Hajinews.co.id – Bukti rasional keberadaan Allah SWT dapat ditemukan melalui observasi empirik dan logika yang mendalam terhadap fenomena alam. Al-Qur’an memberikan perhatian khusus pada pengamatan ini dengan mengajak manusia untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya.
Dalam banyak ayat, Al-Qur’an menampilkan fenomena alam sebagai bukti nyata keberadaan Sang Pencipta. Pengenalan Tuhan melalui alam merupakan bentuk dalil takwini, yaitu mengenali Allah melalui penciptaan-Nya.
Secara logis, para ulama menetapkan bahwa setiap akibat pasti memiliki sebab, dan setiap sesuatu yang baru pasti ada penciptanya. Hal ini bahkan dipahami oleh orang-orang sederhana. Sebagaimana jejak menunjukkan adanya perjalanan, maka langit yang penuh bintang dan bumi yang dipenuhi makhluk hidup menunjukkan keberadaan Sang Maha Pencipta.
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa mayoritas umat manusia mengakui adanya Tuhan, meskipun sebagian dari mereka menyekutukan-Nya dalam ibadah. Bahkan terhadap mereka yang mengingkari Tuhan, seperti Fir’aun, para Rasul tetap menyampaikan kebenaran dengan hujjah yang jelas.
Maka, dengan merenungi alam dan menggunakan akal sehat, manusia dapat semakin yakin akan keberadaan Allah dan keesaan-Nya.
Seperti ucapan Musa kepada Fir’aun, ‘Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.’ (QS. Al-Israa: 102). Ketika Fir’aun mengatakan, ‘Dan siapa Tuhan semesta alam.’ (QS. As-Syu’ara: 23), maka Musa mengatakan kepadanya, “Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya. Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?” Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.” Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.” Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.” (QS. As-Syuara: 24-28). (Minhajus Sunnah, 2/270.)
Dalil akal lain yaitu adanya keteraturan alam. Banyak ayat yang memerintahkan agar manusia memikirikan adanya keteraturan alam sebagai dalil dan pedoman yang akan membimbing orang-orang berakal mengenal Allah.
Ayat-ayat tersebut dipandang sebagai bukti dan tanda atas keberadaan, ilmu dan kekuasaan Tuhan. Diantaranya berbunyi: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS: Ali Imran [3]:190); Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (QS: Al-Dzariyat [51):20-21).
Ayat di atas menunjukkan bahwa alam semesta diciptakan dengan keteraturan yang sempurna, penuh hikmah, dan harmonis. Hal ini menegaskan bahwa Sang Pencipta adalah satu, yaitu Allah SWT, yang mengatur serta menyelaraskan segala ciptaan-Nya.
Dalam pemikiran ilmuwan Muslim, konsep ini dikenal sebagai argumen keteraturan (argument from design). Mereka berpendapat bahwa alam yang tersusun rapi dengan hukum-hukum yang tetap tidak mungkin terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan bukti adanya Tuhan yang menciptakan dan mengaturnya.
Selain melalui keteraturan alam, keberadaan Tuhan juga dapat dibuktikan melalui argumen filosofis tentang realitas wujud. Al-Farabi membagi wujud menjadi dua:
Wujud kontingen (mumkin al-wujud) – Wujud yang keberadaannya tidak niscaya dan bergantung pada sebab lain.
Wujud wajib (wajib al-wujud) – Wujud yang keberadaannya niscaya dan tidak bergantung pada sebab lain, yaitu Tuhan.
Segala sesuatu di alam ini termasuk dalam kategori wujud kontingen, karena keberadaannya bersifat sementara dan bergantung pada faktor lain. Maka, pasti ada satu wujud yang tidak bergantung pada apa pun, yaitu wujud wajib, yakni Allah SWT.
Sedang Ibnu Sina menjabarkan argumen imkan dan wujub untuk membuktikan eksistensi Tuhan. Menurutnya realitas wujud adalah wujud wajib dan wujud kontingen. Jika realitas wujud itu adalah Wujud Wajib maka terbuktilah realitas eksistensi Tuhan, dan jika realitas wujud itu adalah wujud kontingen, dikarenakan kemustahilan daur dan tasalsul, maka niscaya bergantung kepada Wujud Wajib (Al-Isyarat wa at-Tanbihat, 3/20).
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa argumen kaum ateis mengenai ketidakpercayaan terhadap adanya Allah sangat lemah. Mereka cenderung mengabaikan bukti keteraturan alam dan dalil rasional yang menunjukkan keberadaan Sang Pencipta.
Paham ateisme juga berbahaya karena dapat menghilangkan makna terdalam dari keyakinan terhadap Tuhan. Beberapa pemikir ateis bahkan mereduksi keyakinan kepada Tuhan sebagai sekadar proyeksi psikologis, pelarian, atau bentuk belenggu bagi manusia. Padahal, keimanan kepada Tuhan justru memberikan makna, ketenangan, dan tujuan hidup yang lebih luas, melampaui sekadar kebutuhan emosional atau sosial.
Dengan memahami bukti-bukti keberadaan Tuhan, baik melalui keteraturan alam maupun dalil filosofis, kita dapat semakin yakin bahwa iman kepada Allah adalah sesuatu yang berdasarkan akal sehat dan bukan sekadar kepercayaan buta.
Rasulullah telah memperingatkan kepada kita agar hati-hati dengan pemikiran yang mempertanyakan keberadaan Allah. Rasulullah bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian dan berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’ Apabila setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”[Riwayat Bukhari].
Semoga kita diselamatkan dari pemikiran kaum atheis yang sesat dan sewenang-wenang tersebut.*
Oleh: Bahrul Ulum
Penulis aktif di ICMI dan MIUMI Jawa Timur


