Google search engine
HomeDewan DakwahCahaya Tarawih di Rumah Sederhana Ujung Timur Negeri

Cahaya Tarawih di Rumah Sederhana Ujung Timur Negeri

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjayim.com, Atambua, Nusa Tenggara Timur — Jumat, 20 Februari 2026. Di sebuah rumah bercat ungu di wilayah Heykrik, Atambua, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema pelan namun penuh makna. Bukan di masjid besar, bukan pula di aula megah. Hanya di ruang tamu sederhana, dengan sajadah digelar seadanya.

Namun di tempat itulah iman ditegakkan.

Dua santri PPIC eLKISI, Alif Rassya (12 KU) dan Doper Al Faruq (9 Az), menjalankan amanah Praktek Dakwah Ramadhan (PDR) dengan mengisi kultum serta menjadi imam shalat Isya dan Tarawih bagi sekitar sepuluh keluarga Muslim yang tinggal di tengah lingkungan mayoritas non-Muslim.

Minoritas, Tapi Tidak Minor Semangatnya

Di kampung ini, umat Islam adalah kelompok kecil. Tarawih tidak selalu bisa dilaksanakan setiap malam. Ia hanya tegak ketika ada da’i yang datang. Dan malam itu menjadi momen istimewa — Tarawih pertama di kampung tersebut.

Anak-anak duduk di saf depan, membuka Iqra’ dan mushaf kecil mereka. Para orang tua menyimak dengan khusyuk. Wajah-wajah sederhana, namun penuh harap.

Kehadiran santri bukan sekadar memimpin shalat. Ia menjadi simbol bahwa mereka tidak sendiri.

Dakwah yang Nyata, Bukan Sekadar Cerita

Dalam kultum yang disampaikan, ditekankan pentingnya menjaga iman dalam keterbatasan. Bahwa jumlah bukan ukuran kemuliaan. Bahwa istiqamah di tempat sunyi lebih berat, namun lebih bernilai.

Warga menyampaikan harapan agar lebih sering dikirim da’i. Keterbatasan pembinaan agama masih menjadi tantangan. Mereka rindu bimbingan, rindu belajar, rindu didampingi.

Dan malam itu, ruang tamu kecil itu berubah menjadi pusat peradaban kecil — tempat iman diwariskan dari orang tua kepada anak-anaknya.

PDR: Melatih Kader, Menguatkan Umat

Program Praktek Dakwah Ramadhan PPIC eLKISI bukan hanya melatih mental berbicara di depan jamaah, tetapi membentuk ketangguhan berdakwah di medan nyata — di daerah minoritas, dengan segala keterbatasannya.

Karena dakwah sejati bukan tentang keramaian, tapi tentang keberanian hadir di tempat yang membutuhkan.

Di Heykrik, Atambua, sepuluh keluarga menjaga cahaya itu.
Dan malam itu, cahaya itu sedikit lebih terang.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments