SURABAYA-kanalsembilan.com (26 Juni 2026)
Meski harus mengurangi jumlah tenaga kerja, General Manajer (GM) hotel harus berani melakukan terobosan dengan menggunakan teknologi AI dalam manajemen industri perhotelan.
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin membuka peluang baru bagi industri perhotelan. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat pengambilan keputusan berbasis data, hingga mendorong produktivitas karyawan. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, keamanan data perusahaan tetap harus menjadi prioritas utama.
Hal itu disampaikan Founder & CEO WIT.ID, Irfan Arsandi, dalam Workshop AI for Hospitality: Revolutionizing Work, Exceeding Expectations yang digelar di MORAZEN Surabaya, Selasa (23/6/2026).
Menurut Irfan, industri perhotelan memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan AI di berbagai lini pekerjaan, mulai dari pelayanan pelanggan, administrasi, hingga analisis bisnis.
“Output akhirnya adalah data-driven decision making. Dengan begitu, pemilik hotel maupun general manager tidak lagi harus menghabiskan waktu berjam-jam membahas dokumen dalam rapat karena AI mampu menyajikan rangkuman dan analisis secara cepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, AI dapat membantu berbagai pekerjaan rutin, seperti membuat notulen rapat (minutes of meeting), menyusun kontrak kerja, melakukan analisis bisnis, hingga merangkum data operasional hotel secara otomatis.
Menurutnya, penerapan AI bukan bertujuan menggantikan tenaga kerja, melainkan meningkatkan efektivitas pekerjaan. Dengan demikian, karyawan dapat lebih fokus pada tugas-tugas strategis yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan, seperti pengembangan bisnis dan peningkatan kualitas layanan kepada tamu.
“Tujuannya bukan menggantikan manusia, tetapi membuat pekerjaan menjadi lebih efektif sehingga karyawan bisa fokus pada hal-hal yang lebih bernilai bagi perusahaan,” katanya.
Meski demikian, Irfan mengingatkan bahwa transformasi digital harus diiringi dengan sistem perlindungan data yang memadai. Ia menilai kebocoran data masih menjadi tantangan serius sehingga perusahaan harus cermat dalam menentukan platform AI yang digunakan.
Ia mengibaratkan layanan cloud sebagai “baju Iron Man”, sementara AI berfungsi layaknya asisten virtual seperti Jarvis atau Friday. Namun, untuk perusahaan yang mengelola data sensitif, penggunaan AI berbasis cloud dinilai tidak selalu menjadi pilihan paling aman.
“Kalau datanya bersifat rahasia, lebih baik menggunakan sistem on-premise. AI dijalankan melalui server internal perusahaan sehingga data tidak keluar ke internet. Cara ini jauh lebih aman untuk menjaga kerahasiaan informasi perusahaan,” jelasnya.
Sebagai contoh, Irfan memperkenalkan Mora Intelligent Assistant (MIA) yang dikembangkan Mora Group. Sistem AI tersebut berjalan melalui server internal perusahaan sehingga seluruh proses pengolahan data dilakukan di lingkungan sendiri, sekaligus meminimalkan risiko kebocoran informasi.
Selain aspek keamanan, Irfan juga mendorong pelaku industri agar memiliki pola pikir terbuka terhadap perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat. Menurutnya, perusahaan tidak perlu bergantung pada satu platform, melainkan menerapkan konsep AI agnostic, yakni memanfaatkan berbagai platform AI sesuai kebutuhan.
Ia menyebut sejumlah platform seperti NotebookLM, Gemini, dan Claude dapat dimanfaatkan untuk menyusun dokumen, melakukan riset, hingga menghasilkan ide-ide kreatif secara lebih efisien.
“Jangan fanatik terhadap satu AI saja. Gunakan platform yang paling sesuai dengan kebutuhan karena perkembangan teknologi ini berubah hampir setiap hari,” ujarnya.
Irfan menambahkan, keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia untuk terus belajar dan beradaptasi.
“AI bukan lagi sekadar tren. Industri perhotelan perlu mulai mengadopsinya agar tetap kompetitif. Namun implementasinya harus dilakukan secara bijak dengan tetap mengutamakan keamanan data perusahaan,” pungkasnya. (za).


