SURABAYA-kanalsembilan.com (4 Agustus 2026)
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS Jatim Ir. Herum Fajarwati, MM mengatakan nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur pada Juli 2026 mengalami penurunan sebesar 1,69 persen dibandingkan bulan Juni 2026. Penurunan tersebut terutama dipicu oleh melemahnya kinerja subsektor hortikultura akibat turunnya harga sejumlah komoditas utama, seperti cabai rawit, bawang merah, dan tomat, seiring meningkatnya pasokan saat musim panen.
Penurunan terdalam terjadi pada Subsektor Hortikultura yang merosot hingga 15,37 persen. Selain itu, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat juga turun 1,35 persen, disusul Subsektor Peternakan yang melemah 0,56 persen.
Di sisi lain, tidak seluruh subsektor pertanian mengalami pelemahan. Subsektor Tanaman Pangan justru mencatat kenaikan NTP sebesar 1,68 persen, sementara Subsektor Perikanan meningkat 1,19 persen, menunjukkan masih adanya daya tahan pada beberapa kelompok usaha pertanian.
“Turunnya NTP tidak terlepas dari penurunan Indeks Harga yang Diterima Petani (It), yang dipengaruhi oleh anjloknya harga komoditas hortikultura, terutama cabai rawit, bawang merah, dan tomat. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga mengalami penurunan, terutama karena turunnya harga bawang merah, cabai rawit, dan telur ayam ras,” kata Ir. Herum Fajarwati MM.
Secara umum, penurunan harga pada komoditas hortikultura dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan selama musim panen pada Juli 2026. Kondisi tersebut membuat harga di tingkat petani turun lebih cepat dibandingkan perubahan biaya yang harus mereka keluarkan, sehingga berdampak pada melemahnya NTP.
Dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa, Jawa Timur menjadi salah satu dari dua provinsi yang mengalami penurunan NTP pada Juli 2026. Sementara itu, tiga provinsi lainnya mencatat kenaikan NTP dibandingkan bulan sebelumnya.
NTP merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. Penurunan NTP menunjukkan bahwa kemampuan tukar hasil produksi pertanian terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan petani mengalami penurunan.
Oleh karena itu, perkembangan harga komoditas, terutama hortikultura, akan menjadi faktor penting yang perlu terus dipantau pada bulan-bulan berikutnya untuk menjaga daya beli dan kesejahteraan petani di Jawa Timur. (za).


