SURABAYA-kanalsembilan.com (10 Februari 2026)
Sinergi empat lembaga keuangan negara terbukti menjadi fondasi kuat bagi ketahanan ekonomi Jawa Timur. Sepanjang tahun 2025, ekonomi provinsi ini tumbuh sebesar 5,33% (year on year), melampaui capaian tahun sebelumnya yang tercatat 4,93%.
Capaian tersebut mengemuka dalam Media Briefing Hari Pers Nasional yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di Surabaya, Senin (9/2).
Kegiatan ini mengusung tema “Sinergi dan Kolaborasi Melanjutkan Transformasi dan Menjaga Stabilitas Ekonomi Jawa Timur untuk Mewujudkan Indonesia Tangguh dan Mandiri”.
Selain menjadi ajang penguatan koordinasi antarlembaga, pertemuan ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap peran media dalam meningkatkan literasi ekonomi masyarakat.
Konsumsi, Investasi, dan Ekspor Jadi Penopang
Kepala Perwakilan BI Jawa Timur, Ibrahim, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim ditopang oleh kinerja konsumsi rumah tangga, investasi, serta ekspor yang tetap kuat di tengah dinamika global.
“Dari sisi penawaran, sektor industri pengolahan, pertanian, serta akomodasi dan makan minum menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” ujarnya.
Ia menambahkan, stabilitas harga juga tetap terjaga. Per Januari 2026, inflasi Jawa Timur tercatat 3,29% (yoy), masih berada dalam rentang yang terkendali.
Perbankan Solid, APBN Jadi Peredam Guncangan
Sementara itu, Direktur OJK Jawa Timur, Horas V. M. Tarihoran, melaporkan kondisi sektor perbankan yang tetap solid hingga Desember 2025. Penyaluran kredit di Jawa Timur mencapai Rp625,66 triliun atau tumbuh 1,90%, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp817,59 triliun, tumbuh 3,50%.
“Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 3,37%, menunjukkan perbankan Jawa Timur berada dalam kondisi sehat,” jelasnya.
Dari sisi fiskal, Kepala Kanwil Kemenkeu Jawa Timur, Saiful Islam, menegaskan peran APBN sebagai shock absorber bagi perekonomian daerah. Belanja negara di Jawa Timur tumbuh kuat, terutama melalui Transfer ke Daerah (TKD) serta pelaksanaan program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis dan Sekolah Rakyat.
“Realisasi pendapatan dari pajak, kepabeanan dan cukai, serta PNBP juga berhasil melampaui target,” ungkap Saiful.
Simpanan Nasabah Aman, Optimisme 2026 Menguat
Di sisi perlindungan konsumen, Kepala LPS II Jawa Timur, Bambang S. Hidayat, memastikan keamanan simpanan masyarakat. Hingga saat ini, 99,97% rekening nasabah di bank umum maupun BPR/BPRS di Jawa Timur telah dijamin oleh LPS.
Menutup kegiatan, keempat lembaga sepakat bahwa sinergi kebijakan menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian global. Untuk tahun 2026, ekonomi Jawa Timur diproyeksikan tetap tumbuh stabil pada kisaran 4,9%–5,7% (yoy), dengan inflasi yang terjaga dalam sasaran 2,5±1%.
“Kami berkomitmen terus memperkuat transformasi kebijakan yang pro-growth demi mendukung terwujudnya Indonesia yang tangguh dan mandiri,” pungkas Ibrahim. (za).


