Oleh: Firman Syah Ali
Saya kadang bingung, apakah kita ini bangsa bandit, bangsa kriminil, bangsa kartel, bangsa mafia? Apakah negara ini negara yang jahat secara simultan dan berkesinambungan? Apakah negeri ini memang sedang dihegemoni oleh preman-preman santun?
Pejabatnya banyak yang kepergok korup dan ditangkap oleh KPK, namun cak mat dan cak dul di warung giras meyakini jauh lebih banyak yang tidak ketahuan, sehingga pembongkaran kasus korupsi hanya berkutat pada masalah apes dan tidak apes.
Ormas-ormas keagamaan tidak perduli terhadap kasus-kasus kejahatan keuangan negara, hal ini pernah disampaikan terang-terangan oleh Mahfud MD, seorang tokoh idealis yang kemarin gagal menjadi pemimpin di sarang penyamun.
Bahkan terkini, Ormas keagamaan bukan hanya tidak peduli tapi diduga terlibat dalam praktik-praktik yang tidak terpuji dalam proses suksesi kepemimpinannya.
Kalau ormas-ormas dan tokoh-tokoh keagamaan sebagai gawang moral bangsa sudah bobol, lantas orang baik mana yang masih tersisa? Kompas moral mana yang dapat dijadikan rujukan oleh anak bangsa?
Beberapa tokoh yang masih idealis merasa lelah untuk tetap jadi orang baik dan benar, tapi mereka takut untuk terjun ke dunia kejahatan nan santun dan anggun sebagaimana tokoh-tokoh lainnya.
Para pemimpin berlomba pidato, yang isi pidatonya berlawanan dengan kenyataan yang dia laksanakan. Penulis jadi ingat pada akhir Orde Baru ada istilah lucu Hari-Hari Omong Kosong yang disingkat Harmoko.
Tokoh berintegritas yang kemarin masih suci, tiba-tiba pagi ini ikut membela para penjahat. Atau minimal mendadak diam seribu bahasa membiarkan bangsa tetap dikuasai bandit-bandit santun.
Lelah hati ini, lelah moral ini. Terjal sekali jalan yang benar. Atau jangan-jangan jalan yang salah dan keji itu telah menjadi kebenaran baru, dan jalan lurus kita ini justeru telah menjadi jalur jahat? Ah tidak mungkin.
Namun kalau kita menyerah, sama halnya kita membiarkan negara ini digarong beramai-ramai oleh orang-orang yang penuh sopan santun itu.
Kalau peranan dan jabatan-jabatan strategis tidak direbut oleh orang-orang baik, maka para penjahat semakin bercokol.
Namun masalahnya, sulit sekali merebut peranan dan jabatan strategis melalui cara-cara yang baik, karena rupanya yang jahat saat ini bukan hanya para elit.
Berarti kita harus menempuh cara jahat dulu untuk merebut kursi para penjahat itu? Namun lantas apa bedanya kita dengan mereka?
Mungkin hanya Arya Kamandanu dan Brama Kumbara yang bisa memberantas kejahatan dengan cara-cara baik dan benar. Karena pada zaman itu jauh lebih banyak jumlah orang baik daripada orang jahat.
Anda pusing membaca artikel ini? Anda belum menemukan alinea solusi, kesimpulan dan saran? Jangan khawatir, penulis juga pusing. Mari pusing bersama.
*) Penulis adalah Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU.


