Dalam untaian nasihat yang penuh hikmah, Ibnu al-Jawzi -rahimahullah- mengingatkan kita tentang betapa berharganya waktu, terutama di bulan Ramadan.
Ibnu al-Jawzi, dengan kebijaksanaannya yang tajam, menuliskan sebuah nasihat yang mengguncang hatiāsebuah renungan bagi mereka yang masih hidup, bagi mereka yang masih diberi kesempatan.
Beliau menggambarkan seandainya para penghuni kubur bisa berbicara, mereka pasti akan menangis meminta satu hari saja di bulan Ramadan, satu hari untuk bertobat, untuk sujud, untuk kembali kepada-Nya.
Namun, kita yang masih bernapas, yang masih bisa beribadah, justru sering menyia-nyiakan waktu, seakan kematian adalah kisah yang jauh dari hidup kita.
Sampai kapan? Sampai kapan kita menunda? Ramadan hadir sebagai hadiah, sebagai pintu yang terbuka lebar untuk kembali.
Namun, jika di bulan ini kita tetap sama, kapan kita akan benar-benar berubah?
šŖ Ibnu al-Jawzi -rahimahullah- berkata,
ŲŖŲ§ŁŁŁ ŁŁ ŁŁŁ ŁŲ£ŁŁ Ų§ŁŁŲØŁŲ± ŲŖŁ
ŁŁŲ§ ŁŲŖŁ
ŁŁŲ§ ŁŁŁ
Ų§ Ł
Ł Ų±Ł
Ų¶Ų§Ł Ų Ų„ŁŁ Ł
ŲŖŁ Ų£ŁŲŖ ŁŁ Ų«ŁŲ§ŲØ Ų§ŁŲØŲ·Ų± Ų Ų£Ł
Ų§ ŲŖŲ¹ŁŁ
Ł
ŲµŁŲ± Ų§ŁŲµŁŲ± Ų Ų¹Ų¬ŲØŲ§ ŁŁ ŲŖŲ¤Ł
Ł ŁŲŖŲ£Ł
Ł Ų§ŁŲŗŁŲ± Ų Ų£Ł
Ų§ ŁŁŁŲ¹Ł Ł
Ų§ تر٠Ł
Ł Ų§ŁŲ¹ŲØŲ± Ų Ų£ŲµŁ
Ų§ŁŲ³Ł
Ų¹ Ų£Ł
ŲŗŲ“Ł Ų§ŁŲØŲµŲ± Ų ŲŖŲ§ŁŁŁ Ų„ŁŁ ŁŲ¹ŁŁ Ų®Ų·Ų± Ų Ų¢Ł Ų§ŁŲ±ŲŁŁ ŁŲÆŁŲ§ Ų§ŁŲ³ŁŲ± Ų ŁŲ¹ŁŲÆ Ų§ŁŁ
Ł
Ų§ŲŖ ŁŲ£ŲŖŁŁ Ų§ŁŲ®ŲØŲ± Ų ŁŁŁ
Ų§ Ų®Ų±Ų¬ŲŖ Ł
Ł Ų°ŁŁŲØ ŲÆŲ®ŁŲŖ ŁŁ Ų£Ų®Ų± Ų ŁŲ§ ŁŁŁŁ Ų§ŁŲµŁŲ§ Ų„ŁŁ ŁŁ
ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŁŲÆŲ± Ų Ų£ŁŲŖ ŁŁ Ų±Ł
Ų¶Ų§Ł ŁŁ
Ų§ ŁŁŲŖ ŁŁ ŲµŁŲ± Ų Ų„Ų°Ų§ Ų®Ų³Ų±ŲŖ ŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŲ“ŁŲ± ŁŁ
ŲŖŁ ŲŖŲ±ŲØŲ Ų ŁŲ„Ų°Ų§ ŁŁ
ŲŖŲ³Ų§ŁŲ± ŁŁŁ ŁŲŁ Ų§ŁŁŁŲ§Ų¦ŲÆ ŁŁ
ŲŖŁ ŲŖŲØŲ±Ų.”
Ų§ŁŲŖŲØŲµŲ±Ų© (Ųµ: ٤٧ٔ)
āDemi Allah, seandainya dikatakan kepada para penghuni kubur, āBerharaplah!ā niscaya mereka akan berharap satu hari dari Ramadan.
Sampai kapan engkau akan tetap dalam pakaian kesombongan? Tidakkah engkau tahu bagaimana akhir kehidupan? Sungguh mengherankan, engkau beriman tetapi merasa aman dari siksa.
Apakah pelajaran yang engkau lihat tidak bermanfaat bagimu? Apakah pendengaranmu tuli, atau penglihatanmu tertutup?
Demi Allah, engkau benar-benar dalam bahaya! Saat kepergian telah tiba, perjalanan semakin dekat, dan ketika kematian datang, engkau akan mengetahui segalanya.
Setiap kali engkau keluar dari dosa, engkau masuk ke dalam dosa lainnya.
Wahai yang sedikit kejernihannya, sampai kapan hidup dalam kekeruhan ini? Engkau di bulan Ramadan, tetapi seperti di bulan Shafar.
Jika engkau merugi di bulan ini, maka kapan engkau akan beruntung? Jika engkau tidak melakukan perjalanan menuju kebaikan di bulan ini, lalu kapan lagi?
Wahai orang yang jika bertobat kemudian mengingkari! Wahai orang yang jika berjanji lalu berkhianat! Wahai orang yang jika berbicara lalu berdusta! Berapa banyak Kami telah menutup aibmu dalam kemaksiatan? Berapa banyak Kami telah menutupi keburukanmu?”
(Kitab at-Tabshirah, hlm. 471)
Seakan ada suara yang menggema dari kejauhan, menembus ruang dan waktu, mengguncang hati yang terlena.
Ibnu al-Jawzi, dengan kebijaksanaannya, seolah mengajak kita berdiri di tepi kubur, melihat wajah-wajah yang dulu hidup seperti kitaātertawa riang, berlari, bermimpiānamun kini hanya bisa berharap untuk kembali walau sehari saja, sekadar menebus waktu yang telah terbuang.
Betapa sering kita merasa aman dari dosa, seolah kematian masih jauh, seolah lembaran hidup kita tak akan segera ditutup.
Namun, apa yang telah kita persiapkan untuk hari itu? Ramadan datang, berulang setiap tahun, membawa peluang demi peluang. Namun, jika di bulan penuh rahmat ini pun kita tetap lalai, masih saja sama seperti hari-hari biasa, kapan kita akan benar-benar berubah?
Sebelum perjalanan hidup ini mencapai akhirnya, sebelum tak ada lagi kesempatan untuk kembali, marilah kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita ingin menjadi mereka yang menyesal di liang lahad, atau mereka yang tersenyum karena telah memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya?
Jawabannya ada di tangan kita, dan Ramadan ini bisa menjadi titik baliknya.
Kata-kata ini menjadi cerminan bagi siapa saja yang masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.
šŖ Faedah dari Kata Bijak ini:
Berikut beberapa faedah yang dapat dipetik dari nasihat Ibnu al-Jawzi ini:
1. Penyesalan setelah Kematian tak akan Berguna
Para penghuni kubur berharap bisa kembali walau hanya satu hari di bulan Ramadan untuk beribadah.
Ini mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk beramal hanya ada selama kita masih hidup.
2. Kelalaian adalah Musuh Terbesar Manusia:
Ibn al-Jawzi menegur mereka yang terus berada dalam kesombongan dan kelalaian. Sering kali kita merasa aman dari azab, padahal kematian bisa datang kapan saja.
3. Ramadhan adalah Kesempatan Emas untuk Perubahan:
Jika di bulan penuh berkah ini, seseorang masih malas beribadah dan tidak berubah, kapan lagi ia akan memperbaiki dirinya?
Ramadan adalah saat terbaik untuk bertobat dan meningkatkan keimanan.
4. Dosa yang Terus Dilakukan tanpa Penyesalan akan Berbahaya bagi Hati:
Ibnu al-Jawzi menyoroti sikap sebagian orang yang bertobat lalu kembali berbuat dosa, berjanji tetapi berkhianat, dan berbicara tetapi berdusta. Ini menunjukkan betapa lemahnya jiwa manusia jika tidak diperbaiki dengan iman dan amal saleh.
5. Allah Memang Maha Penutup Aib Seorang Hamba, tetapi sampai Kapan Kita Menyalahgunakannya?
Banyak di antara kita yang terus berbuat dosa dalam keadaan tersembunyi, namun Allah masih menutupinya. Namun, sampai kapan kita mengandalkan kemurahan-Nya tanpa berusaha untuk benar-benar berhenti?
6. Kesuksesan Sejati adalah Memanfaatkan Waktu dalam Kebaikan
Jika seseorang gagal mendapatkan manfaat dari Ramadan, ia telah melewatkan kesempatan terbaik dalam hidupnya.
Kehilangan momentum ini adalah kerugian yang nyata.
7. Nasihat ini seharusnya menggugah hati dan menyadarkan kita untuk tidak menunda perbaikan diri. Sebelum waktu habis, mari manfaatkan setiap detik untuk mendekat kepada Allah.
Gowa, 6 Ramadhan 1446 H
ā Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-
(gwa-saudara-muslim-2).


