JAKARTA-kanalsembilan.com (29 November 2025)
Indonesia menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat sepanjang 2025 di tengah gejolak global. Capaian positif ini dinilai sebagai hasil kerja kolektif seluruh elemen bangsa dengan sinergi kuat antara kebijakan fiskal dan moneter.
Hal tersebut disampaikan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di Kantor Pusat BI, Jakarta.
Presiden Prabowo mengapresiasi peran Bank Indonesia yang terus menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendorong pertumbuhan melalui kolaborasi dengan pengelola kebijakan nasional lainnya. Ia menegaskan pentingnya kemandirian ekonomi dan kerja sama yang solid antarlembaga.
“Kita harus percaya pada kekuatan kita sendiri dan tidak boleh bergantung pada negara lain. Kebijakan harus dirumuskan dengan ketenangan, dilaksanakan dengan percaya diri, dan dengan tekad untuk berdiri di atas kaki sendiri,” tegas Presiden dalam arahannya.
Prospek Ekonomi Cerah, Pertumbuhan Diproyeksikan Meningkat
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia ke depan akan tumbuh lebih kuat dan berdaya tahan, meski ketidakpastian global diperkirakan tetap tinggi.
BI memproyeksikan:
Pertumbuhan ekonomi 2025: 4,7 – 5,5%
Tahun 2026: 4,9 – 5,7%
Tahun 2027: 5,1 – 5,9%
Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi dan investasi yang meningkat, serta ekspor yang tetap solid meski ekonomi dunia melambat. Inflasi nasional juga diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2026–2027 berkat konsistensi kebijakan moneter dan sinergi pengendalian inflasi di pusat dan daerah.
Perry menyoroti lima tantangan global yang wajib terus diwaspadai: kebijakan tarif AS, perlambatan ekonomi dunia, tingginya utang dan suku bunga negara maju, risiko sistem keuangan global, serta meningkatnya penggunaan uang kripto dan stablecoin swasta.
Sinergi Kebijakan jadi Kunci Transformasi Ekonomi
Sinergi antarkebijakan dinilai sebagai prasyarat untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional. Lima area penting yang menjadi fokus adalah:
1. Penguatan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
2. Dorongan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berdaya tahan.
3. Penguatan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan.
4. Akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan.
5. Penguatan kerja sama ekonomi bilateral dan regional.
Transformasi sektor riil juga disorot sebagai kunci peningkatan produktivitas, melalui kebijakan industrialisasi—termasuk hilirisasi SDA, pengembangan teknologi, dan industri padat karya—serta reformasi struktural untuk memperbaiki iklim investasi, infrastruktur, dan kebijakan perdagangan.
Arah Kebijakan BI 2026: Stabilitas dan Pertumbuhan Sejalan
Pada 2026, bauran kebijakan BI akan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus memanfaatkan ruang bagi dorongan pertumbuhan (“pro-stability” dan “pro-growth”). Kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran juga akan difokuskan pada akselerasi pertumbuhan ekonomi.
Penguatan pasar uang dan valas sesuai cetak biru BPPU 2030 menjadi prioritas, termasuk pendalaman pasar, pengembangan pasar sekunder yang modern, serta perluasan instrumen pembiayaan. Sementara itu, program ekonomi-keuangan inklusif—mulai dari UMKM hingga keuangan syariah—akan terus diperluas.
Penguatan Kelembagaan dan Raihan Penghargaan Internasional
BI juga melanjutkan transformasi kelembagaan berfokus tiga pilar:
Penataan fungsi organisasi dan proses kerja,
Digitalisasi kebijakan melalui Integrated Digital Central Bank (IDCB),
Penguatan SDM melalui peningkatan kapabilitas dan kepemimpinan.
Sepanjang 2025, BI meraih 10 penghargaan internasional, mempertegas reputasinya sebagai salah satu bank sentral terbaik di pasar negara berkembang.
Penghargaan TPID, TP2DD, dan BI Award 2025
PTBI 2025 juga dirangkaikan dengan penganugerahan TPID Award, TP2DD Championship, dan BI Award 2025 kepada 47 mitra strategis serta tiga penerima Special Award atas kontribusi mereka dalam menjaga nasionalisme dan kedaulatan ekonomi Indonesia.
Acara ini dihadiri Presiden RI, pimpinan lembaga negara, duta besar, menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga keuangan, perbankan, akademisi, media nasional, serta perwakilan lembaga internasional. Masyarakat luas turut mengikuti melalui siaran langsung kanal resmi Bank Indonesia. (za).


