Perbedaan antara Bid’ah dan Maksiat (Bag. 3)
Dalam serial sebelumnya telah kami paparkan bahwa ditinjau dari jenisnya, bid’ah itu lebih berbahaya daripada maksiat. Di antara sebabnya, karena fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan oleh bid’ah itu terkait dengan pokok agama, sedangkan kerusakan yang ditimbulkan oleh maksiat itu berkaitan dengan syahwat. Akan tetapi, kaidah ini berlaku jika tidak ada indikasi-indikasi lain yang bisa mengubah kondisi suatu maksiat dan bid’ah tersebut.
Di antara perkara yang bisa memperberat dosa maksiat atau bid’ah adalah jika pelakunya melakukannya secara terus-menerus atau bersikap meremehkan atau menganggap boleh (halal) perbuatan tersebut atau melakukannya secara terang-terangan atau mengajak orang lain dan mendakwahkannya. Sehingga, dengan faktor-faktor ini maksiat bisa menjadi lebih berbahaya dan lebih besar dosanya dari bid’ah.
Sebaliknya, di antara perkara yang bisa memperingan suatu maksiat atau bid’ah adalah ketika pelakunya mengerjakan perbuatan tersebut secara sembunyi-bunyi tidak terus-menerus melakukannya atau menyesal atau kemudian bertaubat darinya.
Demikian pula, berat ringannya suatu bid’ah atau maksiat tergantung dari dampak kerusakan yang ditimbulkan. Jika dampak suatu bid’ah itu pada mayoritas (atau bahkan keseluruhan) aspek agama, maka bid’ah tersebut lebih berat dosanya dibandingkan dengan bid’ah yang dampak kerusakan tidak meluas seperti itu. Misalnya, ada seseorang yang memiliki keyakinan bahwa semua hadits ahad itu tidak boleh dipakai dalam bab aqidah. Maka dampak dari bid’ah semacam ini sangat besar kerusakannya. Banyak bab dalam agama yang rusak jika aqidah yang menyimpang itu diterapkan. (Lihat Qawa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 31-32)
Oleh karena itu, dalam membandingkan antara bid’ah dan maksiat, kita perlu melihat dan mengkaji kasus per kasus secara lebih dalam manakah yang lebih fatal dan lebih besar bahayanya. Tidak bisa digeneralisir bahwa semua bid’ah apapun itu lebih berat atau lebih besar dosanya dibandingkan maksiat apapun itu. Sehingga, ungkapan “Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat” adalah ungkapan yang bersifat umum (general), dan tidak bisa diterapkan untuk membandingkan secara langsung satu per satu bid’ah dan maksiat.
Contoh, seseorang berbuat zina dengan ibu kandungnya sendiri. Kemudian dibandingkan dengan bid’ah melafazkan niat (ushalli). Manakah yang lebih besar dosanya? Dalam kasus ini, kita tidak terburu-buru mengatakan bahwa bid’ah ushalli itu lebih besar dosanya dibandingkan dosa berzina dengan ibu kandung sendiri.
Syekh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah ditanya, “Manakah yang lebih besar dosanya, durhaka kepada kedua orang tua ataukah bid’ah?”
Maka, beliau hafizahullah menjawab bahwa durhaka kepada orangtua itu lebih besar dosanya daripada bid’ah. Hal ini karena Allah Ta’ala menyebutkan dosa durhaka kepada orang tua sebagai dosa besar setelah syirik. Juga dalam berbagai hadis disebutkan bahwa dosa besar yang paling besar setelah kesyirikan ialah durhaka kepada orangtua. (Sumber ada di sini)
Oleh karena itu, pernyataan ulama “Bid’ah lebih disukai iblis daripada maksiat” adalah perkataan yang perlu diperinci. Perkataan ini tidak bisa dibawa secara mutlak ke dalam setiap contoh kasus maksiat dan bid’ah. Akan tetapi, semua tergantung pada kadar bid’ah atau maksiat tersebut dan juga indikasi (keadaan) yang menyertainya. Apalagi bid’ah juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada bid’ah yang bisa menyebabkan pelakunya kafir, seperti bid’ah dalam masalah aqidah. Namun, ada bid’ah yang tidak sampai seperti itu, seperti bid’ah dalam amaliyah tertentu. Misalnya, membunuh seorang muslim, apalagi membunuh orang tua sendiri, zina dengan ibu kandung, atau bunuh diri, perkara ini jelas lebih besar dosanya dibandingkan dengan bid’ah bersalam-salaman selepas salat berjamaah.
