskinan ekstrem; anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik; masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan; tersedia lapangan pekerjaan; usaha kecil dapat berkembang; dan masyarakat mempunyai kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup.

Dengan demikian, tujuan pembangunan bukan membuat semua orang mempunyai jumlah kekayaan yang sama, tetapi memastikan tidak ada warga yang ditinggalkan oleh pembangunan.

7. Pendidikan Menjadi Jembatan antara Miskin dan Sejahtera

Salah satu pembanding paling penting dalam kehidupan masyarakat adalah pendidikan.

Pendidikan dapat mengubah seseorang dari keluarga miskin menjadi profesional, pengusaha, ilmuwan, pemimpin, atau tenaga ahli. Karena itu, pendidikan merupakan salah satu instrumen mobilitas sosial.

Namun pendidikan yang berkualitas tidak boleh hanya menjadi hak keluarga kaya.

Jika hanya orang kaya yang dapat memperoleh pendidikan terbaik, maka kekayaan akan diwariskan menjadi kekayaan, sementara kemiskinan juga berpotensi diwariskan menjadi kemiskinan.

Di sinilah negara memiliki tanggung jawab besar.

Pendidikan yang bermutu, beasiswa, pelatihan keterampilan, akses teknologi, dan kesempatan kerja harus menjadi bagian dari strategi memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

8. Pemerintah Harus Mengurangi Kesenjangan Kesempatan

Pemerintah tidak harus menghapus semua perbedaan kekayaan. Yang harus dikurangi adalah ketidakadilan dan kesenjangan kesempatan.

Kebijakan publik harus diarahkan pada beberapa hal: menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas akses kesehatan, memperkuat UMKM, membangun infrastruktur, memberikan perlindungan kepada kelompok rentan, serta memastikan sumber daya ekonomi tidak hanya dikuasai oleh segelintir kelompok.

Pembangunan daerah juga harus memperhatikan karakter lokal. Daerah pertanian membutuhkan kebijakan pertanian. Daerah kepulauan membutuhkan kebijakan kelautan dan transportasi. Daerah industri membutuhkan tenaga kerja terampil. Daerah wisata membutuhkan pengembangan ekonomi kreatif dan infrastruktur.

Dengan demikian, pembangunan tidak boleh menggunakan satu resep untuk semua daerah.

9. Dari “Siapa Paling Kaya?” Menjadi “Siapa yang Paling Bermanfaat?”

Masyarakat modern perlu mengubah ukuran keberhasilan.

Kekayaan memang penting, tetapi kekayaan bukan satu-satunya ukuran kehebatan manusia.

Orang yang mempunyai banyak uang tetapi tidak memberikan manfaat kepada masyarakat belum tentu lebih mulia daripada orang sederhana yang mendidik anak-anak, membantu tetangga, menciptakan pekerjaan, atau mengabdi kepada masyarakat.

Dalam perspektif Islam, ukuran kemuliaan manusia juga bukan semata-mata harta. Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Dengan demikian, kekayaan seharusnya menjadi alat untuk memperbesar kemanfaatan, bukan sekadar alat untuk menunjukkan perbedaan status.

10. Kesimpulan: Pembanding Penting, tetapi Keadilan Lebih Penting

Pernyataan bahwa “kalau semua orang kaya, tidak ada yang hebat; kalau semua orang miskin, tidak ada yang termiskin; kalau ada kaya dan miskin, ada pembandingnya” mengandung refleksi sosial yang menarik.

Kaya dan miskin memang sering dipahami secara relatif melalui perbandingan sosial. Namun kehidupan masyarakat tidak boleh berhenti pada persoalan siapa yang lebih kaya dan siapa yang lebih miskin.

Tujuan pembangunan yang lebih tinggi adalah membangun masyarakat sejahtera, produktif, berpendidikan, sehat, dan memiliki kesempatan yang adil.

Kita tidak perlu membuat orang miskin agar orang kaya terlihat hebat. Kita juga tidak perlu memusuhi orang kaya agar orang miskin merasa setara.

Yang harus dibangun adalah sistem sosial dan ekonomi yang memungkinkan orang miskin naik kelas, kelas menengah tumbuh kuat, orang kaya memperoleh kekayaannya secara adil, dan seluruh kekayaan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pada akhirnya, kehebatan suatu daerah bukan diukur dari seberapa banyak orang kayanya, tetapi dari seberapa sedikit orang yang ditinggalkan dalam kemiskinan dan seberapa besar kesempatan setiap warganya untuk menjadi manusia yang mandiri, cerdas, produktif, dan bermartabat.

Masyarakat yang hebat bukan masyarakat tanpa perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama. (Aalim)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments