MUHASABAH
Saudaraku,
Kita dilarang untuk membiarkan kezaliman dan kemungkaran terjadi di tengah masyarakat, padahal sebenarnya kita bisa mengingatkannya. Dalam hadits dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Siapa yang melihat kemungkaran hendaklah meluruskannya dengan tangannya, maka jika tidak sanggup hendaklah meluruskan dengan lisannya, jika tidak sanggup hendaklah dia meluruskan dengan hatinya dan ini adalah iman yang paling lemah.”
(HR. Muslim, 49)
Siapapun diri kita, apapun posisi kita, bagian dari pengingkaran terhadap kemungkaran itu adalah menjauhinya dan tidak bergabung dengan para pelaku kemungkaran. Allah Azza wa Jalla mengingatkan para hamba-Nya untuk tidak berkumpul dengan orang munafiq,
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ
“Sungguhnya Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan oleh orang-orang kafir, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sungguh jika kalian tidak menyingkir, berarti kalian serupa dengan mereka.”
(QS. An-Nisa: 140)
Allah Azza wa Jalla menyebutkan, orang yang ikut nimbrung bersama orang kufur dalam melakukan kekufuran dengan “jika kalian tidak menyingkir, berarti kalian serupa dengan mereka.”
Al-Qurthubi mengatakan,
فَدَلَّ بِهَذَا عَلَى وُجُوبِ اجْتِنَابِ أَصْحَابِ الْمَعَاصِي إِذَا ظَهَرَ مِنْهُمْ مُنْكَرٌ ؛ لِأَنَّ مَنْ لَمْ يَجْتَنِبْهُمْ فَقَدْ رَضِيَ فِعْلَهُمْ ، وَالرِّضَا بِالْكُفْرِ كُفْرٌ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلّ : (إِنَّكُمْ إِذاً مِثْلُهُمْ) . فَكُلُّ مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسِ مَعْصِيَةٍ وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمْ يَكُونُ مَعَهُمْ فِي الْوِزْرِ سَوَاءً
Ayat ini menunjukkan wajibnya menjauhi pelaku maksiat ketika mereka menampakkan kemungkaran. Karena orang yang tidak menjauhi kemungkaran mereka, berarti ridha dengan perbuatan mereka dan ridha dengan perbuatan kekufuran adalah kekufuran. Allah Azza wa Jalla menegaskan, “Berarti kalian seperti mereka.” Sehingga semua yang duduk bersama di majelis maksiat, dan tidak mengingkarinya, maka dosa mereka sama…
(Tafsir Al-Qurthubi, 5/418)
Allah Azza wa Jalla berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
(QS. Ali Imran: 110)
Saudaraku,
Para salaf mengatakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu wajib bagi setiap insan meskipun fardhu kifayah, dan wajib bagi yang lain untuk membantunya hingga maksudnya yang Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya perintahkan tercapai. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan melampaui batas.”
(QS. Al Maidah: 2)
Setiap Rasul yang Allah Azza wa Jalla utus dan setiap kitab yang Allah Azza wa Jalla turunkan, semuanya mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar.
Yang dimaksud ma’ruf adalah segala istilah kebaikan yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah Azza wa Jalla. Sedangkan yang dimaksud munkar adalah segala istilah keburukan yang mencakup segala hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla…
Meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar adalah sebab datangnya hukuman dunia sebelum hukuman di akhirat. Bukan hanya menimpa orang yang zalim dan pelaku maksiat, namun boleh jadi juga menimpa umat manusia secara keseluruhan…
Saudaraku,
Imam Muhyiddin an-Nawawi berkata di dalam kitab Raudlatut Thalibin:
ولا يكفي الوعظ لمن أمكنه إزالته باليد، ولا تكفي كراهة القلب لمن قدر على النهي باللسان
“Tidak cukup memberi nasihat bagi orang yang mampu menghilangkan kemungkaran dengan tangan. Dan tidak cukup ingkar di dalam hati bagi orang yang mampu mencegah kemungkaran dengan lisan.”
(Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, Raudlatut Thalibin, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005, cetakan kelima, jilid V, hlm. 123)
Saudaraku,
Nilai suatu umur manusia tidaklah ditentukan oleh banyaknya melainkan seberapa besar nilai kemanfaatan yang dilalui oleh seseorang dalam perjalanan usia itu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خير الناس أنفعهم للناس
“Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan banyak kemanfaatan bagi manusia lainnya”
Pada prinsipnya pergunakanlah seluruh kemampuan kita untuk memberikan kemanfaatan pada sesama manusia dan lingkungan sekitarnya. Itulah manusia yang terbaik dalam perjalanan waktunya…
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menebarkan kebaikan dan kemanfaatan sebagai manusia terbaik untuk meraih ridha-Nya…
Aamiin Ya Rabb.
Wallahua’lam bishawab
(gwa-swhs-ayat).


