SEMANGAT PAGI
Mengeluarkan uang untuk ngafe atau ngopi terasa ringan bagi kita. Bahkan, atas nama prestis, kita tidak merasa perlu mempertanyakan logis atau tidak harganya.
Kita juga jarang mempertanyakan: apakah barang yang dijual di mall masuk akal atau tidak harganya. Sebab, kita selalu bisa mencari pembenaran untuk setiap harga mahal yang kita tebus di sana.
Akan tetapi, manakala kita berhadapan dengan mereka yang berdagang untuk bertahan hidup sekadarnya, bukan demi menumpuk harta dan menjadi kaya raya, matematika ekonomi kita justru sangat detail dan teliti bekerja. Setiap rupiah dari selisih nilai dagangannya yang kita anggap lebih mahal dari super market, tidak bisa kita terima. Kita tawar serendah-rendahnya.
Kepada pedagang kecil seperti mereka, matematika ekonomi kita tiba-tiba pincang kerjanya. Kita hanya fokus menghitung bagian selisih lima ratus atau seribu rupiahnya, tapi luput memperhatikan jumlah dagangannya. Meskipun dagangannya ludes, keuntungan pedagang kecil masih tak seberapa jika dibandingkan keuntungan super market yang harganya tampak lebih murah dari mereka.
Konon, hidup sangat kejam, kata sebagian orang. Karena meyakini omongan seperti itu, mereka pun terbawa menjadi kejam sekadar demi bisa bertahan.
Kata sebagian yang lain, hidup sangat sulit. Karena itu, mereka sangat perhitungan dengan hartanya hingga menjadi pelit.
Sebagian yang lain meyakini bahwa rezeki sudah dijamin Allah Ta’ala. Karena itu, mereka tidak pernah khawatir menginfakkan harta untuk meringankan beban saudaranya.
Di antara mereka ini, yang manakah kita…?
✍🏻 abun_nada
https://chat.whatsapp.com/Ll1GSId0L4l30ZUVcjhb4Y
↪️ Semoga Allah memberikan hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima Amal ibadah kita
(gwa-swhs-ayat).


