(ketikan di keyboard hp menjelang dzuhur)
Pada setiap zaman, keberagamaan umat manusia selalu berubah, dinamis, dan bertransformasi.
Umat Islam memiliki cara beragama yang cukup berbeda sebagai rahmat.
Islam lahir karena traktat politik dalam perjanjian Hudaibiyah, jadi kenapa ada sebagian manhaj mengharamkan politik…?
Sebelumnya, beragama seseorang tidak terkait dengan pilihan politik tertentu, tapi kini cara beragama seseorang ditentukan oleh kiblat politik.
Masa umat Islam hanya boleh fokus pada ritual dan fikih (halam-haram), sekarang cara beragama kita sangat ditentukan tidak hanya ritual dan fikih serta pilihan politik, tapi juga antropologi dan demografi.
Sebelumnya, Islam adalah status religius personal dengan Tuhannya.
Status ini direfleksikan ke ruang sosial dan kebudayaan dengan cara artikulasi nilai2 kemanusiaan demi kebaikan seluruh umat manusia (rahmatul lil ‘alamin).
Kita adalah seorang yang Muslim atau bukan, hal itu merupakan urusan dapur.
Namun sekarang urusan dapur masuk ke beranda depan rumah demi menampilkan ke-Islamanannya.
Di mana pun kita se-olah2 harus mendalil dan menilai halal dan haram, syariat dan bukan syariat di ruang publik (sosial) dengan dalih syiar.
Spiritualitas seseorang bukan diukur sejauh mana orang tersebut menangis paling keras dengan air mata paling banyak.
Untuk menempuh jalan spiritualisme, rata2 ulama besar dan para ilmuwan selalu bermula dari fondasi ilmu pengetahuan terlebih dahulu.
Di dunia Islam, para sufi cenderung mempunyai tingkatan ilmu pengetahuan yang cukup tinggi dan mumpuni dengan jam terbang tinggi beserta penghayatan yang mendalam.
Sebut saja Al Ghazali dan Ibnu Arabi yang sudah dikenal wawasan keilmuannya di dunia.
Mereka adalah para pencari cahaya ilahi (spiritualis).
Mereka adalah beberapa model beragama dengan spiritualitas.
Singkat kata, semakin tinggi spiritualitas seseorang, maka semakin tinggi dan lama juga dialektika keilmuannya disertai penghayatan internalnya.
Tuhan memberi instrumen akal, indra, dan rasa untuk memahami semesta.
Dialektika antara manusia dan semesta adalah proses memahami diri, bukan mengobservasi manusia lain se-olah2 dirinya paling sempurna sudah selesai.
Memahami diri sendiri adalah proses refleksi diri terus-menerus ke dalam demi mengalahkan ego dan emosi sehingga mencapai level menuju/balik ke asal “fitrah”.
Manusia tidak akan pernah selesai dalam ber-Islam.
Islam adalah kata kerja yang setiap saat berubah.
Baik ulama hebat atau orang awam bisa saja terjatuh berbuat nista.
Namun perbuatan ini bagian dari proses beragama seseorang.
Ukuran Islam atau tidak ditentukan serta merta hanya pada saat seseorang berbuat nista atau tidak.
Namun sejauh mana penghayatan spiritualnya digumuli dengan bantuan instrumen akal dan rasa sebagai proses refleksi diri.
Sebaliknya, ber-Islam dengan emosi justru dipenuhi dengan nafsu besar akan keislaman sendiri.
Emosi mendukung seseorang untuk mengkafirkan atau menyalahkan orang lain baik dalam hati maupun secara langsung atau dengan sindiran.
Perilaku ini adalah sikap “rasis agama”.
Islam emosional adalah tipikal seseorang yang keberagamaannya merasa di atas dari orang lain, terutama perasaan dalam hatinya.
Kepercayaan dirinya bersumber dari emosinya atas orang lain yang berbeda dengan ajarannya.
Selain perasaan di atas yang lain, emosi mendorong perasaan terancam muncul, sehingga hati dan sikapnya menjadi semakin eksklusif. Bersama dengan orang2 yang bukan kalangannya, Islam garis emosional menjadi risih, gagap, dan asing.
Akibatnya, mereka hanya bergerombol bersama kalangan sejenisnya bahkan tinggal di perumahan yang sepaham, diluar yang sepaham dianggap ahlul bid’ah dan salah.
Ini fenomena homogenisasi agama, yang sedang di sebar-luaskan kaum emosional seperti pengikut Salafi Wahabi.
Semakin tinggi level emosi seseorang dalam beragama, maka semakin lemah pula level spiritual dan ilmu pengetahuannya.
Emosi memberi peluang bagi seseorang mengalami keresahan eksistensial, yakni keresahan yang tidak tampak dan tidak bersumber atau tidak ada sebabnya.
Analoginya, anak kecil yang takut terhadap sesuatu, akan merasa takut saja walaupun dijelaskan secara amat sangat rasional.
Jika semua ayat, surat, dan hadis dalam Islam dikumpulkan dengan fokus tema ancaman dan me-nakut2ti, maka seseorang yang beragama secara emosional dengan mudah menyerapnya lalu dengan mudah pula menyampaikannya ke pihak lain.
Cara ini efektif seperti pendidikan anak dengan cara ancaman, hukuman, dan penghargaan.
Padahal masih banyak tema lain yang lebih lembut, mendamaikan, dan rasional.
Dalam ajaran Islam ada hal prinsipil yang secara komprehensif menjadi fondasi beragama.
Garis besar atau gambaran besar beragama inilah yang seringkali diabaikan atau direndahkan.
Lalu terobsesi dengan kerangka beragama emosional yang “simple”, terlihat jelas, dan tidak membutuhkan proses perenungan spiritual dan refleksi pemikiran mendalam.
Jika kemudian diajak, maka mereka berkata, “Ah, hal itu begitu sulit dan rumit”.
Islam emosional memberi wajah Islam yang dipenuhi kekerasan dan kata2 kasar, hujatan ahlul bid’ah, khawaridj, anjing2 neraka dan lain2.
Namun semua itu dilabeli, didalihkan, dirujukkan pada teks2 yang dianggap suci dengan metode clear-cut (asal cocok, disesuaikan dengan kemauannya), itu metode kaum Salafi Wahabi.
Emosi dalam beragama begitu sangat subjektif.
Dampaknya akan berbahaya bagi kerukunan antara umat Islam di Indonesia. Keberagaman bisa jadi semakin terintimidasi serta terpinggirkan dalam proses homogenisasi.
Jika urusan subjektif-emosional dijadikan unsur objektif, diangkat di level publik, dan dirumuskan menjadi alat dakwah, maka Islam akan tergerogoti oleh emosi kolektif mayoritas.
Emosi kolektif berbahaya terhadap kehidupan ber-Islam dengan ummat yang heterogen.
Singkat kata, Islam emosional adalah perilaku seseorang yang mengakui Islam dan ber-KTP Islam, tapi proses ke-Islamannya justru jauh dari sari pati Islam.
Mengabdi kepada emosi dengan dalih agama menjadi amat sangat berbahaya bagi spiritualitas setiap umat Islam dan proses reproduksi ilmu pengetahuan yang rasional demi Islam berkemajuan untuk Islam itu sendiri.
(gwa-patriot-bangsa).


