Google search engine
HomePendidikanMenggagas ​Revitalisasi Peran NU dalam Gerakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Menggagas ​Revitalisasi Peran NU dalam Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Oleh: Firman Syah Ali

Hari ini (29/08/2026) di arena Muktamar NU berlangsung diskusi serius tentang operasionalisasi amar ma’ruf nahi munkar di tubuh NU. Diskusi ini digelar oleh Pengurus Besar Ikatan Alumni PMII di Griya Limasan Resto and Cafe.

Ternyata bukan hanya alumni PMII, namun aktivis NU seluruh Indonesia dari berbagai latar belakang aktivitas dan profesi tampak hadir dalam kegiatan tersebut, diantaranya Ahmad Fatori, dosen Fisipol Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Ahmad Fatori ini mantan Ketua Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PII) Jatim.

Tiga orang didapuk sebagai pemantik diskusi, yaitu Saya sendiri (penulis), Iqomussolihin (praktisi bisnis asal Demak), dan Syamsul Huda (Praktisi bisnis asal DKI).

Pemikiran yang berkembang dalam diskusi tersebut adalah lemahnya gerakan amar ma’ruf dan nahi munkar di tubuh NU terutama dalam mengawal pemberantasan kejahatan korupsi dan kartel. Forum sepakat bahwa sumber dari segala sumber kerusakan di Indonesia saat ini adalah korupsi dan kartel, dan NU belum cukup hadir dalam pengawalan kasus-kasus dua kejahatan besar tersebut. Pakar Hukum Tata Negara Mahfud MD juga pernah menyindir absennnya ormas-ormas Islam dalam perjuangan pemberantasan kemunkaran terutama Korupsi.

Forum menengarai penyebab kelemahan NU dalam gerakan amar ma’ruf nahi munkar tersebut adalah karena belum ada kemandirian sumber dana organisasi, sehingga ongkos operasionalisasi dan aktivitas organisasi diduga ditopang oleh para pelaku kemunkaran.

Oleh karena itu forum sepakat agar NU membangkitkan kembali semangat Nahdatut Tujjar sehingga terjadi kemerdekaan finansial. Warga NU harus dididik untuk merdeka dan berjaya secara finansial, punya skill yang luar biasa dalam enterpreneurship dan teknologi.

Untuk mencapai hal itu, perlu dilakukan redesign kurikulum kaderisasi di NU, Banom-banom NU dan PMII. Akhir-akhir ini peminat Mapaba PMII semakin menurun kemungkinan besar terkait dengan kurikulum kaderisasinya yang dinilai tidak kontekstual.

Forum menginginkan struktural NU jangan hidup didunianya sendiri, sentuhlah bumi, rasakan langsung kebutuhan akar rumput di perkampungan. Jangan sampai elit NU sibuk dengan proposal dan rebutan pos jabatan publik, sementara warga NU-nya yang buruh tani, miskin kota, guru honorer dan lain-lainnya hidup menderita di bawah kesewenang-wenangan para koruptor dan kartel.

Forum juga menyoroti maraknya bisnis ilegal termasuk rokok di Madura. Forum berpendapat bahwa dalam hal tersebut kesalahan bukan hanya di pihak pelaku bisnis ilegal, tapi ada unsur kegagalan pemerintah dalam mengayomi dan mempermudah bisnis legal.

Para pelaku bisnis di dalam forum tersebut sama-sama menyampaikan testimoni tentang sulit dan terseok-seoknya bisnis legal yang selama ini mereka tempuh.

Diantara pemberi feedback dalam forum tersebut adalah KH Syamsul Watoni dari Ngawi, Rozy dan Zain Habib dari Ormas Tretan Jombang, Insan Purnama dari PB IKA PMII, Anwar dari DKI Jakarta dan Yuni dari Korp PMII Puteri. Bertindak sebagai pemandu diskusi, Shofiyul Arif dari Demak Jawa Tengah.

*) Penulis adalah Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU/Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments