Google search engine
HomeTausiyahCak Firman: Di setiap Desa di Jawa Timur, ada nasab dekat saya

Cak Firman: Di setiap Desa di Jawa Timur, ada nasab dekat saya

SURABAYA-kanalsembilan.com (2026)

Kemarin tanggal 4 Oktober 2026 Firman Syah Ali (Cak Firman Arek IPNU) baru saja menyelesaikan Safari Nasab Seri 1-5, dengan mengunjungi nasab dekatnya dari berbagai jalur kakek bersama (Bhuju’/Buyut/Sunan) di Kawasan Tapal Kuda Jawa Timur. Kawasan Tapal Kuda adalah kawasan dari Pasuruan hingga Banyuwangi yang dalam peta berbentuk seperti tapal kuda. Kawasan ini bisa juga disebut sebagai kawasan Madura Pandalungan.

Sasaran kunjungan pertamanya adalah saudara-saudaranya dari Bani Joyolelono di kawasan Beringin Raya, Leces Probolinggo, diantara tokoh yang menemui adalah Lora Khoiri, Kyai Darisin dan lain-lainnya.

Setelah itu Cak Firman Arek IPNU bergerak ke Klalah Lumajang. Di Klakah CK Firman bertemu dengan keluarganya dari Bani Rabah.

Dari Klakah ia langsung ke Jember menghadiri pertemuan para aktivis pergerakan lintas generasi, dengan tema Merawat Ingatan, Membaca Zaman dan Menggerakkan Perubahan, diantara tokoh yang hadir adalah H Imam Nahrawi mantan Menpora RI, Thoriqul Haq mantan Bupati Lumajang dan M Nur Purnamasidi DPR RI.

Dari Jember Cak Firman bergerak ke Bondowoso, menemui jaringan keluarganya di Jambesari Bondowoso, yaitu keluarga besar Cak Dayat (DPRD Bondowoso), suami RA Faizah.

Dari Bondowoso, Cak Firman bergerak ke Asembakor Kraksaan, Probolinggo melakukan takziyah dan silaturrahim dengan keluarganya di Asembakor, diantaranya R Junaidi Abdillah dan R Zainullah.

Seusai dari Asembakor, Cak Firman menutup safarinya dengan ziarah ke makam KHR Badri Mashduqi, pendiri Ponpes Badridduja Kraksaan Probolinggo, dan sowan ke Pamannya, KHR Tauhidullah Badri (Kyai Tohed) sebagai Pengasuh Ponpes Badridduja.

Seusai dari Ponpes Badridduja, Cak Firman menyampaikan pernyataan ke media.

“Alhamdulillah saya baru saja menyelesaikan safari nasab dan tour de bhuju’ keliling kawasan Tapal Kuda Jawa Timur. Kyai-kyai Kawasan Tapal Kuda Jawa Timur rata-rata keluarga saya dari trah Bhuju’-bhuju’ Madura. Bhuju’ adalah sebutan tradisional orang Madura untuk tokoh waliyulllah dan ulama yang garis genealogi dan teo-sosiologisnya terus tersambung hingga ke Kyai-kyai, gus dan lora dan Raden hari ini” ucap keponakan Mahfud MD.

Ia juga menjelaskan bahwa hampir di setiap desa se Jawa Timur ada nasab dekatnya.

“Alhamdulilah, hampir di setiap desa di Jawa Timur ada keluarga dekat saya, baik sebagai tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, maupun tokoh petani. Lengkap. Ini semua karunia dari Allah karena saya dilahirkan sebagai keturunan Bhuju’-bhuju’ besar Madura dari perkawinan silang buyut-buyut saya. Diantara bhuju’ saya adalah Pangeran Katandur, Bhuju’ Cendana, Bhuju’ Abdul Qidam, Tumenggung Kanduruhan Raja Sumenep, Bhuju’ R Azhar Bagandan, Bhuju’ Agung Toronan, Bhuju’ Parangghan, Bhuju’ Bandungan, Bhuju’ Batuampar, Bhuju’ Macan Alas, Bhuju’ Nuruddin Plakpak, Bhuju’ Montor Plakpak, Bhuju’ Dangdangbiring Bulangan Haji, Bhuju’ Rabah, Bhuju’ Mataram Pademawu dan banyak lagi lainnya,” lanjut Aktivis ’98.

Ia kemudian menjelaskan kenapa terkesan bhuju’nya banyak sekali.

“Bhuju’ saya terkesan banyak sekali, seolah hampir semua bhuju’ adalah Bhuju’ saya, karena dulu kakek nenek, buyut-buyut saya melakukan endogami, pernikahan silang antar aristokrat, antar potoh bhuju, lintas trah, baik aristokrat kraton maupun aristokrat agama” lanjut Pengurus Pusat IPNU.

Ia juga ungkapkan tujuan safari nasab tour de bhuju’ 2026

“Tujuan saya melakukan semua ini adalah untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW sebagai Bhuju’ dari semua bhuju’ saya, serta mengikuti jejak para bhuju’ saya yang suka berkelana keliling dunia menyambung silaturrahmi lintas trah dalam satu nasab. Memang klan Quraisy beserta segenap keturunannya itu suka melakukan perjalanan (rihlah), digambarkan oleh Al-Qur’an, hadits dan data sejarah” lanjut Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP).

“Tujuan berikutnya adalah untuk membangun sinergi antar kekuatan besar Bani Bhuju’ dalam merawat bangsa Indonesia dan membangun Jawa Timur tercinta. Nasab Bani Bhuju’ rata-rata menjadi tokoh di lingkungannya masing-masing, dari pengasuh pesantren besar hingga kyai kampung, eman kalau kekuatan besar ini tidak dikonsolidasikan untuk kemanfaatan dan kemashlahatan yang lebih besar” pungkas Panglima Nahdliyyin Bergerak (NABRAK).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments