Ketika Bertanya Membuka Pintu Pengetahuan, Mempertanyakan Menguji Kebenaran
Oleh: Basa Alim Tualeka (Aalim)
A. Bertanya: Awal dari Semua Pengetahuan
Manusia menjadi makhluk yang berkembang karena memiliki kemampuan untuk bertanya. Sejak kecil, manusia bertanya tentang siapa dirinya, dari mana dunia berasal, mengapa sesuatu terjadi, bagaimana sesuatu bekerja, dan ke mana kehidupan akan diarahkan. Dari pertanyaan-pertanyaan itulah pengetahuan berkembang, ilmu pengetahuan lahir, dan peradaban mengalami perubahan.
Aristoteles membuka Metaphysics dengan gagasan bahwa manusia pada dasarnya memiliki dorongan untuk mengetahui. Ia menghubungkan keinginan mengetahui dengan pengalaman indrawi dan perkembangan manusia menuju pengalaman, keterampilan, penalaran, serta pengetahuan tentang sebab dan prinsip pertama.
Dengan demikian, bertanya bukan tanda kebodohan. Justru keberanian bertanya merupakan pengakuan intelektual bahwa manusia menyadari keterbatasan dirinya.
Orang yang mengatakan, “Saya tidak tahu, maka saya ingin mengetahui,” sebenarnya sedang membuka pintu menuju ilmu. Sebaliknya, orang yang merasa sudah mengetahui segala sesuatu akan sulit menerima pengetahuan baru.
Pertanyaan yang sederhana sekalipun dapat menghasilkan perubahan besar. “Mengapa benda jatuh ke bawah?” dapat membawa manusia pada pemahaman gravitasi. “Mengapa penyakit terjadi?” dapat mendorong penelitian kedokteran. “Bagaimana manusia dapat berkomunikasi lebih cepat?” dapat melahirkan berbagai teknologi komunikasi.
Karena itu, sejarah ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah sejarah manusia yang tidak pernah berhenti bertanya.
B. Socrates: Bertanya untuk Menguji Diri
Dalam tradisi filsafat Barat, Socrates merupakan salah satu tokoh paling penting dalam penggunaan pertanyaan sebagai metode berpikir. Ia tidak sekadar memberikan jawaban kepada orang lain. Ia justru mengajukan pertanyaan untuk menguji apakah seseorang benar-benar memahami apa yang diyakininya.
Melalui dialog, Socrates menunjukkan bahwa seseorang dapat merasa mengetahui sesuatu, tetapi ketika ditanya lebih mendalam ternyata dasar pengetahuannya belum kuat.
Plato dalam Apology menggambarkan Socrates sebagai orang yang menjalani kehidupan melalui percakapan, pemeriksaan diri, dan pemeriksaan terhadap orang lain. Gagasan terkenalnya adalah bahwa kehidupan yang tidak diperiksa atau direnungkan tidak layak dijalani.
Maknanya sangat relevan sampai sekarang: manusia tidak cukup hanya hidup; manusia perlu memeriksa bagaimana ia hidup, apa yang dipercayainya, dan apakah tindakannya benar.
Inilah pentingnya bertanya dan mempertanyakan.
C. Bertanya Berbeda dengan Mempertanyakan
Bertanya dan mempertanyakan mempunyai hubungan yang sangat erat, tetapi keduanya tidak persis sama.
Bertanya pada dasarnya merupakan usaha memperoleh informasi atau penjelasan. Seseorang bertanya, “Apa yang terjadi?” atau “Bagaimana cara melakukannya?”
Sementara mempertanyakan memiliki dimensi yang lebih kritis. Kita tidak hanya meminta jawaban, tetapi juga menguji jawaban tersebut.
Kita bertanya:
– Apa dasar pernyataan tersebut?
– Dari mana datanya?
– Siapa yang menyampaikan?
– Apakah sumbernya dapat dipercaya?
– Apakah terdapat bukti yang mendukung?
– Apakah terdapat bukti yang bertentangan?
– Siapa yang memperoleh manfaat?
– Apakah terdapat kepentingan tertentu?
– Apakah kesimpulannya sesuai dengan fakta?
Dengan demikian, bertanya mencari jawaban, sedangkan mempertanyakan menguji kualitas jawaban.
Keduanya harus berjalan bersama. Bertanya tanpa mempertanyakan dapat membuat manusia mudah percaya. Sebaliknya, mempertanyakan tanpa keinginan mencari kebenaran dapat berubah menjadi sikap sinis atau sekadar menolak.
D. Dari Informasi Menuju Pengetahuan
Kita hidup dalam zaman ketika informasi tersedia hampir tanpa batas. Dalam hitungan detik, seseorang dapat memperoleh berita, pendapat, video, statistik, komentar, dan berbagai klaim melalui internet.
Namun, banyaknya informasi tidak otomatis menjadikan manusia berpengetahuan.
Informasi harus diproses melalui verifikasi, analisis, perbandingan, interpretasi, dan pemahaman konteks. Di sinilah kemampuan berpikir kritis menjadi sangat penting.
Seseorang yang membaca satu berita kemudian langsung mempercayainya belum tentu memiliki pengetahuan. Ia baru memiliki informasi.
Pengetahuan lahir ketika informasi tersebut diuji dan dipahami.
Lebih jauh lagi, kebijaksanaan lahir ketika pengetahuan digunakan secara tepat, mempertimbangkan nilai, konsekuensi, kepentingan manusia, dan tanggung jawab moral.
Maka dapat dirumuskan:
Informasi → Verifikasi → Pengetahuan → Pemahaman → Kebijaksanaan → Tindakan.
Tanpa proses tersebut, informasi dapat berubah menjadi alat manipulasi.
E. Mempertanyakan Bukan Berarti Membangkang
Salah satu persoalan dalam kehidupan sosial adalah kecenderungan menganggap orang yang banyak bertanya sebagai orang yang sulit diatur atau suka membantah.
Padahal, mempertanyakan sesuatu tidak selalu berarti menolak.
Seorang akademisi mempertanyakan teori bukan karena membenci ilmu, tetapi karena ingin mengetahui apakah teori tersebut masih dapat dipertahankan.
Seorang wartawan mempertanyakan kebijakan bukan berarti anti-pemerintah, tetapi dapat menjadi bagian dari fungsi kontrol sosial.
Seorang anggota masyarakat mempertanyakan penggunaan anggaran bukan berarti tidak mendukung pembangunan. Justru pertanyaan tersebut dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap kepentingan publik.
Karena itu, masyarakat demokratis membutuhkan budaya bertanya dan mempertanyakan yang sehat.
Yang harus dihindari bukan pertanyaannya, melainkan pertanyaan yang dibangun atas fitnah, kebencian, manipulasi, atau informasi palsu.
F. Pendidikan Harus Mengajarkan Keberanian Bertanya
Pendidikan yang baik tidak seharusnya hanya menghasilkan peserta didik yang pandai menghafal jawaban.
Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu bertanya: mengapa, bagaimana, untuk apa, berdasarkan apa, dan apa akibatnya?
Guru bukan hanya pemberi jawaban. Guru juga harus menjadi fasilitator yang mendorong peserta didik menemukan jawaban melalui proses berpikir.
Mahasiswa juga tidak seharusnya hanya bertanya, “Apa jawaban yang diinginkan dosen?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah jawaban tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah?”
Dalam tradisi Socrates, pemeriksaan diri merupakan bagian penting dari kehidupan intelektual. Kajian filsafat modern mengenai Socrates juga menempatkan self-examination sebagai salah satu unsur penting dalam memahami kehidupan filosofisnya.
Maka pendidikan harus membangun tiga keberanian sekaligus: berani bertanya, berani menguji, dan berani mengakui kesalahan.
G. Kepemimpinan yang Mau Bertanya
Prinsip bertanya dan mempertanyakan juga sangat penting dalam kepemimpinan.
Pemimpin yang merasa dirinya paling tahu berpotensi membuat keputusan berdasarkan asumsi. Sebaliknya, pemimpin yang mau bertanya akan memperoleh informasi lebih luas sebelum mengambil keputusan.
Dalam pemerintahan, misalnya, sebelum sebuah program dijalankan harus ada pertanyaan mendasar:
Apa masalahnya? Siapa yang terdampak? Siapa sasaran program? Apa tujuan yang hendak dicapai? Berapa anggarannya? Siapa pelaksananya? Bagaimana mekanisme implementasinya? Apa indikator keberhasilannya? Bagaimana pengawasannya? Dan apakah masyarakat benar-benar memperoleh manfaat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar teori administrasi publik. Pertanyaan itu menentukan apakah sebuah kebijakan benar-benar menyelesaikan masalah atau hanya menghasilkan kegiatan dan laporan.
Program yang baik bukan hanya program yang indah dalam narasi, tetapi program yang dapat dibuktikan manfaatnya.
H. Kebijaksanaan Tidak Sama dengan Banyak Pengetahuan
Manusia dapat memiliki banyak informasi tetapi belum tentu bijaksana.
Seseorang dapat mengetahui hukum tetapi menggunakannya secara tidak adil. Seseorang dapat menguasai teknologi tetapi menggunakannya untuk manipulasi. Seseorang dapat memiliki kekuasaan tetapi menggunakannya untuk kepentingan pribadi.
Karena itu, kebijaksanaan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sekadar mengetahui.
Kebijaksanaan membutuhkan kemampuan memahami konsekuensi, membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan umum, serta memilih tindakan yang benar dan bermanfaat.
Aristoteles sendiri mengaitkan pengetahuan tingkat tinggi dengan pencarian prinsip dan sebab, serta menempatkan pertanyaan tentang tujuan dan kebaikan sebagai bagian penting dari pemahaman.
Dengan demikian, manusia yang bijaksana bukanlah manusia yang mempunyai jawaban untuk semua pertanyaan, tetapi manusia yang mengetahui pertanyaan mana yang penting dan bagaimana mencari jawabannya secara benar.
I. Dalil Al-Qur’an: Bertanya kepada yang Berilmu
Dalam perspektif Islam, mencari pengetahuan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Al-Qur’an memberikan prinsip agar manusia tidak berbicara tanpa pengetahuan dan mendorong manusia untuk bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan ketika tidak mengetahui.
Allah SWT berfirman:
«“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)»
Pesan ayat tersebut sangat jelas: ketika seseorang tidak mengetahui, jalan yang benar bukan berpura-pura tahu, melainkan mencari penjelasan kepada pihak yang memiliki ilmu.
Al-Qur’an juga mengingatkan:
«“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(QS. Al-Isra’: 36)»
Ayat ini memberikan dasar etis yang sangat kuat bagi budaya berpikir kritis. Manusia tidak boleh menerima, menyebarkan, atau mengambil keputusan berdasarkan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya.
Dengan demikian, tradisi bertanya harus disertai tanggung jawab moral: mencari kebenaran, bukan sekadar mencari pembenaran.
J. Bertanya dengan Akal Sehat dan Etika
Pertanyaan yang baik membutuhkan etika.
Kita boleh mempertanyakan kebijakan pemerintah, keputusan pemimpin, pendapat akademisi, teori ilmiah, bahkan keyakinan kita sendiri dalam konteks pencarian ilmu. Namun, semua itu harus dilakukan dengan argumentasi yang sehat.
Jangan menjadikan pertanyaan sebagai alat untuk menghina.
Jangan menjadikan kritik sebagai alasan untuk menyebarkan fitnah.
Jangan menjadikan perbedaan pendapat sebagai permusuhan.
Pertanyaan yang baik harus diarahkan kepada pencarian kebenaran, bukan kemenangan pribadi.
Di sinilah pentingnya kerendahan hati intelektual. Kita harus siap mengatakan, “Saya mungkin salah.”
Kalimat sederhana itu merupakan tanda kedewasaan berpikir.
K. Dari Bertanya Menuju Kebijaksanaan
Pada akhirnya, perjalanan manusia dapat digambarkan sebagai sebuah proses:
Bertanya melahirkan pencarian.
Pencarian melahirkan informasi.
Informasi yang diuji melahirkan pengetahuan.
Pengetahuan yang dipahami melahirkan kebijaksanaan.
Kebijaksanaan yang diwujudkan melahirkan perubahan.
Maka, bertanya bukan sekadar aktivitas intelektual. Bertanya adalah energi peradaban.
Mempertanyakan bukan sekadar sikap kritis. Mempertanyakan adalah mekanisme untuk menjaga agar pengetahuan tidak berubah menjadi dogma dan agar kekuasaan tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Socrates mengajarkan pentingnya pemeriksaan kehidupan. Aristoteles menegaskan dorongan alami manusia untuk mengetahui. Keduanya menunjukkan bahwa manusia berkembang ketika tidak berhenti mencari pemahaman.
L. Penutup: Jangan Takut Bertanya, Jangan Takut Mempertanyakan
Peradaban tidak maju karena manusia memiliki semua jawaban. Peradaban maju karena manusia terus mencari pertanyaan yang lebih baik.
Maka jangan takut mengatakan “Saya tidak tahu.”
Jangan takut bertanya.
Jangan takut mempertanyakan.
Tetapi lakukan semuanya dengan ilmu, data, akal sehat, etika, kerendahan hati, dan tanggung jawab.
Sebab pertanyaan yang baik dapat mengguncang kesalahan yang telah lama dianggap benar. Pertanyaan yang kritis dapat membuka jalan bagi penemuan baru. Dan pertanyaan yang disertai kebijaksanaan dapat mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang membawa manfaat bagi manusia.
Bertanya adalah awal dari pengetahuan.
Mempertanyakan adalah jalan menuju kebenaran.
Memahami adalah jembatan menuju kebijaksanaan.
Dan bertindak bijaksana adalah tujuan akhir dari pengetahuan.
Itulah sebabnya manusia harus terus bertanya dan terus mempertanyakan—bukan untuk sekadar menemukan jawaban, tetapi untuk menemukan kebenaran, makna, dan jalan kehidupan yang lebih baik.


