SURABAYA-kanalsembillan.comĀ (20 Februari 2026)
Tren pembelajaran daring yang berfokus pada peningkatan nilai akhir seringkali
menyebabkan kegagalan dalam evaluasi belajar siswa. Melihat persoalan tersebut, lulusan
program doktoral Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr
Bruri Trya Sartana SKom MM MKom, mengembangkan model sistem peringatan dini yang
memanfaatkan data perilaku belajar untuk mengidentifikasi risiko akademik pembelajaran
daring.
Bruri mengungkapkan, sistem pembelajaran daring yang memanfaatkan Learning
Management System (LMS) berpotensi menimbulkan pola-pola kegagalan dalam belajar. Ia
menggunakan jejak digital yang mencakup aktivitas akses materi, interaksi, serta pola
penyelesaian tugas untuk mengamati pola-pola yang menyebabkan kegagalan.
āEvaluasi akhir yang hanya memanfaatkan nilai akhir kurang efektif dalam menilai keberhasilan belajar siswa,ā jelasnya.
Lebih lanjut, dosen Fakultas Teknologi Informasi Universitas Budi Luhur tersebut
menambahkan bahwa risiko akademik merupakan faktor yang multidimensional. Faktor-
faktor tersebut dapat dilihat dari pola keterlibatan belajar siswa, stabilitas performa asesmen, dan perilaku prokrastinasi dalam menyelesaikan tugas.
āFaktor demografis turut diukur terhadap kemungkinan risiko kegagalan belajar siswa,ā tambahnya.
Dalam mengembangkan penelitiannya, lelaki asal Jakarta itu menggunakan pendekatan
machine learning non-linear dalam memodelkan hubungan antara variabel perilaku belajar
dan risiko akademik.
Dataset utama yang digunakan adalah Open University Learning
Analytics Dataset (OULAD) yang kemudian divalidasi menggunakan data LMS Moodle
institusional. āHal tersebut bertujuan untuk memastikan relevansi dalam implementasi di
lingkup pendidikan,ā terangnya.
Selain itu, Bruri juga menggunakan model penelitian Categorical Boosting (CatBoost)
dengan proses optimasi hiperparameter melalui framework Optuna. Untuk menjamin
reliabilitas model, evaluasi dilakukan menggunakan metode 5-fold stratified cross validation.
āPendekatan ini memungkinkan distribusi data yang seimbang, sehingga hasil evaluasi
menjadi lebih stabil dan minim bias,ā paparnya.
Melalui kombinasi pendekatan tersebut, Bruri menjelaskan bahwa model CatBoost mampu
memberikan performa paling unggul dibandingkan model pembanding lainnya. Keunggulan
tersebut terlihat pada nilai Area Under Curve (AUC), tingkat akurasi, serta konsistensi hasil
pada setiap tahap pengujian. āModel ini mampu mendeteksi mahasiswa berisiko sebelum
memasuki tahap evaluasi akhir,ā ungkapnya.
Dengan kombinasi tersebut, Bruri merancang sistem peringatan dini berdasarkan rentang
waktu tertentu. Ia membagi mekanisme deteksi risiko ke dalam tiga tahap, yakni jangka
pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. āSistem ini dapat mendeteksi risiko waktu
dekat hingga menghasilkan proyeksi potensi keterlambatan kelulusan,ā jelasnya.
Pada tahap jangka pendek, Bruri menuturkan bahwa sistem akan mengidentifikasi mahasiswa yang mulai menunjukkan penurunan keterlibatan belajar, seperti terlambat dalam mengumpulkan tugas.
Tahap jangka menengah akan memantau stabilitas performa asesmen dan pola konsistensi akademik. āTahap jangka panjang dirancang untuk memproyeksikan kemungkinan mahasiswa tidak mencapai target kelulusan tepat waktu berdasarkan performa
dan perilaku belajar yang terdeteksi sejak awal,ā bebernya.
Temuan ini membuktikan bahwa integrasi data LMS dengan pendekatan machine learning
non-linear dapat menjadi fondasi sistem peringatan dini yang akurat dan aplikatif. Lelaki
berkcamata itu menjelaskan bahwa penelitian ini mendukung komitmen Sustainable
Development Goals (SDGs) pada poin ke-4, yakni Pendidikan Berkualitas.
Dengan implementasi yang tepat, penelitian ini dapat membantu institusi pendidikan dalam
meningkatkan keberhasilan pembelajaran daring secara berkelanjutan. (han).
Reporter: Hani Aqilah Safitri


