SURABAYA-kanalsembilan.com (19 Oktober 2026)
Transformasikan sistem peternakan konvensional menjadi modern yang efisien, produktif, dan terintegrasi, tim mahasiswa dari Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan inovasi bernama Futechi Farm. Melalui sistem kandang ayam petelur yang cerdas berbasis otomasi Internet of Things (IoT), diharapkan menjadi solusi efektif untuk permasalahan peternak lokal.
Tim inovator Futechi Farm terdiri dari Muhammad Samsuddin, Khoerunnisa Utami, Yusran Ardian Hamissy, Risky Firmansyah, Muhammad Tabranie, Osama Ilham Prasetya Putra, dan Achmad Rizky Tri Wibowo. Ketujuh anggota tim tersebut merupakan mahasiswa program S1 dan S2 Teknik Mesin ITS.
Muhammad Samsuddin selaku Ketua Tim Inovator mengungkapkan bahwa sebagian peternak ayam petelur masih mengandalkan tenaga manusia dalam aktivitas peternakan sehari-hari. “Kondisi tersebut tentunya menghabiskan waktu, tenaga kerja, hingga biaya operasional yang sangat besar, khususnya pada peternakan dengan skala yang besar,” bebernya.
Menjawab persoalan yang ada di lapangan, Futechi Farm andalkan sistem yang mengintegrasikan sejumlah proses peternakan, mulai dari pemberian pakan otomatis, pemantauan suhu, pengumpulan telur otomatis, hingga mendeteksi ayam yang sakit. “Pemberian pakan dapat dilakukan secara otomatis dan terjadwal yang dapat dikendalikan melalui panel kontrol ataupun ponsel pintar,” terang Samsuddin.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam sistem yang dirangkai timnya, terdapat pengaturan jadwal vaksinasi dan sterilisasi untuk mendukung kesehatan dan sanitasi peternakan yang teratur. Peternak dapat mengandalkan fitur tersebut untuk menjalankan kegiatan perawatan sesuai jadwal yang ditetapkan sesuai usia ayam.
Selain itu, tim inovator juga memanfaatkan kecerdasan buatan dalam membantu peternak mendeteksi indikasi penyakit pada ayam dalam populasi tinggi. Dengan demikian, Futechi Farm tidak hanya membantu dalam pencegahan, namun juga menekan efisiensi waktu dan tenaga. “Adanya fitur ini memungkinkan bagi peternak untuk mengobati ayam sebelum jatuh sakit dan produksi telur dapat tetap optimal,” papar Samsuddin.
Berbeda dengan model kandang konvensional pada umumnya yang masih menggunakan bambu, tim Futechi Farm ini memanfaatkan material weld mesh pada kandang. Struktur ini memungkinkan kotoran ayam akan langsung jatuh ke bagian bawah kandang, sehingga proses pembersihan dan pemeliharaan menjadi lebih praktis.
Teknologi Futechi Farm juga ditekankan untuk meningkatkan produktivitas, menekan biaya operasional dengan penggunaan pakan dan mengintegrasikan pengelolaan kotoran ayam dengan kolam lele. Konsep ini, menurut mahasiswa S2 Teknik Mesin ITS tersebut, dikembangkan sesuai kapasitas usaha peternakan kecil dan menengah.
Selain manfaat teknis dan ekonomis, Futechi Farm juga membawa misi pemberdayaan peternak. Sebagai seorang profesional Manufacturing Designer, Samsuddin ingin teknologi modern tidak hanya dimanfaatkan oleh industri peternakan dengan skala besar. “Jadi, kami mendorong transformasi peternakan konvensional menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan demi penguatan ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Inovasi yang dikembangkan melalui riset pada awal Januari 2026 itu mencatatkan keberhasilan melalui penjualan perdana sebanyak dua unit platform senilai Rp 70 juta ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Tak hanya itu, proyek bisnis binaan Inkubator dan Layanan Bisnis Inovativ (ILBI) Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) ITS ini juga berhasil menjual satu unit senilai Rp 35 juta ke Papua. “Pencapaian ini tidak terlepas dari dukungan pendanaan Asian Development Bank (ADB) dan ITS melalui program HETI, serta pendampingan bisnis dari ILBI,” ungkap Samsuddin.
Selaras dengan itu, Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD sampaikan bahwa ITS terus mendorong agar riset tidak berhenti pada sekadar konsep akademik semata. Melalui pendanaan, pembinaan, serta kemitraan yang ada, ITS ingin setiap inovasi yang hadir dapat menjawab tantangan masyarakat dan pemerintah dalam berbagai sektor. “Selalu saya dorongkan peran mahasiswa dan lulusan ITS untuk memberikan dampak nyata bagi pengembangan SDM dan perekonomian nasional,” pungkas Bambang.
Ke depannya, Samsuddin bersama tim berencana mentransformasikan Futechi Farm dari sekadar teknologi otomatisasi peternakan menjadi ekosistem digital yang mampu menggabungkan seluruh aktivitas bisnis. Mulai dari proses produksi hingga akses pasar dan pembiayaan usaha, seperti integrasi sensor penghitung telur pada conveyor untuk mencatat jumlah produksi harian secara otomatis pada aplikasi Futechi Farm.
Ada juga rencana pengembangan sistem distribusi pakan otomatis dari gudang menuju kandang, pendampingan peternakan berbasis usia dan kebutuhan ayam, hingga inovasi pakan berbasis mikroalga melalui kolaborasi riset dengan dosen Departemen Biologi ITS. Lebih lanjut, pengembangan platform pemasaran yang menghubungkan peternak secara langsung dengan pembeli berskala besar juga akan dilakukan. “Kami ingin Futechi Farm menjadi sarana yang mempertemukan peternak dengan distributor maupun mitra industri yang lebih luas,” harap Samsuddin.
Pengembangan inovasi tim mahasiswa Teknik Mesin ini menjadi bukti bagaimana ITS menciptakan ekosistem akademik yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Antara lain pada SDG 8 terkait Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur; serta SDG17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (za).


