Google search engine
HomeAgamaDewan Dakwah Jawa Timur Terjunkan Kader ADI ke Berbagai Wilayah

Dewan Dakwah Jawa Timur Terjunkan Kader ADI ke Berbagai Wilayah

Pelepasan Dai Praktek Dakwah Ramadhan 1447 Hijriyah

MOJOKERTO-kanasembilan.com (16 Februari 2026)

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Pelepasan Dai Praktek Dakwah Ramadhan (PDR) 1447 H/2026 M menjadi momentum strategis bagi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat gerakan dakwah berbasis kaderisasi. Melalui Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur, para dai muda resmi diterjunkan ke berbagai wilayah untuk mengisi khutbah Jumat, ceramah Ramadhan, pembinaan TPA, hingga pendampingan umat di tingkat akar rumput.

Program ini merupakan bagian dari sistem kaderisasi Dewan Dakwah secara berjenjang. Untuk lingkup Jawa Timur dilaksanakan melalui ADI, sedangkan untuk skala nasional dikelola oleh Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir (STID Moh. Natsir) di bawah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat.

Dr. Misbahul Anam: Dai Itu Tabib Umat

Dalam sambutannya, Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat, Ustadz Dr. Misbahul Anam, menyampaikan kebanggaan kepada para kader yang siap menjadi dai muda.

“Saya bangga kepada anak-anak yang hari ini siap terjun menjadi dai. Kalian bukan sekadar khotib atau penceramah. Dai itu bukan hanya membaca teks, tetapi membaca realitas,” tegasnya.

Beliau menggambarkan peran dai dengan analogi yang kuat.

“Dai itu laksana tabib. Ia mendiagnosa penyakit masyarakat, memahami akar persoalan, lalu memberikan terapi yang tepat. Kalau masyarakat sakit akhlaknya, perkuat tarbiyahnya. Kalau masyarakat bingung arah hidupnya, beri pencerahan,” ujarnya.

Menurut beliau, dai harus hadir sebagai mantri di tengah masyarakat — figur yang membimbing, mendampingi, dan memberi solusi nyata terhadap problem sosial, keluarga, dan keumatan.

“Jangan hanya normatif. Jadilah solutif. Ketika ada konflik, hadirkan rekonsiliasi. Ketika ada kebingungan, hadirkan penjelasan. Ketika ada kegelisahan, hadirkan ketenangan,” pesannya.

Dakwah: Gerakan Ilmu dan Keteladanan

Dr. Misbahul Anam juga menekankan bahwa dakwah adalah tugas peradaban yang membutuhkan kedalaman ilmu dan keteladanan akhlak.

Kader dakwah, menurutnya, harus mampu berdakwah dalam tiga ranah:

Bil-lisān — komunikasi publik yang argumentatif dan menyejukkan.

Bil-qalam — literasi yang mencerahkan dan membangun opini umat.

Bil-ḥāl — keteladanan nyata dalam kehidupan sosial.

Ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan dakwah bukan sekadar banyaknya jamaah, tetapi sejauh mana masyarakat merasakan manfaat dan perubahan positif.

“Kalau kehadiran kalian membuat masyarakat lebih tenang, lebih paham agama, dan lebih solid, berarti dakwah itu hidup,” ujarnya.

Kaderisasi Berkelanjutan

PDR 1447 H menjadi laboratorium kaderisasi bagi mahasiswa ADI Jawa Timur sebagai bagian dari mata rantai perjuangan Dewan Dakwah. Pembekalan telah dilakukan secara sistematis, mulai dari manhaj dakwah, fiqh Ramadhan, manajemen masjid, hingga pemetaan sosial wilayah penugasan.

Ramadhan menjadi momentum akselerasi, namun kaderisasi dai adalah proses berkelanjutan. Dari Jawa Timur, para dai muda diberangkatkan dengan satu misi: menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin melalui hikmah, solusi konkret, dan keteladanan nyata di tengah masyarakat.

Foto: Sebelah kanan kiri panggung adalah peserta KAFDA Dewan Dakwah Jatim yang akan diberangkatkan ke berbagai daerah di Jatim. (Dewandakwahjatim.com)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments