Google search engine
HomeTausiyahPenjelasan Ringkas Madzhab Qadariyyah, Murjiah, Syiah, Khawarij

Penjelasan Ringkas Madzhab Qadariyyah, Murjiah, Syiah, Khawarij

PENYEBAB TERSESATNYA KAUM KHAWARIJ

Abdullah bin Al-Mubarak (181 H) rahimahullah mengatakan,

“Penyimpangan dan kesesatan menginduk pada empat golongan yaitu Qadariyyah, Murjiah, Syiah, Khawarij.”

1). Qadariyyah adalah madzhab atau pemahaman yang menolak beriman kepada takdir.

Kali pertama yang menyeleweng bicara masalah takdir adalah Ma’bad Al-Juhani (80 H) di kota Bashrah lalu diikuti sekolompok orang.

Keyakinan mereka bahwa Allah tidak menetapkan takdir, ingkar kepada ilmu Allah, dan berkeyakinan bahwa perbuatan hamba bukan Allah yang menciptakannya.

Serupa dengan keyakinan orang-orang Majusi yang meyakini ada dua pencipta yaitu Tuhan terang yang menciptakan kebaikan dan Tuhan gelap yang menciptakan keburukan..

Sebab itu Rasulullah ﷺ bersabda,

القدرية مجوس هذه الأمة : إن مرضوا فلا تعودوهم وإن ماتوا فلا تشهدوهم

“Qadariyyah adalah majusinya umat ini jika mereka sakit jangan dibesuk jika mereka mati jangan dilawat.”

HR. Abu Dawud (4691) dihasankan Al-Albani

Adapun Ahlussunnah mengimani takdir yang baik dan yang buruk, menetapkan ilmu Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi, meyakini Allah yang menciptakan perbuatan hamba akan tetapi yang berbuat adalah hamba.

Keimanan kepada takdir tidak berarti menafikan ikhtiar (usaha), tetap berjuang dan berjihad menjalani ketaatan di jalan-Nya dan tidak pula membenarkan maksiat dengan alasan takdir.

Para shahabat Nabi ketika ditanya tentang takdir mereka berkata,

“Seandainya engkau berinfaq dengan emas seberat gunung Uhud, Allah tidak akan menerimanya sampai engkau beriman kepada takdir.”

HR. Ahmad 20607 sanadnya dikuatkan Al-Arna’uth

Belakangan yang mewarisi madzhab Qadariyyah adalah aliran Mu’tazilah yang kental dengan filsafat dan ilmu kalam.

2). Murjiah adalah madzhab atau pemahaman yang mengeluarkan amal perbuatan dari cakupan iman sehingga maksiat dan kekufuran tidak membahayakan iman sebaliknya ketaatan tidak membuat iman bertambah.

Kali pertama pikiran bid’ah irja’ ini dicetuskan oleh Dzarr bin Abdillah Al-Hamdani (99 H) tukang dongeng yang suka memberi petuah bijak.

Para ulama menyebutkan murjiah paling ekstrim adalah Jahmiyyah yang menganggap iman sebatas ma’rifah (mengenal).

Kemudian Karramiyyah yang membatasi iman secara ucapan tanpa keyakinan dalam hati.

Kemudian Asy’ariyyah yang mengatakan iman keyakinan dalam hati -yang penting hatinya- meski tidak diucapkan secara lisan.

Kemudian Murjiah Fuqaha yang berpandangan iman itu keyakinan dalam hati dan ucapan lisan sedangkan amal tidak termasuk cakupan iman.

Al-Imam Az-Zuhri rahimahullah berkata,

“Tidak ada bid’ah yang jauh lebih berbahaya bagi umat ini melebihi bid’ah irja’.”

Adapun Ahlussunnah meyakini seperti yang ditunjukkan dalil-dalil Al-Qur’an was Sunnah dan dipahami para shahabat bahwa iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan, perbuatan dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

3). Syiah adalah madzhab atau pemahaman yang berlebih-lebihan terhadap kedudukan Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Al-Hasan, Al-Husain dan keturunannya.

Mereka mengkultuskan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya atas nama cinta kepada ahli bait, bahkan mengkeramatkan tokoh-tokoh mereka yang diklaim sebagai keturunan Ali..

Mereka tidak memuliakan Abu Bakr, Umar, Utsman, Mu’awiyah, bahkan mereka kafirkan para shahabat secara umum termasuk istri-istri Nabi ﷺ.

Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah (204 H) berkata,

لم أر أحدا من أصحاب الأهواء أكذب في الدعوى ولا أشهد بالزور من الرافضة

“Tidaklah aku melihat seorangpun dari pengekor hawa nafsu yang paling dusta dalam pengakuan serta paling palsu dalam persaksian melebihi Syiah Rafidhah.”

Al-Ibanatul Kubra (2/545), Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah (8/457)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Orang-orang Syiah Rafidhah menjadikan taqiyyah (versi mereka menghalalkan dusta) sebagai pokok agamanya, mereka berdusta atas nama keluarga Nabi dengan kedustaan yang tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah. Mereka berdusta atas nama Ja’far Ash-Shadiq, “Taqiyyah adalah agamaku dan agama leluhurku!” Dan sungguh taqiyyah mereka ini syiar kemunafikan.”

Majmu’ Fatawa (13/263)

Adapun keyakinan Ahlussunnah mencintai para shahabat, mendoakan kebaikan, memohonkan ampunan dan menjadikan mereka sebagai panutan dalam meneladani sunnah Rasulullah ﷺ.

Mereka adalah murid-murid Rasulullah ﷺ yang menyampaikan Al-Qur’an was Sunnah.

Orang-orang yang mencela para shahabat, menjatuhkan kredibilitasnya hakikatnya mereka sedang mencacati saksi-saksi umat Islam, membatalkan Al-Qur’an, hadits Nabi ﷺ, bahkan Islam.

4). Khawarij adalah madzhab atau pemahaman yang menjadikan pemberontakan sebagai prinsip agamanya.

“Sebab dinamakannya khawarij adalah karena khuruj (keluarnya) mereka dari ketaatan kepada Ali bin Abi Thalib.”

Al-Maqalat (1/207)

Mereka berpandangan orang yang terjatuh dalam dosa besar gugur keislamannya, bahkan mereka mengkafirkan orang yang tidak sejalan dengan pikirannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Khawarij melancarkan kudeta kepada Ali karena beliau telah divonis kafir keluar dari Islam. Di sini sejarah “takfiriyyah” bermula hingga kemudian menjadi pokok utama pemikiran yaitu memvonis kafir siapa saja dari kaum muslimin yang menyelisihi madzhab mereka.”

Majmu’ Fatawa (3/355)

Dulu khawarij mengkafirkan dan membunuh para shahabat karena tidak menyetujui madzhab mereka. Sekarang yang menjadi sasaran mereka para ulama yang istiqamah mengikuti jalannya para shahabat..

Mereka berdalil dengan Al-Qur’an was Sunnah akan tetapi tidak memahaminya dengan benar. Mereka tidak menjamak (mengompromikan) dalil-dalil dalam memahami satu permasalahan. Mereka hanya mengambil satu sisi lalu mengabaikan sisi yang lain.

Ketika memberontak kepada Ali kaum khawarij menebar isu, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah!” Maka Ali pun menampik dengan ucapannya yang terkenal,

كلمة حق أريد بها باطل

“Kalimat yang haq namun yang dimaukan kebatilan!”

Riwayat Muslim (1774)

Mereka berdalih ingin menegakkan hukum Allah, padahal tidak ada pihak yang paling paham tentang hukum Allah melebihi para shahabat.

Dan kebanyakan yang terpengaruh oleh bid’ah khawarij ini anak-anak muda yang punya ghirah tinggi tetapi dangkal pemahaman.

Adapun Ahlussunnah berkeyakinan pelaku dosa besar tidaklah jatuh pada kekafiran, dia mukmin dengan sebab imannya dan fasik dengan sebab dosa besar.

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah mengatakan,

“Dosa yang dilakukan ahli kiblat (kaum muslimin) tidak serta merta menjadikannya kafir sebagaimana pendapat khawarij. Namun tidak berarti juga perbuatan dosa yang dilakukan ahli kiblat tidak berdampak apa-apa bagi pelakunya sebagaimana pendapat kaum murji’ah.”

Ahlussunnah tidak gegabah melabeli orang dengan kekafiran, akan tetapi tidak pula alergi mengkafirkan jika jelas-jelas terjatuh dalam pembatal keislaman dan terbukti kekafirannya.

| Saluran manhajulhaq

Ustadz Fikri Abul Hasan

(gwa-saudara-muslim-2).

Previous article
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments