Google search engine
HomeNasionalINDONESIA DARURAT PENGUSAHA Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Kekuatan Wirausaha

INDONESIA DARURAT PENGUSAHA Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Kekuatan Wirausaha

✍️ Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
📍 Surabaya, 23 Januari 2026

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Sahabat semua yang saya hormati,
izinkan saya mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk berita politik, fluktuasi harga, dan kecemasan ekonomi untuk menatap satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Apakah bangsa ini sedang melahirkan cukup banyak pengusaha tangguh untuk berdiri di atas kaki sendiri?

Hari ini, Indonesia tidak kekurangan orang yang “berani mulai usaha”. Data global seperti Global Entrepreneurship Monitor (GEM) menunjukkan aktivitas wirausaha tahap awal kita termasuk tinggi. Di sisi lain, UMKM kita yang jumlahnya puluhan juta menyumbang sekitar 61% PDB dan menyerap hampir 97% tenaga kerja nasional.

Angka-angka ini terlihat mengesankan.
Namun di balik itu, ada kenyataan yang lebih sunyi:

Banyak yang mulai, tetapi terlalu sedikit yang benar-benar naik kelas.

Kita hidup di negeri yang kaya sumber daya, kaya pasar, kaya tenaga kerja. Tapi sering kali kita miskin nilai tambah.
Kita menjual bahan mentah, sementara nilai industri, teknologi, dan merek dinikmati pihak lain.
Kita ramai berdagang, tetapi masih lemah membangun rantai pasok yang kokoh.

Inilah yang saya sebut sebagai “Darurat Pengusaha” bukan darurat jumlah orang yang berjualan, tetapi darurat pengusaha yang produktif, berdaya saing, dan mampu menciptakan pekerjaan bermutu.

❇️ Realitas di Lapangan

Banyak UMKM kita masih bertahan di kelas mikro:
margin tipis, perputaran kecil, rentan guncangan harga, logistik, dan daya beli.
Akses pembiayaan pun sering buntu. Secara global, World Bank mencatat sekitar 40% UMKM formal mengalami keterbatasan akses kredit (credit-constrained) dan ini sangat terasa juga di negeri kita.

Akibatnya, banyak pelaku usaha ramai di pasar, tapi sulit masuk ke jantung ekonomi:
➡️ sulit menjadi pemasok industri,
➡️ sulit menembus ekspor (kontribusi UMKM ke ekspor nasional masih sekitar 15,7%),
➡️ sulit bertahan dan tumbuh lebih dari 3–5 tahun.

Di sisi lain, ekonomi digital dan pasar modern cenderung menguntungkan pemain besar: mereka menguasai data, logistik, iklan, dan akses modal.
UMKM sering menjadi price-taker, bukan penentu arah.

🧭 Masalah Ini Bukan Sekadar Ekonomi Tapi Masa Depan Bangsa

Ketika mayoritas usaha berada di skala mikro dan informal:
* Lapangan kerja ada, tapi tidak selalu bermutu.
* Daya beli rapuh.
* Basis pajak sempit.
* Ruang fiskal negara menyempit.

Akibatnya, negara kekurangan tenaga untuk membiayai pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial padahal itulah fondasi untuk melahirkan generasi pengusaha yang lebih kuat.

🔥 Saatnya Mengubah Cara Pandang

Kita tidak cukup hanya berkata:

“Ayo, buka usaha.”

Kita harus bertanya lebih dalam:
Bagaimana caranya usaha itu naik kelas, masuk rantai pasok, menembus pasar nasional dan global, serta menciptakan pekerjaan yang bermartabat?

Karena kemandirian bangsa tidak lahir dari banyaknya warung, tetapi dari kuatnya mesin wirausaha yang produktif dan berkelanjutan.

📊 Arah Solusi: Dari “Jumlah” ke “Kualitas”

Beberapa tolok ukur baru yang harus kita kejar bersama:

✔️ Berapa UMKM yang naik kelas setiap tahun (mikro → kecil → menengah)?
✔️ Berapa yang masuk rantai pasok industri?
✔️ Berapa yang tembus ekspor?
✔️ Berapa yang bertahan lebih dari 5 tahun dengan produktivitas dan omzet tumbuh?

🚀 Rekomendasi Strategis & Implementasi Nyata

1️⃣ Sekolah Pengusaha Serius (6–12 bulan, berbasis proyek nyata)
Bukan seminar sehari. Tapi cohort dengan target jelas:
omzet, margin, sertifikasi, efisiensi produksi, dan kontrak pasar.

2️⃣ Klaster Ekonomi Daerah
Satu daerah, satu mesin pertumbuhan:
klaster perikanan olahan, pangan halal, fesyen muslim, agribisnis, industri ringan, dan layanan digital.
Pendampingan jadi fokus, dampak jadi terukur.

3️⃣ Pembiayaan Bertahap Berbasis Kinerja
Dari pencatatan sederhana → digital footprint → scoring transaksi → pembiayaan mesin, sertifikasi, dan logistik.
Dana harus menjadi produktivitas, bukan konsumsi.

4️⃣ UMKM Masuk Jantung Pasar
Melalui off-taker, agregator, koperasi modern, dan kontrak pembelian.
Tanpa kepastian pasar, pelatihan tidak akan menghasilkan lompatan.

5️⃣ Digital sebagai Otak Usaha, Bukan Sekadar Etalase
Digital untuk:
pencatatan, stok, proyeksi permintaan, CRM pelanggan, efisiensi produksi, dan traceability.

📖 Dalil Penguat Arah Perjuangan

Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ

Wa qul i‘malū fasayarallāhu ‘amalakum wa rasūluhū wal-mu’minūn.
“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang beriman.” (QS. At-Taubah: 105)

Ayat ini bukan hanya perintah bekerja, tetapi perintah membangun karya yang terlihat, berdampak, dan memberi manfaat bagi umat.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Khairun-nāsi anfa‘uhum lin-nās
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
(HR. Ahmad no. 12646 ; HR. Ath-Ṭabarānī no. 5787 dalam Al-Mu‘jam al-Awsaṭ)

Wirausaha yang menciptakan pekerjaan, memperkuat pasar, dan mengangkat martabat ekonomi itulah bentuk manfaat sosial yang nyata.

🌄 Penutup: Dari Darurat Menuju Kebangkitan

Sahabat semua,
Indonesia tidak kekurangan keberanian untuk memulai.
Yang kita butuhkan adalah ketekunan untuk menumbuhkan.

Jika kita mampu membangun mesin pengusaha tangguh
yang produktif, berdaya saing, masuk rantai pasok, dan menembus pasar global
maka kemandirian bangsa tidak lagi sekadar slogan.

Ia akan terasa dalam hidup sehari-hari:
harga lebih stabil, pekerjaan lebih layak, industri tumbuh, ekspor menguat, dan martabat ekonomi berdiri di kaki sendiri.

Mari kita jadikan wirausaha bukan sekadar jalan bertahan hidup,
tetapi jalan membangun peradaban.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

🔗 Versi Artikel Panjang (Lengkap & Referensi Data): https://www.facebook.com/share/16v3fkoNMC/?mibextid=wwXIfr.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments