Oleh: Imam Mawardi Ridlwan
Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al Azhaar Indonesia
Siang bakda sholat Jum’at, 26 September 2025, saya menghadiri walimah manten di Sundul Parang, Magetan Jawa Timur. Ketika tiba pukul 13.00, di teras kelas masih ada ompreng makanan program MBG. Saya bertanya pada Mas Sarmin, “Sudah berapa lama ada layanan makanan dengan ompreng ini?”
“Program MBG baru saja pekan ini,” jawab Mas Sarmin .
“Semoga berkah, Mas,” sahut saya.
Namun pertanyaan berikutnya dari Mas Sarmin menyentuh sisi yang lebih dalam: “Abah Kyai, bagaimana supaya makanan MBG aman, tidak terkena seperti berita-berita itu?”
Saya menjawab, “Disuwuk Mas. Dido’i, anak-anak diajak doa, Mas.”
Bentengi Dengan Doa
Program MBG bukan sekadar distribusi makanan. Ia adalah amanah. Setiap pagi, Senin hingga Jum’at, tim MBG berkhidmat dengan sabar mengantar makanan ke sekolah-sekolah. Di titik akhir, para guru menjadi penjaga terakhir sebelum makanan sampai ke tangan anak-anak. Di sinilah doa menjadi benteng langit dan bumi.
Doa bukan formalitas. Ia adalah perisai. Saya mendapatkan ijazah doa dari guru saya, Abi KH. M. Ihya Ulumiddin, untuk menjaga agar makanan menjadi asupan yang aman. Doa ini melindungi dari dampak negatif makanan, termasuk jika terkontaminasi bakteri, kuman, atau virus.
> بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dengan nama Allah, yang dengan menyebut nama-Nya, tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakan di bumi maupun di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Makna doa tersebut :
– بِسْمِ اللَّهِ
Tawakkal dan permohonan perlindungan. Menyebut nama Allah adalah awal dari segala kebaikan.
– الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ
Nama Allah adalah benteng dari segala bahaya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
– وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Allah mendengar setiap doa dan mengetahui setiap niat. Tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi:
“Barang siapa yang mengucapkan doa ini tiga kali di pagi hari dan tiga kali di sore hari, maka tidak akan ada sesuatu pun yang membahayakannya.”
Khidmat yang Bertirakat
Doa ini bukan hanya untuk anak-anak. Kasatpel, ahli gizi, akuntan, dan relawan SPPG juga sebaiknya membacanya sebelum memulai pelayanan. SOP yang disusun Badan Gizi Nasional (BGN) perlu melampaui batas materi. Ia harus bertumpu pada tirakat dan spiritualitas.
Guru saya, Abi Ihya, menyebut doa ini sebagai deklarasi spiritual. Sebuah benteng perlindungan fisik dan metafisik. Ia mengajarkan bahwa sebelum makanan masuk ke tubuh, perlindungan harus dimohonkan kepada Allah Ta’ala.
Para guru penerima manfaat MBG tidak sekadar mengajak melafazkan doa. Mereka mengajak menghayatinya. Bahwa nama Allah bukan sekadar sebutan, tapi perisai. Bahwa bumi dan langit tunduk pada kehendak-Nya. Bahwa segala rencana, ancaman, dan ketakutan menjadi kecil di hadapan Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Doa Sebagai Syukur dan Penjagaan
Doa juga adalah bentuk syukur. Ia mengajarkan bahwa makanan bukan sekadar nutrisi, tapi amanah. Bahwa kelancaran program MBG bukan hasil kerja keras semata, tapi penjagaan dari Yang Tak Terlihat.
Saatnya BGN dan seluruh pelaksana MBG menyadari: SOP terbaik adalah yang dimulai dengan doa. Tirakat adalah bagian dari manajemen. Dan khidmat yang tulus adalah benteng dari segala fitnah.
Mari ajak anak-anak berdoa sebelum menikmati MBG. Karena di balik ompreng itu, ada harapan, ada perlindungan, dan ada cinta dari langit.


