📚TAFSIR JUZ 29 (101)
📖 QS. al-Haqqah/69: 38-43
▶️ AL-QUR’AN BENAR-BENAR WAHYU DARI ALLAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
Sahabat yang dirahmati Allah,
Pada rangkaian ayat ini, Allah tidak lagi menggambarkan kedahsyatan Kiamat, tetapi mengajak manusia berdiri di hadapan sumber kebenaran itu sendiri: dari mana sebenarnya Al-Qur’an berasal.
Allah bersumpah dengan segala yang dapat kita lihat dan yang tidak dapat kita jangkau oleh pancaindra, dunia yang kasat mata dan alam yang ghaib, untuk menegaskan satu perkara agung: kalām ini bukan ciptaan manusia, bukan buah imajinasi penyair, dan bukan bisikan tukang tenung.
Di tengah tuduhan kaum musyrik yang meragukan risalah Nabi Muhammad ﷺ, Allah mengangkat martabat wahyu ini sebagai firman yang turun langsung dari Rabb seluruh alam semesta. Sebuah kalām yang tidak hanya indah dalam susunan bahasa, tetapi juga kokoh dalam kebenaran, dalam petunjuk, dan dalam daya mengubah hati serta peradaban.
Ayat-ayat ini mengajak kita bukan sekadar mendengar Al-Qur’an sebagai bacaan, tetapi menerimanya sebagai sumber keyakinan, rujukan hidup, dan tolok ukur kebenaran yang memisahkan antara wahyu ilahi dan semua bentuk ucapan manusia, seindah dan sepintar apa pun ia disusun.
Penegasan agung inilah yang Allah firmankan dalam ayat-ayat berikut:
{فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ (38) وَمَا لَا تُبْصِرُونَ (39) إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (40) وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تُؤْمِنُونَ (41) وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ (42) تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ (43)} [الحاقة : 38-43]
(38) Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat, (39) dan demi apa yang tidak kamu lihat. (40) Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, (41) dan ia (Al-Qur’an) bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. (42) Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. (43) Ia (Al-Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.
Kosakata: Kahin كَاهِنٍ (al-Haqqah/69: 42)
Kahin adalah isim fa‘il (pelaku) dari kahana, yak-hanu/yak-hunu, kahanatan, yang berarti menyebarkan berita masa lalu yang tersembunyi atau menduga sesuatu yang gaib. Al-Kahn merupakan bagian dari az-zann (persangkaan). Kata kahana digunakan untuk mereka yang melakukan pendugaan atau persangkaan, sedangkan kata kahuna adalah untuk mereka yang menjadikannya sebagai profesi. Adapun orang yang memberikan informasi masa yang akan datang (prediksi) disebut dengan al-‘arrqf. Sebagian menganggap bahwa antara kahin dan ‘arraf adalah sama yaitu mereka yang mengaku mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi pada masa lalu dan kejadian-kejadian yang akan datang seperti pengetahuan terhadap sesuatu yang dicuri, mengetahui orang yang tersesat, dan sebagainya. Pengetahuan mereka pada masa Jahiliah didapat dari informasi yang datang dari jin dan setan yang mencuri berita dari langit (al-Hijr/15: 18). Jadi kahin bisa diartikan dengan tukang tenung, tukang ramal, dukun atau seseorang yang melakukan pekerjaan seperti mereka. Setelah Islam datang, praktek perdukunan dilarang. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang mendatangi ‘arraf atau kahin dan membenarkan apa yang dikatakannya maka ia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan kepada Abi Qasim (Muhammad).” Lafal ini hanya terulang dua kali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam ayat ini dan Surah at-Tur/52: 42.
Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang kebenaran yang disampaikan Nabi Muhammad kepada kaumnya. Bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an bukanlah perkataan seorang penyair yang pandai mengolah kata tanpa melihat benar atau salah sesuatu yang dikandungnya. Al-Qur’an juga bukanlah perkataan tukang tenung atau tukang ramal yang hanya bisa memprediksi dan menduga-duga sesuatu tanpa dasar dan bukti yang jelas sehingga banyak menipu dan mengelabui masyarakat. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan Allah, Tuhan Semesta Alam.
