Google search engine
HomeUncategorizedProblem Kematian Kaum Penghayat

Problem Kematian Kaum Penghayat

Oleh: Arif Wibowo

Saya pernah dapat laporan, soal intoleransi umat Islam terhadap kaum penghayat, demikian doktor yang dosen merangkap ustadz itu menceritakan pengalamannya.

Di kota tempat ia tinggal, saat itu ada penghayat kepercayaan yang meninggal, dan tetangganya tidak ada yang merawat jenazahnya. Keluarganya bingung.

Akhirnya, ia mendatangi rumah duka untuk mencari informasi lebih dalam dan ketemulah nama kelompok penghayatnya.

Karena beliau sedang meneliti tentang kelompok penghayat sehinga informasinya komplit, ia segera menemui ketua paguyubannya. Dan jawaban apa yang beliau terima.

“Kita ini paguyuban spiritual mas, jadi olah batin semedi membentuk kesadaran spiritual itu yang menjadi kegiatan kami. Kalau soal kematian dan perawatan jenazah, ya kami serahkan sepenuhnya ke keluarga dan masyarakat.”

Saya tak hendak menuliskan bagaimana akhir kisah jenazah itu, karena kasus semacam ini tidak hanya terjadi sekali, ada banyak kasus, bahkan di buku Clifford Geertz juga diangkat kisah serupa.

Ketika dulu para ulama Islam menolak aliran kebatinan disetarakan agama, maka narasinya orang Islam itu intoleran, diktatur mayoritas, takut tersaingi dan sebagainya.

Padahal, kenyataannya, kelompok penghayat ini memang tidak punya perangkat komplit sebagaimana agama.

Pemulasaraan jenazah, adalah ritus penting dalam semua agama, karena agama itu salah satu fungsi pokoknya adalah penjelasan tentang hidup setelah kematian.

Karenanya, bagi orang Islam, pemulasaraan jenazah dengan cara dimandikan, disholatkan dan dikubur ya khusus untuk mereka yang beragama Islam.

Malah jadi intoleran kalau ada orang Kristen kok prosesi jenazahnya pakai cara Islam. Demikian juga, untuk kaum penghayat, karena identitasnya sudah bukan muslim maka justru malah jadi tindakan intoleran kalau dirawat secara Islam.

Paguyuban penghayat harus serius memikirkan hal ini. Bagaimana tata cara pemulasaraan jenazah. Misalnya, apakah seperti pendiri Sapta Darma yang dikremasi dan abunya dibuang ke laut atau bagaimana.

Bukan hanya itu, termasuk juga team pemulasaraan jenazahnya juga harus disiapkan. Sebab tidak mungkin orang Islam diminta ikut membakar jenazah.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments