Google search engine
HomeAgama
“Belajar Lagi Sebagai Ijtihad Intelektual”




“Belajar Lagi Sebagai Ijtihad Intelektual”



ILMU VS ADMINISTRASI: DUNIA KAMPUS YANG SUDAH BERUBAH
Ketika “Publish or Perish” Menggeser Ruh Mencari Kebenaran
🧩 Episode 2 dari 8 – Serial Refleksi Akademik:
“Belajar Lagi Sebagai Ijtihad Intelektual”

Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
Surabaya, 21 November 2025

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
Yth Bapak/Ibu/Sahabat yang dirahmati Allah,

Ada generasi yang kembali ke kampus di usia matang, bukan untuk mengejar gelar, tapi untuk mengulang janji dengan ilmu. Datang membawa harapan menemukan ruang berpikir tempat ide diuji, argumen ditantang, dan kebenaran dicari pelan-pelan.

Yang menyambut, sering kali, justru:
formulir, template, rubric, similarity check, dan tuntutan: “Scopus Q berapa?”

Di sinilah kegelisahan ini lahir:
Apakah kampus masih rumah ilmu, atau sudah berubah menjadi pabrik dokumen?

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔹 1. Dari Ruang Ilmu ke Ruang Prosedur
━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Dulu, kita masih sering mendengar dosen berkata di kelas:

“Saya tidak tahu, mari kita cari bersama.”

Ada kerendahan hati intelektual. Ilmu dipahami sebagai perjalanan, bukan produk instan.

Sekarang, yang lebih sering terdengar:

“Ikuti format ini: paragraf 1–2 background, 3–4 state of the art, 5–6 gap, lalu rumusan masalah…”

Mahasiswa dan dosen sibuk:
• memastikan Turnitin di bawah angka tertentu,
• menyesuaikan judul dengan kata kunci yang Scopus-friendly,
• menata struktur agar “cocok template jurnal”.

Prosedur yang seharusnya alat perlahan menjadi tujuan.
Orang merasa sudah “berilmu” hanya karena:
• artikelnya lolos similarity,
• tampak rapi,
• dan terbit di jurnal dengan indeks panjang.

Padahal isinya sering jauh dari persoalan riil di lapangan.
Ini yang oleh sebagian pemikir disebut sebagai “kemenangan kekosongan” – the triumph of emptiness (Alvesson, 2013).

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔹 2. Publish or Perish: Ilmu Masuk ke Industri
━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Di seluruh dunia, kampus hidup dalam budaya: publish or perish – terbit atau lenyap (Moosa, 2018).
Tidak punya publikasi → seakan tidak ada di peta akademik.

Beberapa fakta global yang jarang dibicarakan di kelas:
1. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah artikel ilmiah yang terbit melonjak lebih dari ±50% (Financial Times, 2024).
2. Industri penerbitan ilmiah bernilai puluhan miliar dolar per tahun, dengan margin keuntungan tinggi bagi penerbit besar (Björk, 2023).
3. Hanya dari enam penerbit besar, Article Processing Charges (APC) yang dibayar penulis mencapai > USD 8,3 miliar (2019–2023), sekitar USD 2,5 miliar pada 2023 saja (Haustein et al., 2024).

Artinya:
• Ilmu bukan hanya diproduksi, tapi juga diperdagangkan.
• Artikel tidak lagi sekadar sumbangan pengetahuan, tapi juga mata uang karier.

Banyak jurnal open access bereputasi memasang APC di kisaran USD 1.500–3.000 per artikel (Solomon & Björk, 2012).
Bagi sebagian dosen di negara berkembang, ini setara:
• beberapa bulan gaji,
• biaya hidup satu keluarga,
• atau harga satu motor bekas.

Maka muncul kalimat getir di banyak grup WhatsApp akademik:

“Kita patungan APC ya, biar bisa accepted di Q1.”

Pada titik ini, publikasi berubah menjadi tiket sosial berbayar:
• untuk naik pangkat,
• untuk lulus,
• untuk sekadar diakui “ada”.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔹 3. Tekanan Tak Kasat Mata: Karier yang Disandera Skor
━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Tekanan ini tidak terlihat, tapi rasanya sangat nyata:
1. Dosen muda tahu: kontrak, kenaikan pangkat, dan penghargaan sering bergantung pada jumlah publikasi.
2. Mahasiswa S2/S3 tahu: kelulusan mereka dikunci oleh 1–2 artikel, yang belum tentu mencerminkan kedalaman perjalanan akademiknya.

Budaya publish or perish terbukti mendorong:
1. riset-riset yang dangkal dan repetitif,
2. praktik salami slicing (satu riset diiris menjadi banyak artikel kecil),
3 bahkan pelanggaran etika penelitian (de Rond & Miller, 2005; Moosa, 2018).

Secara fisik, kampus terlihat sibuk:
seminar, konferensi, call for papers.

Secara batin, ada yang diam-diam retak:
ruh keilmuan pelan-pelan terkikis.

Mahasiswa menulis karena takut tidak lulus.
Dosen menulis karena takut tidak naik pangkat.
Ilmu bergeser dari “mencari kebenaran” menjadi “mengumpulkan poin”.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔹 4. Pergulatan Pribadi: Datang dengan Niat, Disambut dengan Excel
━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Sebagai mahasiswa S3 di usia matang, aku datang ke kampus membawa:
1. pengalaman lapangan,
2. kegelisahan tentang haji, kemiskinan, stunting, dana umat,
3. dan keyakinan bahwa ilmu adalah amanah.

Aku membayangkan kampus sebagai tempat paling tepat untuk menggodok pertanyaan:

“Mengapa umat yang rajin beribadah masih kalah dalam struktur ekonomi dan kebijakan?”
“Mengapa dana besar umat belum berujung pada keadilan sosial?”

Tapi di hadapan sistem, yang lebih dulu muncul justru:

“Mas, ini bisa Q1 nggak?”
“Kalau mau SINTA 2, sudut pandangnya harus diubah begini…”
“Bagus kalau ada novelty, tapi jangan terlalu ‘keras’, nanti susah accepted…”

Di sinilah pergulatan itu nyata:
1. Antara menjadi “anak baik sistem” yang patuh semua prosedur,
2. atau menjadi “pembangkang halus” yang tetap menjaga substansi, meski tidak selalu scopus-friendly.

Aku tidak ingin jadi korban menyerah begitu saja pada sistem.
Tapi aku juga tidak mau jadi pelaku ikut melestarikan budaya angka tanpa ruh.

Lalu lahirlah satu tekad kecil:

“Kalau aku memilih tetap berada di dalam sistem,
aku harus belajar mengakali sistem tanpa menjual jiwa.”

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔹 5. Rekomendasi Strategis: Mengikuti Sistem, Tanpa Menggadaikan Ruh
━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Agar kita tidak tenggelam dalam lautan formulir dan indeks, beberapa sikap ini bisa menjadi ijtihad intelektual kita bersama:

1️⃣ Ikuti sistem sebatas yang perlu, tapi jangan jadi budaknya
1. Kita boleh memakai IMRAD, template, dan style sitasi.
2. Tapi jangan sampai struktur lebih dijaga daripada substansi.
3. Setiap kali menulis, tanya:
“Masalah nyata apa yang ingin aku sentuh?”
“Siapa yang akan terbantu kalau tulisan ini selesai?”

2️⃣ Pilih tema yang menyentuh luka sosial, bukan hanya aman untuk indeks
1. Tulis tentang: kemiskinan, stunting, korupsi kecil, ketidakadilan dana publik, ekonomi umat.
2. Jadikan artikel bukan hanya tiket kelulusan, tapi suara halus membela yang lemah.

3️⃣ Bangun ekosistem kecil yang sehat
1. Buat lingkaran diskusi yang menilai isi, bukan hanya “Q berapa?”.
2. Normalisasi kalimat:
“Aku belum tahu, mari kita pelajari.”
3. Jadikan kritik terhadap sistem sebagai bagian dari cinta pada ilmu, bukan sekadar keluhan pahit.

4️⃣ Menulis untuk dua majelis
1. Majelis pertama: reviewer jurnal yang menilai metodologi, sitasi, struktur.
2. Majelis kedua: umat di bawah yang bergulat dengan harga beras, biaya sekolah, antrian rumah sakit.
3. Idealnya:
a. Reviewer berkata: “Ini layak secara akademik.”
b. Umat berkata: “Ini terasa membela kami, meski bahasanya ilmiah.”

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔹 6. Dalil Penguat: Ilmu, Niat, dan Takut kepada Allah
━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Al-Qur’an mengingatkan:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَاءُ

Innamā yakhsyallāha min ‘ibādihil-‘ulamā’

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS. Fāṭir [35]: 28)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Innamal-a‘mālu bin-niyyāt

_“Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya…” _(HR. Al-Bukhārī & Muslim)

Maka:
• Publikasi tanpa niat yang benar bisa menjadi beban, bukan kemuliaan.
• Ilmu tanpa ruh bisa menjadi hijab, bukan jalan mendekat kepada Allah.

Di atas kertas, mungkin nama kita tampak “bersinar” oleh indeks.
Tapi di hadapan Allah, yang ditimbang bukan Q1, Q2, atau SINTA,
melainkan:

sejauh apa ilmu itu jujur, bersih, dan membela kebenaran.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔹 7. Penutup Reflektif & Ajakan
━━━━━━━━━━━━━━━━━━

*Sahabat yang dirahmati Allah^,

Kampus boleh berubah.
Regulasi bisa berkali-kali direvisi.
Indeks bisa semakin panjang dan rumit.

Tapi ada satu yang tidak boleh terbeli:

Niat kita mencari ilmu sebagai jalan menuju kebenaran, bukan sekadar jalan menuju kelulusan dan pangkat.

Belajar lagi di usia matang, bagiku, adalah:
• ijtihad untuk tidak sinis meski sistem melelahkan,
• ijtihad untuk tetap mengkritik sambil bekerja dari dalam,
• ijtihad untuk membuktikan bahwa di tengah banjir formulir, masih ada yang sungguh-sungguh mencintai ilmu.

Mari kita jaga bersama agar:
• Jurnal tidak menjadi berhala baru,
• Publikasi tidak menjadi alasan kita menghalalkan segala cara,
• dan kampus tidak kehilangan ruh sebagai rumah orang-orang yang jujur mencari kebenaran.

Jika hari ini kita masih mau:
• menulis dengan jujur,
• meneliti dengan niat ibadah,
• dan menolak menjual ruh hanya demi angka,

maka insyaAllah, di hadapan Allah dan sejarah, usaha kecil ini tidak akan sia-sia.

Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔗 Versi Panjang (Bab 1–8 Lengkap + Data & Rujukan Ilmiah):_
👉 https://www.facebook.com/share/p/1GU7uqARxA

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments