𝐎𝐥𝐞𝐡: 𝐀𝐠𝐮𝐬 𝐌 𝐌𝐚𝐤𝐬𝐮𝐦, catatan dari Makkah Al Mukarramah
𝐀𝐤𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐚𝐭𝐚𝐦𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐥-𝐐𝐮𝐫’𝐚𝐧. 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐧, 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐭𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭. 𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐤𝐮𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐲𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐦𝐢 𝐚𝐲𝐚𝐭, 𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥 𝐝𝐢𝐚𝐦. 𝐈𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐨𝐦𝐩𝐚𝐭, 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐦𝐛𝐚𝐫𝐚, 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚, 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢. 𝐒𝐚𝐭𝐮 𝐚𝐲𝐚𝐭 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐞𝐧𝐭𝐢 𝐥𝐚𝐦𝐚. 𝐁𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦𝐚𝐧. 𝐁𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦-𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦.
Aku ingin tahu, ini ayat turun di mana? Siapa yang mendengarnya pertama kali? Apa latar belakangnya? Bagaimana tafsirnya menurut Ibn Katsir, menurut Al-Azhar-nya Buya Hamka, menurut Fi Zilal-nya Sayyid Qutb? Bagaimana pula penjelasan Gus Baha yang jernih dan merakyat? Atau Ustadz Adi Hidayat yang sistematis, atau Khalid Basalamah yang penuh ketegasan?
Aku punya pustaka yang lengkap. Kitab-kitab tafsir memenuhi rak digitalku. Bahkan kini kutanam dalam bentuk algoritma, pustaka yang bisa kujelajahi dengan bantuan kecerdasan buatan. Tapi aku tetaplah manusia yang haus. Rasa ingin tahuku tak habis-habis.
Ketika membaca surat Al-Buruj, pikiranku langsung tertuju pada api-api Ukhdud yang membakar orang-orang beriman. Aku seperti melihat kobaran nyala itu, mendengar jeritan yang tertahan oleh keimanan. Bagaimana bisa seorang raja seperti Dzu Nuwas mengaku Tuhan, lalu membakar rakyatnya sendiri hanya karena mereka berkata, “Rabb kami adalah Allah”?
Lalu aku ingat Abrahah. Yang dulu dikirim dari Habasyah untuk menumpas kezaliman itu. Ia datang sebagai pembela kaum Nasrani Najran yang dibakar hidup-hidup. Tapi sejarah berputar, dan kekuasaan mengubah hati. Abrahah yang dahulu datang menumpas penguasa zhalim, kini justru hendak menghancurkan rumah suci milik Allah. Ia datang dengan pasukan gajah, dan Allah mengirim burung-burung kecil untuk melumatnya.
Di situ aku berhenti lama. Dua tokoh sejarah. Dua peristiwa. Dua surat dalam al-Qur’an: Al-Buruj dan Al-Fil. Dan satu pelajaran besar: Allah menjaga agama-Nya bukan dengan jumlah, bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan kehendak-Nya yang tak dapat diukur oleh akal manusia.
Aku membaca Qur’an bukan seperti orang mengejar tamat. Tapi seperti orang yang duduk bersimpuh di hadapan Sang Guru. Satu ayat menjadi samudra, satu kalimat menjadi gunung makna. Tak sanggup aku melaluinya dengan tergesa.
Orang lain mungkin menyelesaikan tiga juz dalam satu malam. Aku bisa jadi hanya tiga ayat. Tapi dalam tiga ayat itu, aku merasa hatiku didekap, fikirku dijemput, dan ruhku diajak bicara oleh Allah.
Karena itu, jangan tanya padaku, “Sudah berapa kali khatam?” Tapi tanyalah, “Sudah berapa kali kau benar-benar menghayati satu ayat?”
Itulah khatam bagiku. Ketika ayat tak lagi sekadar dibaca, tapi menjadi cahaya yang menuntun jalan.
Dan aku bersyukur, dalam zaman yang gaduh ini, aku masih bisa duduk bersama mushafku, bertanya, dan menjawab sendiri dengan limpahan kitab dan catatan, serta kecerdasan buatan yang kubangun sendiri. Tapi tetap saja, tak ada yang bisa menggantikan nikmatnya ketika Allah sendiri yang menjawab kegelisahan dari dalam dada.
Qur’an itu seperti cinta. Ia tidak tergesa. Ia mendekap pelan-pelan. Tapi siapa yang benar-benar membuka diri padanya, akan menemukan samudra yang tak akan pernah kering.
“Bacalah al-Qur’an, bukan hanya untuk ditamatkan, tapi untuk diselami. Karena satu ayat bisa menghidupkan hati yang telah lama mati.”
Klik untuk baca: https://aidigital.id/berita?id_item=1101