🔰 Perbuatan bid’ah akan mengantarkan kepada maksiat, termasuk kekafiran dan kemusyrikan
Dari sisi yang lain, seandainya kita mencermati berbagai jenis bid’ah, kita bisa melihat bahwa bid’ah itu seperti penyakit yang merusak jasad seseorang. Bid’ah bisa merusak agama seseorang, bisa merusak akhlak, merusak harta dan kekayaan, dan juga bisa merusak kedudukan ilmiah dan martabat seseorang.
Contoh, salah satu jenis kebid’ahan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin adalah upacara peringatan tanggal kematian seorang wali (orang saleh) yang terkenal, yang disebut dengan acara haul. Meskipun wali tersebut sudah meninggal ratusan tahun yang lalu, sebagian orang masih rutin mengadakan acara haul untuk memperingati tanggal kematiannya. Kita bisa melihat bahwa acara-acara tersebut kemudian terdapat campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, dan ini adalah kemaksiatan. Juga bisa mengantarkan kepada maksiat yang lain berupa kemusyrikan yang bertentangan dengan tauhid.
Demikian pula, bid’ah berupa perayaan-perayaan yang tidak ada tuntunan dari agama. Kita bisa melihat dalam bid’ah tersebut kemudian terdapat kemaksiatan berupa musik, joget-jogetan, campur baur antara laki-laki dan perempuan, dan berbagai kemaksiatan yang lainnya.
Oleh karena itu, tidaklah heran jika sebagian ulama mengatakan,
البدع دهليز الكفر و النفاف
“Bid’ah itu gerbang atau pagar menuju kekafiran dan kemunafikan.” (Majmu’ Al-Fataawa, 3: 230) (Lihat Ilmu Ushuul Bida’, hal. 219-220)
Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
والخلاصة: أن البدعة سبب للكفر ولا يرد على هذا قول بعض أهل العلم: إن المعاصي بريد الكفر; لأنه لا مانع من تعدد الأسباب.
“Ringkasnya, bid’ah adalah sebab menuju kekafiran. Dan hal ini tidaklah bertentangan dengan perkataan sebagian ulama bahwa sesungguhnya maksiat itu adalah pos menuju kekafiran. Hal ini karena boleh saja sebab kekafiran itu banyak (tidak hanya satu, pent.).” (Al-Qaulul Mufiid, 1: 385).
Sumber: https://muslim.or.id/71101-perbedaan-bidah-dan-maksiat-bag-3.html
━━━━━━━━━━━━━━━━
𝑴𝒆𝒅𝒊𝒂 𝑫𝒂𝒌𝒘𝒂𝒉 𝑴𝒖𝒔𝒉𝒂𝒊𝒓𝒂
https://whatsapp.com/channel/0029Vah9iFTLCoWstm2a7B2f
📌 Web
Info.mushaira.id
Mushaira.id
Childcare.mushaira.id
Iou.mushaira.id
Sahabatliterasi.mushaira.id
📱 Aplikasi
App.Mushaira.id
⏰ Reminder Waktu Sholat & Nasehat Harian
Safari.Mushaira.id
📗 Majalah
Majalah.mushaira.id
📚 Laporan Program
Arsip.mushaira.id
📷 Instagram
Instagram.com/mediadakwahmushaira
Instagram.com/mushairapeduli
Instagram.com/sahabatliterasimushaira
Instagram.com/mushairaqlc
🎥 Youtube
Youtube.com/mediadakwahmushairatv
📡 Telegram
t.me/mediadakwahmushaira
t.me/mushairapeduli
(gwa-mida-jatim).


