Google search engine
HomeTausiyahJangan Menunggu Orang Tua Menelepon: Peran Anak Menciptakan Hubungan Harmonis dan Membahagiakan...

Jangan Menunggu Orang Tua Menelepon: Peran Anak Menciptakan Hubungan Harmonis dan Membahagiakan Ayah-Ibu Selagi Mereka Masih Hidup

Oleh: Basa Alim Tualeka (Aalim)

Ada satu kenyataan kehidupan yang sering terlambat kita sadari: orang tua tidak selamanya bersama kita. Selama ayah dan ibu masih hidup, anak memiliki kesempatan yang sangat berharga untuk berbakti, memberikan perhatian, mencurahkan kasih sayang, menghormati, dan membahagiakan mereka.

Sering kali anak terlalu sibuk dengan pekerjaan, keluarga, usaha, pendidikan, dan berbagai urusan kehidupan. Akibatnya, komunikasi dengan orang tua semakin jarang. Bahkan anak terkadang menunggu orang tua menelepon lebih dahulu.

Padahal, bisa jadi orang tua menelepon bukan karena membutuhkan sesuatu, tetapi karena rindu mendengar suara anaknya.

Karena itu, jangan menunggu orang tua menelepon. Anaklah yang harus mengambil inisiatif.

A. AWALI DENGAN PERHATIAN

Hubungan harmonis antara anak dan orang tua dimulai dari perhatian yang sederhana tetapi dilakukan secara konsisten.

Teleponlah ayah dan ibu. Tanyakan kesehatan mereka, sudah makan atau belum, bagaimana kegiatan mereka hari itu, dan apakah ada sesuatu yang dapat dibantu.

Jangan menganggap pertanyaan sederhana sebagai hal kecil. Bagi orang tua, pertanyaan “Ayah sehat?”, “Ibu sudah makan?”, atau “Ada yang bisa saya bantu?” dapat menjadi tanda bahwa mereka masih diperhatikan dan dicintai.

Filosofi kehidupan: Perhatian adalah bahasa kasih yang sederhana, tetapi sering kali menjadi sesuatu yang paling dirindukan.

B. BERIKAN KASIH SAYANG DAN KEBAHAGIAAN

Orang tua tidak selalu membutuhkan materi yang besar. Mereka membutuhkan kasih sayang, penghormatan, teman berbicara, dan kehadiran anak.

Ketika bertemu, jangan ragu mencium tangan, memeluk, tersenyum, dan berbicara dengan lembut. Ajak mereka makan bersama, berkunjung, berjalan-jalan, atau melakukan kegiatan sederhana yang mereka sukai.

Kebahagiaan orang tua sering kali bukan karena mahalnya pemberian anak, tetapi karena mereka merasa dihargai, dicintai, dan tidak dilupakan.

Anak hendaknya menjadi sumber kegembiraan bagi orang tua, bukan sumber kecemasan.

C. CINTAI, HORMATI, DAN JUNJUNG TINGGI MARTABAT ORANG TUA

Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada kedua orang tua.

Allah SWT berfirman:

«“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”»

Kemudian Allah melanjutkan agar anak tidak mengatakan perkataan yang menyakitkan, tidak membentak, dan berbicara kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.

(QS. Al-Isra’: 23)

Menghormati orang tua bukan berarti anak tidak boleh memiliki pendapat yang berbeda. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan harus disampaikan dengan sopan, sabar, dan penuh penghormatan.

Menjunjung tinggi orang tua berarti menjaga kehormatan, perasaan, dan martabat mereka, terutama ketika berada di hadapan orang lain.

D. DOAKAN DAN BERBAKTI SELAGI HIDUP

Berbakti kepada orang tua atau birrul walidain bukan hanya memberikan uang atau memenuhi kebutuhan materi. Berbakti juga berarti memberikan perhatian, pelayanan, penghormatan, komunikasi, dan doa.

Allah SWT mengajarkan doa:

«رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا»

«“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku masih kecil.”»

(QS. Al-Isra’: 24)

Doa ini mengingatkan anak bahwa dahulu dirinya berada dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Orang tua merawat, mendidik, melindungi, dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

Karena itu, selagi mereka masih hidup, jangan hanya mendoakan mereka, tetapi hadirkan pula bakti dalam kehidupan nyata.

E. EMPATI TERHADAP ORANG TUA YANG SEMAKIN TUA

Bertambahnya usia membawa perubahan fisik, sosial, dan emosional. Aktivitas orang tua mungkin berkurang, teman sebaya semakin sedikit, dan kebutuhan terhadap dukungan keluarga dapat semakin besar.

Dalam psikologi perkembangan Erik Erikson, masa lanjut usia berkaitan dengan tahap ego integrity versus despair, yaitu masa ketika seseorang melakukan refleksi terhadap perjalanan hidupnya dan berusaha menemukan makna dari kehidupan yang telah dijalani.

Pada tahap ini, hubungan keluarga yang hangat dapat menjadi sumber rasa aman, penghargaan, dan makna.

Karena itu, anak jangan hanya melihat kebutuhan fisik orang tua. Perhatikan pula kebutuhan emosional mereka untuk didengar, dihargai, ditemani, dan dicintai.

F. FAHAMI BAHWA WAKTU TIDAK DAPAT KEMBALI

Selagi orang tua masih hidup, masih ada kesempatan untuk meminta maaf.

Masih ada kesempatan mengucapkan terima kasih.

Masih ada kesempatan memeluk.

Masih ada kesempatan mencium tangan.

Masih ada kesempatan makan bersama.

Masih ada kesempatan membuat mereka tertawa.

Tetapi ketika kematian datang, kesempatan tersebut berhenti.

Filosofi kehidupan: Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nilai seseorang.

Banyak penyesalan anak setelah orang tua meninggal bukan karena tidak pernah memberikan harta, tetapi karena merasa belum cukup memberikan waktu, perhatian, dan kasih sayang.

G. JANGAN MENUNGGU, AMBIL INISIATIF

Inilah pesan penting bagi setiap anak:

Jangan menunggu orang tua menelepon.

Teleponlah terlebih dahulu.

Jangan menunggu orang tua meminta.

Tawarkan bantuan terlebih dahulu.

Jangan menunggu mereka merasa kesepian.

Temani mereka terlebih dahulu.

Jangan menunggu mereka sakit.

Perhatikan kesehatan mereka sejak masih sehat.

Kasih sayang yang matang adalah kasih sayang yang proaktif, bukan kasih sayang yang baru muncul setelah ada permintaan.

H. HADIRKAN DIRI, BUKAN HANYA MATERI

Kesibukan bukan alasan untuk kehilangan hubungan emosional dengan orang tua.

Pekerjaan penting. Bisnis penting. Pendidikan penting. Keluarga anak juga penting.

Tetapi orang tua tetap memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan.

Jika tidak bisa berkunjung setiap hari, teleponlah.

Jika tidak bisa menelepon lama, sampaikan beberapa kalimat penuh kasih.

Jika jauh, gunakan teknologi untuk menjaga komunikasi.

Uang dapat memenuhi kebutuhan, tetapi kehadiran memberikan ketenteraman hati.

Jangan mengganti kasih sayang dengan transfer uang semata.

I. INGAT JASA DAN PENGORBANAN ORANG TUA

Jasa orang tua tidak dapat dihitung hanya dengan rupiah.

Ada waktu yang mereka berikan.

Ada tenaga yang mereka korbankan.

Ada doa yang mereka panjatkan.

Ada kebutuhan mereka yang mungkin mereka korbankan demi anak.

Ada air mata yang mungkin tidak pernah diketahui anak.

Ketika anak sudah berhasil, jangan sampai keberhasilan tersebut membuatnya lupa kepada orang yang dahulu berjuang agar dirinya menjadi manusia yang berhasil.

Kesuksesan seorang anak menjadi lebih bermakna ketika kesuksesan itu juga membawa ketenteraman dan kebahagiaan bagi orang tuanya.

J. JAGA KERUKUNAN, SABAR, DAN MAU MEMAAFKAN

Hubungan anak dan orang tua tidak selalu sempurna. Perbedaan karakter, generasi, pengalaman, dan cara berpikir dapat menimbulkan konflik.

Namun, jangan biarkan masalah kecil berkembang menjadi permusuhan.

Persoalan harta dapat dibicarakan.

Persoalan keluarga dapat dimusyawarahkan.

Perbedaan pendapat dapat diselesaikan.

Yang harus dijaga adalah silaturahmi, kasih sayang, dan penghormatan.

Anak yang dewasa bukan anak yang selalu memenangkan perdebatan dengan orang tua, tetapi anak yang mampu menyelesaikan perbedaan tanpa menghancurkan hubungan.

K. KETIKA MASIH ADA KESEMPATAN, BAHAGIAKANLAH

Inilah inti dari seluruh pesan:

Selagi ayah dan ibu masih hidup, bahagiakanlah mereka.

Jangan menunggu hari raya.

Jangan menunggu ulang tahun.

Jangan menunggu mereka sakit.

Jangan menunggu mereka meminta.

Jangan menunggu sampai terlambat.

Teleponlah.

Kunjungilah.

Dengarkanlah.

Peluklah.

Cium tangan mereka.

Berikan perhatian.

Berikan bantuan.

Dan katakan:

“Ayah, Ibu, terima kasih atas semua perjuangan dan kasih sayang yang telah diberikan kepada saya. Maafkan kesalahan saya. Saya sayang Ayah dan Ibu. Semoga Allah memberikan kesehatan, kebahagiaan, umur yang penuh berkah, dan kemuliaan kepada Ayah dan Ibu.”

PENUTUP

Wahai anak-anak, jangan terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa kepada orang yang dahulu mengantarkan kita mengenal dunia.

Jangan sampai kita mampu menyediakan waktu untuk banyak orang, tetapi tidak mampu menyediakan waktu untuk ayah dan ibu.

Jangan sampai kita cepat menjawab telepon teman, kolega, atau urusan pekerjaan, tetapi membiarkan telepon orang tua menunggu.

Jangan menunggu orang tua menelepon. Kitalah yang menelepon.

Karena mungkin di balik diamnya mereka terdapat kerinduan.

Mungkin di balik kalimat “Tidak apa-apa, kamu sibuk” terdapat keinginan sederhana untuk ditemani.

Mungkin mereka tidak meminta karena tidak ingin merepotkan anak.

Maka anak harus peka.

Kasihilah sebelum diminta.
Hadirlah sebelum dipanggil.
Bantulah sebelum dimohon.
Bahagiakanlah sebelum mereka pergi.

Sebab ketika orang tua telah tiada, tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang waktu.

Yang tersisa hanyalah kenangan, doa, dan penyesalan atau kebahagiaan atas apa yang pernah kita lakukan kepada mereka.

Maka selagi kesempatan masih diberikan Allah SWT, jadilah anak yang mampu membuat ayah dan ibu tersenyum, merasa dihormati, dijunjung tinggi, dicintai, dan tidak pernah dilupakan.

«“Rabbir hamhuma kama rabbayani shaghira.”»

Ya Allah, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku masih kecil.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Previous article
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments