Google search engine
HomePendidikanFenomena Hujan Mikroplastik, Pakar ITS Ingatkan Pentingnya Pengelolaan Sampah

Fenomena Hujan Mikroplastik, Pakar ITS Ingatkan Pentingnya Pengelolaan Sampah

Reporter: Bella Ramadhani

SURABAYA-kanalsembilan.com (29 Nopember 2025)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Oktober lalu mengeluarkan temuan hujan
mikroplastik di Jakarta yang disusul beberapa daerah lainnya dengan hasil yang sama.

Terkait hal tersebut, pakar lingkungan dari Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pun menyoroti lemahnya pengelolaan sampah, terutama sampah plastik, di Indonesia sebagai salah satu penyebab dari fenomena tersebut.

Dalam membahas hujan dengan kandungan mikroplastik ini, Prof Arseto Yekti Bagastyo ST
MT MPhil PhD menyatakan bahwa kondisi tersebut menunjukkan eskalasi keberadaan dari
mikroplastik.

Fenomena ini terjadi karena adanya atmospheric deposition atau proses
jatuhnya partikel maupun zat-zat di atmosfer ke permukaan bumi. “Mikroplastik pada air
hujan ini juga menjadi indikasi pergerakan banyaknya polutan mikroplastik di udara,”
tambahnya.

Arseto pun menjelaskan proses munculnya mikroplastik sekunder dalam kandungan air hujanini. Diawali dari degradasi makroplastik yang terjadi, terbentuk mikroplastik yang berukuran sangat kecil kurang dari 5 milimeter.

Terurainya partikel plastik tersebut ke lingkungan dapat disebabkan oleh paparan langsung dari angin, kondisi panas, sinar ultraviolet (UV) matahari, perubahan cuaca, serta aktivitas manusia.

Proses turunnya hujan mikroplastik ini dapat kembali melahirkan berbagai masalah baru yang membentuk sebuah rantai. Mikroplastik yang bermula dari udara dan turun melalui hujan dapat kembali terbawa air menuju sungai dan laut, serta terserap oleh tanah. Tak berhenti di sana, mikroorganisme dan berbagai biota juga dapat menyerapnya hingga secara tidak langsung terakumulasi ke dalam tubuh manusia yang dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Lebih lanjut, dosen berkacamata tersebut menyoroti keberadaan plastik sebagai objek utama yang sudah sangat melekat dalam gaya hidup masyarakat saat ini. Penggunaannya yang tidak dibarengi dengan pengelolaan sampah yang baik pun menciptakan permasalahan baru yang kian tak teratasi.

“Hal ini juga berkaitan dengan pembatasan timbulan dan penanganan
sampah yang masih belum efektif dan optimal,” tandasnya.

Lulusan University of Queensland, Australia ini juga mengungkapkan bahwa Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA) di Indonesia saat ini masih banyak yang dengan open dumping atau penimbunan secara terbuka.

TPA yang benar-benar menerapkan sanitary landfill atau
penimbunan sampah secara terkontrol bahkan tidak mencapai 50 persen. Guru besar di
bidang pengolahan limbah ini juga membeberkan bahwa hal tersebut telah menjadi
peringatan untuk para pemerintah daerah.

Meski begitu, Arseto tak menyangkal adanya faktor biaya operasional pengelolaan sampah
yang mahal disertai kurangnya kesadaran warga dalam pemilahan sampah menjadi bentuk
kendala yang utama saat ini. Lelaki asal Surabaya tersebut mendorong adanya sinergi dan
kontribusi antarpihak untuk tidak saling menggantungkan dan harus bergerak bersama.

“Pengelolaan sampah memerlukan integrasi dari hulu ke hilir yang melibatkan peran semua
pihak,” ujarnya.

Pada akhirnya, Arseto menambahkan bahwa kondisi yang muncul saat ini merupakan bentuk alarm atau wake up call dari alam yang diharapkan mampu membuka mata semua pihak.

Usaha untuk menangani isu ini dapat membantu dalam mencapai Sustainable Development
Goals (SDGs), salah satunya poin ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang
Bertanggung Jawab serta poin ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.

“Upaya dan peran dari masing-masing pihak lah yang diharapkan dapat semakin ditingkatkan,” tutup Arseto mengingatkan. (bel).

Reporter: Bella Ramadhani

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments