Google search engine
HomeAgama“Waktu Shalat Isya dan Hukum Mengakhirkannya”

“Waktu Shalat Isya dan Hukum Mengakhirkannya”

HADITS NO. 372
Syarah Al-Lu’Lu’ Wal Marjan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Yth. Bapak/Ibu/Saudara/i yang di Rahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

(372) Hadits dari Aisyah radhiallahu’anha dia berkata:

أَعْتَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعِشَاءِ حَتَّى نَادَاهُ عُمَرُ الصَّلَاةَ نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ فَخَرَجَ فَقَالَ ((مَا يَنْتَظِرُهَا أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ غَيْرُكُمْ))

“Rasulullah ﷺ pernah mengakhirkan salat Isya hingga sepertiga malam yang akhir. Lalu ‘Umar pun berseru kepada beliau, “(Laksanakanlah) salat, sebab para wanita dan anak-anak telah terlelap tidur.” Maka keluarlah beliau seraya berkata, “Tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menunggu salat Isya ini selain kalian.” (Shahih Bukhari no. 536, Kitab: Waktu-waktu shalat, Bab: Tidur sbom shalt Isya bagi org yg sdh ngantuk berat)

Syarah Hadits:
Pertama: Hadits ini menunjukkan betapa para sahabat sangat taat dan setia kepada Rasulullah ﷺ. Karena mereka tetap menunggu Shalat Isya bersama beliau meski hingga larut malam. Andai hal itu terjadi pada orang-orang zaman sekarang, tentu mereka lebih memilih shalat sendirian daripada berjamaah.
Kedua: Hadits ini mengisyaratkan bahwa waktu Shalat Isya dimulai sejak hilangnya awan merah di langit. Dan tidak ada waktu yang memisahkan antara Shalat Maghrib dengan Shalat Isya. Dalam arti. Ketika waktu Shalat Maghrib habis maka langsung masuk waktu Shalat Isya.’
Ketiga: Hadits ini menunjukkan kita boleh mengakhirkan Shalat Isya ketika orang-orang mempunyai kekuatan untuk menunggunya. Sehingga mereka mendapat dua keutamaan. Keutamaan menunggu shalat dan keutamaan shalat itu sendiri. Karena orang yang menunggu shalat, sama dengan berada dalam shalat.
Tapi ini tidak patut dilakukan pada zaman sekarang. Karena Rasulullah ﷺ ketika memerintah para imam meringankan shalat, karena di antara mereka terdapat orang lemah, sakit dan memiliki kebutuhan, tentu membiarkan mereka tidak menunggu lama adalah lebih baik.
Mujalid meriwayatkan dari Amir dari Jabir, dia berkata:
Rasulullah ﷺ pernah terlambat pada suatu malam untuk mengerjakan Shalat Isya hingga sebagian waktu malam sudah hilang. Hingga sebagian orang yang di dalam Masjid tidur. Kemudian beliau keluar sambil bersabda; “Sekiranya bukan karena orang-orang yang lemah dan tangisan anak kecil, tentu saya mengakhirkan shalat Isya hingga bagian malam yang terakhir.” (HR. Ath-Thabari, juga diriwayatkan Ibnu Hibban dlm Shahihnya, 4/309, no 1455).

Rasulullah ﷺ menunda Shalat Isya hingga sangat malam ini, karena ada kesibukan yang menghalangi beliau mengerjakannya pada awal waktu. Jadi menunda Shalat Isya ini bukanlah kebiasaan beliau.
Disebutkan dalam riwayat lain dari A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir dia berkata:

جَهَّزَ رَيُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ اَيْلَةِ جَيْشًا حَتَّى قَرُبَ نِصْفُ اللَّيْلِ ، أَوْ ثُلُثُهُ، خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُوْ لُ اللّٰهِ فَقَالَ (( قَدْ صَلَّى النَّاسُ وَرَقَدُوْا، وَ أَنْتُمْ تَنْتَظِرِوْنَ الصَّلاَةَ ، أَمَا إِنَّكُمْ لَمْ تَزَالُوْ ا فِيْ صَلاَةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوْهَا))

Rasulullah ﷺ pernah mempersiapkan pasukan pada suatu malam hingga mendekati pertengan malam atau sepertiganya, baru Rasulullah ﷺ keluar kepada kami. Beliau bersabda: “Orang-orang telah mengerjakan shalat dan sudah tidur. Sementara kalian masih menanti shalat. Ketahuilah! Sesungguhnya kalian mendapat pahala shalat selama kalian menunggu sbalat.’ (Ibnu Baththal, Syarah Shahih Al-Bukhari, 2/193, juga diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dlm Al-Mushannaf, 1/353, no. 4069)

Keempat: Hadits ini juga menunjukkan bahwa syariat Islam berdiri di atas dasar kemudahan dan kelapangan. Sementara Rasulullah ﷺ adalah seseorang yang sangat pengasih dan lemah lembut terhadap umatnya. Untuk yang pertama sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

((…يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ… ))
“….Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian….” (QS. Al-Baqarah: 185).

Sedangkan dalil yang kedua adalah firman Allah yang berbunyi:

(لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ) [التوبة : 128]
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At- Taubah: 128).

Kelima: Pada Hadits ini terdapat isyarat betapa kuat Umar bin al-Khattab radhiallahu’anhu dalam menampakkan kebenaran. Ini sangat terkenal pada biografinya. Buktinya ketika Nabi ﷺ tertidur tiada seorang sahabat pun yang berani membangunkan beliau hingga Umar terbangun. Ketika terbangun Umar langsung bertakbir.
Sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari Hadits Imran bin Hushain radhiallahu’anhu…
Allahu a’lam.

وَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقْ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيْلَ

🎯 Sukseskan Gerakan:
1. Takbiratul Ihram Bersama Imam, Minimal Tidak Masbuq.
2. “REBUTLAH” SHAF PERTAMA

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

📝✍ Dinukil oleh:
Alfaqir illallah Mangesti Waluyo Sedjati
(Ketua KBIHU Baitul Izzah, Sidoarjo ; Hp/WA: 0811.320.177).

📚 REFERENSI :
1. Al-Lu’Lu’ Wal Marjan, Penulis, Muhammad Fuad Abdul Baqi.* Penyusun Syarah: H. Wafi Marzuqi Ammar, Lc., M.Ag., Ph.D.
2. Aplikasi Quran Word by Word
3. Aplikasi Hadits 9 Imam.

📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khairan

(gwa-pbi).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments