POLITIK MENCARI MUKA, MENCARI JABATAN, DAN MENGEJAR KEKUASAAN
Oleh : Obasa Aleka
Dalam kehidupan politik, organisasi, dan pemerintahan, kita mengenal berbagai karakter manusia. Ada yang berjuang karena idealisme, pengabdian, dan kepentingan rakyat. Namun, ada pula yang menjadikan politik sebagai kendaraan untuk mencari muka, mengejar jabatan, mendapatkan kekuasaan, dan memperoleh keuntungan pribadi.
Ada beberapa wajah politik kepentingan yang sering kita jumpai:
* Politik mencari muka: selalu berusaha menyenangkan pemimpin demi mendapatkan perhatian dan kepercayaan.
* Politik mencari jabatan: aktif dalam organisasi bukan karena pengabdian, melainkan mengincar posisi.
* Politik penjilat: selalu membenarkan perkataan dan tindakan atasan, meskipun belum tentu benar.
* Politik oportunis: berpindah haluan mengikuti arah kekuasaan dan peluang keuntungan.
* Politik transaksional: memberikan dukungan karena mengharapkan imbalan jabatan, proyek, atau fasilitas.
* Politik bermuka dua: menampilkan kesetiaan di depan, tetapi menyimpan kepentingan berbeda di belakang.
* Politik balas jasa: membagikan jabatan berdasarkan kedekatan, bukan kompetensi.
* Politik menghalalkan segala cara: mengorbankan etika, persahabatan, bahkan hukum demi kekuasaan.
Sesungguhnya, loyalitas tidak sama dengan penjilatan. Loyalitas adalah kesetiaan terhadap prinsip, cita-cita, aturan, dan tujuan organisasi. Orang yang loyal berani menyampaikan kritik demi kebaikan. Sebaliknya, penjilat hanya menyampaikan apa yang ingin didengar oleh pemimpin.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 58 agar amanah diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kehancuran akan terjadi apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (HR. Bukhari).
Kata OBASA:
Jangan menjadi budak jabatan dan kekuasaan. Jangan menjual harga diri demi kedekatan dengan penguasa. Jangan mengorbankan prinsip demi mendapatkan posisi.
Jabatan memiliki batas waktu, kekuasaan memiliki masa akhir, tetapi integritas dan kehormatan akan menjadi catatan sejarah.
Carilah prestasi, bukan pujian. Bangunlah kepercayaan, bukan penjilatan. Perjuangkan pengabdian, bukan sekadar jabatan. Sebab, kualitas manusia tidak diukur dari seberapa tinggi kekuasaannya, melainkan dari seberapa besar manfaat dan tanggung jawabnya.
OBASA – Pengamat Sosial Politik dan Ahli Kebijakan Publik.


