Google search engine
HomeJejak Dakwah Bocah Ngapak Banjarnegara: Dari Panggung Seni ke Pesantren Bangil

Jejak Dakwah Bocah Ngapak Banjarnegara: Dari Panggung Seni ke Pesantren Bangil

BANGILkanalsembilan.com (15/9/2025)

Nur Adi Septanto, sosok yang lahir di Banjarnegara pada 8 September 1979, tumbuh dengan jejak hidup yang penuh warna. Terlahir tak lama setelah letusan Kawah Sinila, perjalanan hidupnya seakan ditakdirkan penuh tantangan sekaligus keberanian.

Akar Religius dari Kauman

Adi kecil tumbuh di lingkungan religius Kauman, Banjarnegara, tepat di samping Masjid Agung An-Nuur. Ayah-ibunya, Hadi Sunarto dan Banat Suada—pegawai Departemen Agama—menanamkan nilai kesederhanaan, ilmu, dan pengabdian. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan suasana masjid, ikut sang ayah mengajar mengaji di TPQ An-Nuur. Dari sinilah jiwa pendidik dan kecintaan pada dakwah mulai tumbuh.

Bakat Seni yang Menonjol

Selain religius, Adi juga dikenal berbakat seni. Sejak SD Muhammadiyah 1 Banjarnegara, ia berprestasi di Festival Tembang Bocah (FESTEMBO) tahun 1989. Memasuki SMP dan SMA, bakatnya semakin menonjol. Ia meraih juara lomba baca puisi, tampil di panggung musik, bahkan menjadi peserta termuda Festival Band se-Jawa Tengah dan DIY tahun 1992 bersama kawan-kawan remajanya.

Belajar Mandiri Sejak Muda

Kemandirian Adi terasah sejak SMA. Ia memelihara ayam, menjual telur, hingga berjualan kelapa tua di bulan Ramadhan untuk membeli kebutuhan sendiri. Dari pengalaman itu, ia belajar nilai kerja keras dan kebanggaan dari usaha pribadi.

Titik Balik: Memilih Pesantren

Awalnya, Adi melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Banjarnegara. Namun sebuah pengalaman mengecewakan dari guru membuatnya mengambil keputusan besar: keluar dari sekolah umum dan beralih ke pesantren. Pilihan ini mendapat restu keluarga, apalagi ayahnya dikenal sebagai pembaca setia majalah Al-Muslimun Bangil, yang kerap memuat pemikiran pembaruan Islam dari Pesantren PERSIS Bangil.

Jejak Sepatu Sepak Bola

Saat survei ke pesantren, Adi menemukan hal sederhana yang menguatkan hatinya: sepasang sepatu sepak bola di teras kamar santri. “Kalau ada sepak bola, pasti aku betah,” pikirnya. Tanda kecil ini menjadi penguat bahwa pilihannya tepat.

Menjejak di Kota Santri Bangil

Juli 1995, Adi resmi menjadi santri Pesantren PERSIS Bangil, Pasuruan. Di sinilah ia menempuh pendidikan penuh disiplin, memperdalam tafsir, hadits, dan semangat tajdid warisan A. Hassan. Selain belajar, ia juga tetap menyalurkan hobi sepak bola yang menjadi ruang ukhuwah di antara santri.

Lima tahun menimba ilmu, ia lulus dengan bekal keilmuan yang kokoh. Setelah meraih gelar sarjana, pada 2007 ia kembali ke almamaternya bukan lagi sebagai murid, melainkan sebagai guru.

Inspirasi dari Bocah Ngapak

Kisah Nur Adi Septanto adalah potret keberanian, kemandirian, dan cinta dakwah. Dari panggung seni, usaha kecil berjualan, hingga jejak di pesantren, ia membuktikan bahwa perjalanan sederhana bisa berbuah besar bagi dakwah.

Sepasang sepatu sepak bola yang dilihatnya saat survei pesantren menjadi simbol: petunjuk Allah bisa hadir lewat hal-hal yang tampak remeh. Kini, perjalanan bocah ngapak dari Banjarnegara itu telah menjelma menjadi cahaya dakwah yang menginspirasi banyak orang.

(nas) – Admin Kominfo DDII Jatim | Editor: Sudono Syueb.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments