Oleh: Imam Mawardi Ridlwan, Dewan Pembina Bhakti Relawan Advokad Pejuang Islam
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan selama delapan bulan. Kehadirannya membawa semangat baru dalam upaya mencerdaskan generasi bangsa. Meski menuai pujian, tak sedikit pula kritik yang muncul dari masyarakat.
Namun satu hal yang harus dijaga bersama: dana makan murid wajib disalurkan utuh, tanpa potongan, tanpa pengalihan, dan tanpa kompromi.
Di berbagai grup media sosial, sering beredar foto menu makanan MBG. Ironisnya, ada yang memberi keterangan sinis, “contoh menu yang dientit (dibaca: dikorupsi).” Narasi seperti ini menunjukkan betapa masyarakat waspada terhadap potensi penyalahgunaan dana.
Kita tahu, budaya korupsi di negeri ini kerap menyusup ke berbagai lapisan. Dana triliunan rupiah dari program pemerintah sering menjadi sasaran. Karena itu, dana MBG sebagai amanah untuk masa depan anak bangsa tidak boleh disentuh praktik korupsi sekecil apa pun. Setiap rupiah adalah titipan masa depan, setiap anak yang menerimanya adalah investasi bangsa.
Berbagai modus penyimpangan kerap terjadi. Ada dugaan permainan antara oknum Kasatpel SPPG dan pemasok, dengan cara menekan biaya agar sisa dana bisa dibagi. Praktik seperti ini jelas merampas hak anak-anak, sekaligus merampas harapan bangsa.
Program MBG bukan sekadar proyek jangka pendek. Ia harus berkelanjutan, bahkan melampaui masa jabatan presiden. Negara-negara lain telah membuktikan, program makan bergizi yang konsisten mampu meningkatkan kesehatan, kecerdasan, hingga prestasi generasi mudanya.
Lebih jauh, MBG bukan hanya soal mengenyangkan perut, tetapi juga membangun kecerdasan. Menu bergizi, misalnya protein dari telur, sangat penting bagi perkembangan otak anak. Namun cara penyajian pun perlu diperhatikan, agar anak-anak tertarik dan tidak membuang makanan.
Indonesia juga memiliki kekayaan sumber pangan lokal seperti singkong, jagung, dan sagu. Pemanfaatan bahan lokal dalam MBG tidak hanya menyehatkan anak, tetapi juga menghidupkan desa, memberdayakan petani, serta memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan distribusi berbasis desa, risiko makanan basi karena perjalanan jauh pun bisa ditekan.
Pada akhirnya, MBG adalah cermin niat dan nurani bangsa. Jika dijalankan dengan teliti, jujur, dan konsisten, program ini bukan hanya memberi makan, tetapi juga membangun karakter, kecerdasan, dan masa depan anak-anak Indonesia.
Karena itu, jangan pernah kompromikan dana makan murid. Berikan utuh, karena dari piring kecil itu akan lahir generasi besar.