Munasabah
Pada ayat-ayat yang lalu, dikemukakan bukti-bukti tentang adanya hari Kiamat, bagaimana kedahsyatannya, dan menyebutkan pula keadaan orang mukmin dan orang kafir pada waktu itu. Pada ayat-ayat berikut ini, diterangkan keagungan Al-Qur’an dan rasul yang membawanya.
❇️ Tafsir
(38-40) Menurut Muqatil bahwa ayat-ayat ini diturunkan berhubungan dengan sikap para pemuka Quraisy ketika mendengar bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti perkataan al-Walid bin al-Mugirah bahwa sesungguhnya Muhammad seorang pesihir, perkataan Abu Jahal bahwa Muhammad seorang penyair, dan perkataan ‘Uqbah bahwa Muhammad seorang tukang tenung. Ayat ini membantah perkataan-perkataan itu.
Allah menegaskan kepada orang musyrik Mekah dengan bersumpah dengan makhluk-Nya, baik yang dapat dilihat, diketahui, dan dirasakan dengan pancaindra maupun tidak, bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad itu benar-benar wahyu dari-Nya. Al-Qur’an bukan perkataan Muhammad atau perkataan yang diada-adakan Muhammad kemudian dikatakan sebagai firman Allah.
Dari perkataan bima tubsirun (segala yang dapat kamu lihat) dapat dipahami bahwa sebenarnya orang musyrik Mekah seharusnya dapat meyakinkan bahwa Al-Qur’an itu berasal dari Allah, bukan buatan Muhammad. Hal ini berdasarkan pada pengetahuan yang ada pada mereka, seperti pengetahuan tentang Muhammad, pengetahuan tentang gaya bahasa dan keindahan bahasa Arab yang terdapat dalam Al-Qur’an, dan isi Al-Qur’an itu sendiri. Kemudian dari perkataan “wama la tubsirun” (dan apa yang tidak kamu lihat) dipahami bahwa banyak hal yang tidak diketahui oleh orang musyrik Mekah. Jika mereka mengetahui yang demikian itu, tentu akan dapat menambah keyakinan dan kepercayaan mereka kepada Muhammad.
(41-42) Al-Qur’an bukan syair seperti yang biasa diucapkan penyair- penyair mereka, karena Al-Qur’an di samping indah susunan gaya bahasanya juga mempunyai isi yang dalam. Syair-syair yang diucapkan para penyair mereka tidak memiliki susunan gaya bahasa seindah susunan dan gaya bahasa Al-Qur’an dan tidak mempunyai arti yang tinggi. Banyak terdapat ayat Al-Qur’an yang menantang orang musyrik agar membuat yang serupa atau sebanding dengan Al-Qur’an, tetapi mereka tidak sanggup melakukannya.
{وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ (23) فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا وَلَن تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (24)} [البقرة : 23-24]
Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (al-Baqarah/2: 23-24)
Ditegaskan pula bahwa Al-Qur’an itu juga bukan berasal dari perkataan tukang tenung. Biasanya tukang tenung teman setan karena mereka menenung itu semata-mata mencari-cari bisikan setan. Padahal Al-Qur’an mencela perbuatan setan, sehingga dengan demikian, ia bukan bisikan setan dan bukan pula hasil tukang tenung. Sehubungan dengan itu, ayat ini menyanggah orang-orang musyrik agar tidak buru-buru berkesimpulan bahwa Al-Qur’an itu adalah tenung hanya karena belum atau tidak mengetahui isi Al-Qur’an. Sangat sedikit di antara mereka yang mau beriman kepada Al-Qur’an ketika itu, dan mau mengambil pelajaran dari isinya. Mukjizat Qur’an terletak pada isi. Makin tinggi ilmu pengetahuan seseorang, akan makin mudah mencerna maksudnya, di samping nilai bahasanya.
Umat Islam Indonesia pada umumnya kesulitan membuktikan dan mengetahui letak kemukjizatan Al-Qur’an dari segi bahasa, karena untuk mengetahui ketinggian susunan kata-kata haruslah dapat merasakan keindahan gaya dan bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, untuk mengetahui ketinggian Al-Qur’an, cukup dengan mengetahui pendapat dan sikap para sastrawan Arab penantang Islam terhadap Al-Qur’an itu. Di antaranya adalah Abu al-Walid, yaitu seorang pemimpin dan sastrawan Arab yang terkenal pada masa itu. Ia pernah diutus kaumnya kepada Nabi saw untuk meminta beliau menghentikan dakwahnya. Mendengar permintaan Abu al-Walid itu, Nabi saw membaca Surah Fussilat/41 dari ayat pertama hingga akhir ayat 14. Abu al-Walid terpesona mendengar ayat-ayat itu, sehingga ia termenung memikirkan keindahan gaya bahasanya. Lalu ia langsung kembali kepada kaumnya. Ketika ditanya tentang hasil pertemuan itu, ia mengatakan kepada kaumnya, “Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu. Apa yang dibaca itu bukanlah syair, sihir, atau kata-kata ahli tenung. Mendengar jawaban Abu al-Walid, mereka menuduh bahwa ia telah terkena sihir oleh Muhammad dan berkhianat kepada agama nenek moyang mereka. Di antara pemuka dan sesepuh Quraisy adalah al-Walid bin al-Mugirah. Orang ini pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Nabi. Maka ia berkata kepada kaumnya (Bani Makhzum), “Baru-baru ini aku mendengar dari Muhammad suatu ucapan yang menurutku bukanlah perkataan manusia atau jin. Ucapan itu enak didengar, bagus disimak, laksana sebatang pohon, yang atasnya berbuah, dan bawahnya terhunjam ke tanah. Dia benar-benar unggul dan tidak akan dapat diungguli. Di samping dua orang tersebut, banyak juga sastrawan Arab pada waktu itu yang mencoba membuat yang serupa ayat-ayat Al-Qur’an , tetapi tidak seorang pun yang sanggup melakukannya.
Dari kedua ayat ini dapat dipahami bahwa sangat sedikit di antara kaum musyrik Mekah yang mengakui bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan Allah kepada Muhammad, begitu juga yang mengambil pelajaran dari isinya. Yang demikian itu adalah karena:
1. Mereka takut dikucilkan oleh kaumnya dengan mempelajari Al-Qur’an, walaupun hati dan pikiran mereka telah mengakuinya, seperti halnya pada Abu al-Walid dan al-Walid bin al-Mugirah.
2. Sebahagian mereka tidak mengetahui isinya karena tidak mau mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Mereka lebih dahulu mendustakannya.
(43) Al-Qur’an benar-benar berasal dari Tuhan Maha Pencipta, Maha Pengatur, Maha Penjaga dan Maha Menguasai seluruh alam.
💢 Kesimpulan
1. Al-Qur’an benar-benar wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad yang mempunyai budi pekerti yang mulia.
2. Mukjizat Qur’an dapat dibuktikan dari kedalaman isi dan bahasanya.
3. Al-Qur’an bukanlah perkataan penyair dan bukan pula perkataan tukang tenung.
4. Sedikit sekali manusia yang mau beriman kepada Al-Qur’an ketika itu, sedangkan ia adalah mukjizat yang terbesar dan abadi dari Allah.
InsyaaAllah besuk di lanjutkan ke
QS. al-Haqqah/69: 44-52 tentang “PERINGATAN ALLAH KEPADA MUHAMMAD SEANDAINYA IA MEMBUAT-BUAT AL-QUR’AN”
🎯 Sukseskan Gerakan Sholat Berjamaah di Masjid:
1. Takbiratul Ihram bersama imam minimal tidak masbuq.
2. “Rebutlah” shaf pertama dalam sholat berjamaah.
وَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ
Wa-Allāhu yaqūlu al-ḥaqqa wa huwa yahdī as-sabīl
Dan Allah mengatakan yang benar, dan Dia menunjukkan jalan yang lurus. (QS. Al-Aḥzāb/33: 4)
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
📝 Disusun oleh:
Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati
(Ketua KBIHU Baitul Izzah Sidoarjo, Hp/WA: 0811.254.005)
📚 Referensi:
1. Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi
yang Disempurnakan) Juz 29,
Departemen Agama RI,
diterbitkan oleh: Penerbit Lentera
Abadi, Jakarta, Dicetak oleh:
Percetakan Ikrar Mandiriabadi,
Jakarta, 2010
2. Aplikasi Quran Word by Word
Untuk terus dapat mengikuti materi-2 berikutnya, Gabung dan Klik link: https://chat.whatsapp.com/FHPkTNdtJ40FqRPFTMrpqw


