Oleh: Ustadz Djuwari Syaifuddin, pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jatim.
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”
Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”
Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim).
Rasulullah Saw. Setiap selesai sholat beliau senantiasa melihat jamaahnya ada tidak nyang hari ini absen tidak sholat. Selain dari itu beliau terkadang dialok dengan jamaah, menanyakan sesuatu yang sangat orgen.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ
“adalah Nabi SAW, apabila telah selesai shalat, beliau menghadapkan mukanya kepada kita” [HR. Bukhari]
Dialok
Ketika Rasululullah selesai ngimami sholat sambil duduk bersantai bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menyampaikan satu pertanyaan singkat pada mereka. Pertanyaan itu disampaikan dalam suasana kekeluargaan, sahabat yang satu dengan yang lain nampak bergaul dengan akrab. Demikian juga dengan Nabi yang amat dicintainya.
Rasûlullâh bertanya kepada sahabatnya apakah ada diantara sahabat yang tidak ikut berjama’ah, apakah sakit atau kemana. Hal ini menunjukkan kedekatan Rasul pada Sahabatnya.
Setelah melihat kanan dan kiri, beliau bertanya kepada sahabatnya
“أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ”
“Tahukah Kalian, siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu?”
قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ،
Para sahabat menjawab: “Di kalangan kami, muflis itu adalah seorang yang tidak mempunyai dirham dan harta benda”.
فَقَالَ: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Muflis di antara umatku itu ialah seseorang yang kelak di Hari Kiamat datang lengkap dengan membawa pahala
بِصَلَاةٍ
Pahala Sholat, padahal mereka sholatnya bukan hanya sholat Fardlu, sholat Sunnah Rawatib, sholat Duha, sholat Tahajjud dan sholat sholat sunah lainnya yang memang ada dasarnya
وَصِيَامٍ
Ibadah puasa, puasanya bukan hanya puasa Fardlu tetapi puasa Sunnah lainnya, Senin wa khomis, yaumul baid dan puasa lain yang memang ada dasarnya.
وَزَكَاةٍ
dan ibadah zakatnya. Bukan hanya zakat tetapi shodaqoh, infaq, lainnya juga ia laksanakan.
وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ
Di samping itu dia juga membawa dosa berupa makian pada orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah yang ini serta menyiksa yang ini. Lalu diberikanlah pada yang ini sebagian pahala kebaikannya, juga pada yang lain.
فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”. أخرجه مسلم و أحمد وغيرهم
Sewaktu kebaikannya sudah habis padahal dosa belum terselesaikan, maka diambillah dosa-dosa mereka itu semua dan ditimpakan kepada dirinya. Kemudian dia dihempaskan ke dalam neraka. (HR Muslim, Ahmad, dan lain-lain).
Kebangkrutan tidak hanya dialami manusia ketika masih hidup di dunia, tetapi juga bakal dihadapi manusia saat mereka di akhirat. Riwayat tentang kebangkrutan manusia di akhirat dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw.
Hadis Nabi di atas memperingatkan manusia semua agar terus melakukan koreksi diri, karena sering sekali manusia lalai. Seseorang begitu mudah mengoreksi dan mencari kesalahan serta dosa orang lain, tetapi tidak pernah mencari kekurangan pada diri sendiri.
Manusia sering membanggakan demikian banyak ibadah dan amal yang kita lakukan, tanpa sadar mereka juga melakukan berbagai macam dosa dan kesalahan. Manusia sering tidak menyadari, bahwa perbuatan yang dilakukannya itu seperti menyakiti orang lain, menganiaya, menipu dan menyulitkan terhadap sesamanya
Amalan tidak sesuai dengan niatnya
Seseorang terkadang mengamalkan amalan penghuni surga, yaitu berbagai ketaatan kepada Allah. Namun dalam hatinya ada penyakit hati atau ia terkena penyakit hati, sehingga ia beralih mengamalkan amalan penghuni neraka. Dan ia ditulis sebagai penghuni neraka.
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا »
“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)
Ahli ibadah yang akan masuk neraka karena tidak menghadirkan Allah (tafakur) dalam beribadah. Jika tidak bertafakur, secara tidak sadar bisa melakukan ibadah dan maksiat dalam waktu yang bersamaan.
“Dosa iya, ibadah iya. Ternyata ibadahnya tidak bisa menghapus dosanya. Sepertinya dia beribadah, ternyata hasilnya ada dosa karena dia tidak merenungi ibadahnya,”
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)


