Obasa : “Belajar Etika Berbicara, Berdialog, dan Menghargai Pendapat Orang Lain”. Dan : “Belajar Menghargai Pikiran, Perasaan, Prinsip, Kehendak, dan Hak Orang Lain”
Perspektif Filosofi Kehidupan, Kemanusiaan, Agama, dan Etika Sosial
Oleh: Dr. Drs. Basa Alim Tualeka, M.Si. (Obasa)
1. Kesadaran Dasar: Kita Tidak Hidup Sendiri
Dalam kehidupan sesama manusia, ada satu kesadaran mendasar yang harus kita pahami: kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh isi hati, pikiran, niat, dan perasaan orang lain. Kita hanya dapat melihat apa yang tampak, mendengar apa yang disampaikan, serta menilai apa yang dilakukan. Namun, kita tidak memiliki kemampuan untuk memastikan seluruh isi batin seseorang.
Karena itu, jangan terlalu mudah merasa paling benar, paling baik, paling hebat, paling berhak, atau paling memahami kehidupan.
Setiap manusia mempunyai perjalanan hidup, pengalaman, pemikiran, kepentingan, dan persoalan yang berbeda. Kita harus menyadari bahwa kehidupan bukan hanya tentang diri kita sendiri. Ada orang lain yang juga mempunyai hak untuk hidup, berpikir, berpendapat, menentukan pilihan, memperjuangkan cita-cita, dan mendapatkan penghormatan.
Filosofi kehidupan: Manusia adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Ia memiliki kebebasan pribadi, tetapi kebebasannya hidup berdampingan dengan kebebasan orang lain.
Aristoteles dalam pemikiran politiknya menyebut manusia sebagai Zoon Politikon, yaitu makhluk yang secara kodrati hidup dalam kehidupan bermasyarakat. Artinya, manusia tidak dapat membangun kehidupan yang bermakna dengan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.
2. Setiap Manusia Memiliki Pikiran, Perasaan, dan Prinsip
Anda punya pikiran, orang lain juga punya pikiran. Anda mempunyai pendapat, orang lain juga mempunyai pendapat. Anda memiliki pengalaman hidup yang membentuk cara pandang, orang lain pun mempunyai pengalaman yang mungkin jauh berbeda.
Anda mempunyai perasaan yang ingin dihargai, orang lain juga memiliki perasaan yang tidak boleh diabaikan.
Anda mempunyai prinsip, orang lain juga mempunyai prinsip. Anda ingin didengar, orang lain juga ingin didengar. Anda bisa kecewa, orang lain juga bisa kecewa. Anda bisa diam ketika menghadapi persoalan, orang lain juga mempunyai hak untuk memilih diam.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
> يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا”Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini mengandung filosofi bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan jalan untuk saling mengenal, memahami, dan membangun kehidupan bersama.
Filosofi kehidupan: Perbedaan adalah kenyataan, penghormatan adalah pilihan, sedangkan kemampuan menerima perbedaan merupakan tanda kedewasaan.
3. Jangan Mengukur Orang Lain Hanya dengan Ukuran Diri Sendiri
Sering kali persoalan hubungan antarmanusia muncul karena seseorang terlalu sibuk menggunakan ukuran dirinya untuk menilai orang lain.
Ketika dirinya berbicara, ia ingin didengarkan. Tetapi ketika orang lain berbicara, ia tidak mau mendengarkan.
Ketika dirinya melakukan kesalahan, ia meminta pengertian. Tetapi ketika orang lain melakukan kesalahan, ia langsung menghakimi.
Ketika dirinya mempunyai kepentingan, ia meminta orang lain memahami. Tetapi ketika orang lain mempunyai kepentingan, ia menganggapnya sebagai gangguan.
Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat jelas:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ”Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan.” (QS. An-Nisa: 135).
Keadilan tidak boleh hanya berlaku ketika menguntungkan diri sendiri. Keadilan harus berlaku juga ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat, berbeda kepentingan, bahkan orang yang tidak kita sukai.
Dalam filosofi Immanuel Kant, terdapat prinsip moral bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan sekadar alat untuk memenuhi kepentingan orang lain.
Artinya, jangan memperlakukan manusia hanya berdasarkan manfaat yang dapat diberikan kepada kita.
Jika Anda ingin dihormati, hormatilah orang lain. Jika ingin dihargai, belajarlah menghargai. Jika ingin dipercaya, jagalah kepercayaan.
4. Kekuasaan Bukan Hak untuk Menguasai Kehidupan Orang Lain
Persoalan ini menjadi semakin penting ketika berbicara tentang jabatan, kekuasaan, organisasi, bisnis, dan kepemimpinan.
Anda ingin menjadi raja, pemimpin, pengambil keputusan, atau seseorang yang dihormati. Namun, ingatlah bahwa orang lain juga mempunyai keinginan, kemampuan, cita-cita, ambisi, dan hak yang sama.
