Google search engine
HomeUncategorizedNegeri Seribu Gelar, Sudahkan Kita Benar-Benar Belajar

Negeri Seribu Gelar, Sudahkan Kita Benar-Benar Belajar

Mengembalikan Pendidikan kepada Ilmu, Adab, dan Kemampuan Memecahkan Masalah

✍️ Mangesti Waluyo Sedjati
Perspektif The Mangesti FEED+ The Nation Framework
📍 Sidoarjo, 15 Oktober 2026

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Bapak, Ibu, dan Sahabat yang saya hormati,

Bayangkan seorang anak menyelesaikan sekolah. Orang tuanya berutang, mengurangi kebutuhan rumah tangga, dan menunda banyak keinginan agar ia dapat kuliah.

Hari wisuda tiba. Jubah dikenakan. Foto keluarga diabadikan. Air mata bahagia mengalir.

Namun, beberapa bulan kemudian, sang anak menghadapi kenyataan: ia kesulitan memahami persoalan pekerjaan, menyusun penjelasan, atau menawarkan jalan keluar.

Di tempat lain, seorang pekerja mampu memperbaiki mesin, menjaga mutu produksi, dan membimbing rekan kerjanya. Tetapi peluangnya tertutup karena tidak memiliki ijazah yang dipersyaratkan.

Dua gambaran ini merupakan ilustrasi. Keduanya mengajak kita bertanya:

Apakah kita sudah adil dalam mengenali kemampuan manusia?

Dan pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah pendidikan kita sungguh membentuk kemampuan, atau terlalu sibuk mengesahkan bahwa seseorang telah selesai bersekolah

☕ IJAZAH ADALAH JANJI

Mari kita dudukkan persoalannya dengan jernih.

Ijazah penting. Gelar akademik patut dihormati. Pendidikan formal harus diperkuat.

Setiap ijazah membawa janji: pemegangnya telah belajar dan memenuhi standar tertentu.

Masalah muncul ketika kita lebih percaya pada dokumen daripada memeriksa kemampuan yang diwakilinya.

Jika seseorang dinyatakan lulus, tetapi belum menguasai kecakapan yang dijanjikan, siapa yang harus menanggung akibatnya?

Anak kehilangan kesempatan. Orang tua kehilangan pengorbanan. Dunia kerja mengulang pelatihan. Masyarakat menanggung pelayanan yang kurang bermutu.

Ketika mutu proses melemah, yang tergerus adalah kepercayaan bersama.

Karena itu, kritik terhadap budaya gelar seharusnya menjadi ikhtiar mengembalikan kehormatan pendidikan.

📚 ANAK NAIK KELAS, KESULITANNYA IKUT NAIK

Seorang anak belum lancar memahami bacaan, tetapi pelajaran terus bergerak.

Ia belum menguasai perhitungan dasar, tetapi materi semakin rumit.

Tahun berganti. Seragam berganti. Kesulitan lama tetap dibawa.

Inilah yang saya sebut utang pembelajaran: kemampuan yang belum dikuasai, padahal terus dibutuhkan untuk memahami pelajaran berikutnya.

Utang tersebut tidak lunas dengan angka rapor yang diperindah.

Ia membutuhkan pendampingan, waktu, dan keberanian mengakui bahwa ada proses yang perlu diperbaiki.

Solusinya juga tidak cukup dengan memperbanyak anak tinggal kelas.

Anak yang tertinggal membutuhkan bantuan yang tepat, sedini mungkin.

Sekolah perlu mampu menjawab: siapa yang kesulitan, pada bagian apa, bantuan apa yang diberikan, dan apakah bantuan itu menghasilkan kemajuan?

Hak memperoleh pendidikan mengandung hak mendapatkan pertolongan ketika belum memahami pelajaran.

⚖️ JANGAN HANYA MENASIHATI ORANG, PERIKSA SISTEMNYA

Kita sering meminta siswa jujur, guru berdedikasi, dan dosen berkualitas.

Semua itu benar.

Namun, bagaimana jika lingkungan justru memberi penghargaan lebih besar kepada penampilan keberhasilan?

Sekolah bangga pada kelulusan. Kampus bangga pada jumlah publikasi. Mahasiswa bangga pada nilai.

Ukuran tersebut berguna, sepanjang tetap terhubung dengan mutu yang hendak dicapai.

Angka kelulusan harus dibaca bersama kemampuan lulusan. Jumlah publikasi perlu disertai pemeriksaan kualitas penelitian.

Apa yang kita beri penghargaan akan memengaruhi apa yang dikerjakan orang.

Jika guru dihargai karena kelengkapan laporan, waktunya dapat terserap untuk laporan.

Jika kelemahan selalu dibalas hukuman, orang akan tergoda menyembunyikannya.

Pendidikan memerlukan kejujuran institusional: keberanian menyampaikan kekurangan agar perbaikan dapat dimulai.

🕌 ADAB ADALAH TANGGUNG JAWAB TERHADAP KEBENARAN

Adab mencakup kesantunan. Namun, dalam dunia ilmu, maknanya jauh lebih dalam.

Menyebut sumber adalah adab.
Mengakui ketidaktahuan adalah adab.
Menolak merekayasa data adalah adab.
Memperbaiki pendapat setelah menemukan bukti adalah adab.

QS Al-Isra’ [17]: 36 mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan.

QS Al-Qashash [28]: 26 menghadirkan kualitas kuat dan dapat dipercaya dalam konteks memilih orang untuk bekerja.

Kemampuan dan amanah perlu berjalan bersama.

Karena itu, pendidikan akhlak harus terlihat dalam keputusan sehari-hari.

Apakah kecurangan diperiksa secara adil? Apakah keluhan didengar? Apakah pemimpin bersedia dikoreksi?

Jangan sampai anak diajari kejujuran melalui ceramah, lalu menyaksikan manipulasi memperoleh keuntungan.

Keteladanan adalah pelajaran yang dibaca setiap hari.

Adab juga harus memberi ruang bertanya. Menghormati guru dapat berjalan bersama keberanian meminta penjelasan.

🤖 KETIKA AI MAMPU MENULIS, APA YANG HARUS DIKUASAI MANUSIA?

Kini, tulisan yang rapi semakin mudah dihasilkan.

Karena itu, tugas tertulis saja semakin terbatas sebagai bukti pemahaman.

Pendidikan perlu menilai proses: bagaimana masalah dirumuskan, sumber diperiksa, kesimpulan dibuat, dan kesalahan diperbaiki.

Mahasiswa perlu mampu menjelaskan pekerjaannya sendiri. Penggunaan AI harus dinyatakan sesuai aturan pembelajaran.

Ada keterampilan yang perlu diuji tanpa bantuan. Ada pekerjaan yang dapat menilai kemampuan menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Kemudahan mendapatkan jawaban harus disertai kemampuan memeriksa kebenarannya.

Jangan sampai teknologi mempercepat penyelesaian tugas, sementara pemahaman tertinggal di belakang.

🌱 BERPIKIR WITHOUT THE BOX: BAWA PERSOALAN KEHIDUPAN KE RUANG BELAJAR

Mengapa pembelajaran harus selalu dimulai dari halaman buku?

Persoalan nyata dapat menjadi pintu masuk.

Di kawasan perikanan, pelajari mengapa mutu ikan menurun setelah didaratkan.

Di pertanian, teliti mengapa air tersedia, tetapi penggunaannya tidak efisien.

Di lingkungan warga, periksa mengapa sampah terus bertambah meskipun sosialisasi berulang.

Dari sana, peserta didik belajar membaca, menghitung, meneliti, bekerja sama, dan mempertanggungjawabkan hasil.

Teori tetap diperlukan agar solusi tidak sekadar coba-coba.

Belajar menjadi bermakna ketika pengetahuan membantu manusia memahami dan memperbaiki kehidupannya.

Namun, proyek lapangan harus sungguh mendidik. Peserta didik berhak atas pembimbingan, keselamatan, dan penilaian yang adil.

🇮🇩 FEED+: PENDIDIKAN HARUS MEMPERBESAR KEMAMPUAN BANGSA

Dalam The Mangesti FEED+ The Nation Framework, pendidikan membentuk kemampuan menjaga pangan, mengelola energi, merawat lingkungan, serta memperkuat martabat dan kesempatan manusia.

Pertanyaannya:

Setelah biaya pendidikan dikeluarkan, kemampuan strategis apa yang bertambah?

Apakah kita semakin mampu menjaga mutu pangan?
Merawat teknologi?
Membaca risiko?
Mengelola usaha?
Memeriksa informasi?
Mengambil keputusan yang bertanggung jawab?

Membeli teknologi perlu disertai kemampuan memahami, mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya.

Di sinilah pendidikan bertemu kedaulatan.

Open to the World, Sovereign in Decision.

Terbuka terhadap dunia, sambil membangun kemampuan menentukan arah sendiri.

🛠️ LIMA LANGKAH YANG DAPAT DIMULAI

Pertama, pulihkan kemampuan dasar.
Temukan kesulitan belajar dan dampingi sampai ada kemajuan.

Kedua, perkuat bukti kompetensi.
Lengkapi penilaian dengan praktik, portofolio terpilih, dan penjelasan langsung.

Ketiga, buka pengakuan terhadap pengalaman.
Berikan kesempatan membuktikan kecakapan melalui pengujian yang kredibel.

Keempat, jadikan integritas dapat diperiksa.
Sediakan aturan, mekanisme keberatan, dan penanganan pelanggaran yang konsisten.

Kelima, beri pendidik ruang bekerja.
Kurangi pelaporan berulang dan perkuat waktu untuk mengajar serta membimbing.

Mulailah melalui uji coba terbatas. Catat kondisi awal. Periksa hasilnya. Akui kelemahannya. Perbaiki sebelum diperluas.

Perubahan layak dipercaya ketika manfaatnya dapat ditunjukkan.

(gwa-pbi)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments