Reporter: Iffah Najwa Ulya
SURABAYA-kanalsembilan.com (31 Agustus 2026)
Lebih dari sekadar ruang tunggu, area keberangkatan kapal pesiar menjadi salah satu bagian penting untuk menentukan pengalaman penumpang. Berangkat dari pemikiran tersebut, mahasiswa Departemen Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang interior area keberangkatan di pelabuhan kapal pesiar, yakni Benoa Cruise Terminal, melalui konsep Balinese contemporary gateaway.
Penggagas desain tersebut, Usep Sopian, menjelaskan bahwa terminal penumpang konvensional masih menghadapi sejumlah tantangan. Selain alur sirkulasi yang kurang intuitif, suasana ruang tunggu juga cenderung monoton sehingga berpotensi meningkatkan kejenuhan penumpang.
“Saya ingin ruang transit menjadi bagian dari pengalaman perjalanan penumpang,” tutur Usep.
Bagi mahasiswa angkatan 2022 tersebut, pengalaman penumpang tidak hanya dipengaruhi oleh kenyaman ruang, tetapi juga kesan yang terbentuk selama berada di terminal keberangkatan.
Area keberangkatan ini menjadi ruang terakhir yang akan melekat dalam ingatan wisatawan sebelum meninggalkan daerah tersebut. “Desain interior itu adalah first and last impression bagi wisatawan,” ungkapnya.
Sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut, Usep menerapkan pendekatan neo-vernakular dengan sentuhan kontemporer pada rancangan interior terminal.
Pendekatan tersebut mengadaptasi esensi arsitektur Bali melalui penggunaan material lokal, pola geometris tradisional, serta proporsi ruang yang tetap selaras dengan kebutuhan fasilitas modern. “Nuansa Bali tetap terasa, tetapi tampil dengan lebih modern dan elegan,” jelasnya.
Tidak hanya pada aspek visual, rancangan tersebut juga menerapkan konsep human-centered design. Usep menyusun zoning, sirkulasi, pencahayaan, pemilihan material, hingga area komunal agar penumpang dapat menikmati waktu tunggu dengan lebih nyaman.
Melalui pendekatan tersebut, area keberangkatan tidak lagi sekadar menjadi ruang menunggu, tetapi sekaligus menghadirkan suasana yang lebih rileks sebagai kelanjutan pengalaman berwisata di Bali.
Dalam proses perancangannya, mahasiswa asal Sukabumi tersebut mengombinasikan studi literatur mengenai standar terminal internasional dan regulasi maritim dengan observasi berbagai referensi cruise terminal dunia.
Selanjutnya, Usep menyesuaikan hasil kajian tersebut dengan karakteristik Pelabuhan Benoa serta budaya lokal Bali agar menghasilkan rancangan yang selaras dengan karakter kawasan sekaligus memenuhi standar fasilitas internasional.
Melihat ke depan, Usep berharap konsep tersebut tidak berhenti sebagai karya akademik semata. Pendekatan yang menekankan pengalaman penumpang sekaligus identitas lokal diharapkan menjadi rujukan dalam pengembangan terminal maupun fasilitas publik di Indonesia.
Inovasi ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke‑9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke‑11 mengenai Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. (ulya/za).