Tidak semua orang harus berada di bawah kendali Anda. Tidak semua pendapat harus mengikuti kehendak Anda. Tidak semua keputusan harus ditentukan berdasarkan kepentingan pribadi.
Rasulullah SAW bersabda:
> كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ”Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memberikan filosofi bahwa kepemimpinan merupakan amanah, bukan sekadar kehormatan atau kekuasaan.
Dalam perspektif Pancasila, prinsip ini juga sejalan dengan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Pemimpin yang baik bukan hanya mampu memberikan perintah, tetapi juga bersedia mendengarkan, mempertimbangkan kepentingan bersama, dan menghormati martabat manusia.
Kepemimpinan bukanlah hak untuk menguasai manusia, melainkan amanah untuk melayani, melindungi, mengayomi, dan memperjuangkan kepentingan bersama.
5. Ego Adalah Penghalang Terbesar dalam Hubungan Antarmanusia
Basa Alim Tualeka mengatakan:
“Persoalan terbesar dalam hubungan antarmanusia sering kali bukan karena perbedaan, melainkan karena ketidakmampuan menerima bahwa orang lain juga mempunyai hak untuk berbeda.” (Obasa).
Ego membuat seseorang merasa dirinya pusat kehidupan. Ia ingin selalu menang, selalu didengar, selalu dibenarkan, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan.
Akibatnya, ia sulit menerima kritik, tidak mau mengakui kesalahan, meremehkan pendapat orang lain, bahkan menganggap perbedaan sebagai ancaman terhadap harga dirinya.
Dalam filosofi Yunani, Socrates mengajarkan pentingnya mengenali diri sendiri melalui ungkapan Know Thyself (Kenalilah dirimu sendiri).
Filosofi ini mengandung pesan bahwa sebelum menilai kekurangan orang lain, manusia harus terlebih dahulu mengenali keterbatasan dirinya.
Al-Qur’an juga mengingatkan:
> وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا”Janganlah memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18).
Mengendalikan ego bukan berarti kehilangan harga diri. Menghormati orang lain bukan berarti merendahkan diri sendiri. Mengalah bukan berarti kalah, dan menerima perbedaan bukan berarti kehilangan prinsip.
Justru, kemampuan mengendalikan diri merupakan salah satu bentuk kekuatan karakter manusia.
6. Jangan Mudah Menghakimi Niat dan Hati Orang Lain
Kita harus memahami bahwa niat baik tidak selalu menghasilkan penilaian baik dari orang lain. Sebaliknya, penampilan yang baik belum tentu mencerminkan hati yang baik.
Ada orang yang terlihat diam, tetapi menyimpan banyak persoalan. Ada yang terlihat tegas, tetapi sebenarnya sedang memperjuangkan sesuatu yang dianggap benar. Ada yang berbeda pendapat bukan karena membenci, melainkan karena mempunyai pertimbangan dan pengalaman yang berbeda.
Rasulullah SAW bersabda:
> إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ”Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa niat merupakan dimensi penting dalam menilai amal. Namun, manusia tidak boleh mengklaim mengetahui seluruh niat seseorang karena pengetahuan tentang isi hati secara sempurna merupakan hak Allah SWT.
Dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, Allah juga mengingatkan agar manusia menjauhi banyak prasangka karena sebagian prasangka merupakan dosa.
Oleh karena itu, jangan mudah menghakimi seseorang hanya berdasarkan penampilan, perkataan, atau satu peristiwa.
Belajarlah memahami sebelum menilai, bertanya sebelum menyimpulkan, dan berdialog sebelum mengambil keputusan.
7. Menghormati Orang Lain Tidak Berarti Harus Selalu Sepakat
Salah satu kesalahan dalam kehidupan sosial adalah menganggap orang yang berbeda pendapat sebagai musuh, pembangkang, atau orang yang tidak memiliki loyalitas.
Padahal, menghormati seseorang tidak mengharuskan kita menyetujui seluruh pemikirannya.
Kita dapat berbeda pendapat tanpa bermusuhan. Kita dapat mengkritik tanpa menghina. Kita dapat mempertahankan prinsip tanpa merampas hak orang lain.
Al-Qur’an mengajarkan:
> ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ”Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).
Sementara itu, dalam pemikiran Jürgen Habermas tentang tindakan komunikatif, dialog yang sehat membutuhkan keterbukaan, argumentasi, dan kesediaan untuk saling memahami.
Filosofinya sederhana: kebenaran tidak seharusnya dipaksakan melalui kekuasaan, tetapi diperjuangkan melalui argumentasi yang jujur dan rasional.
Dengan demikian, perbedaan pendapat justru dapat menjadi kekuatan untuk menemukan keputusan yang lebih baik.
8. Kedewasaan Adalah Kemampuan Menempatkan Diri secara Adil
Kedewasaan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, seberapa besar kekuasaan yang dipegang, seberapa banyak orang yang tunduk, atau seberapa sering ia memenangkan perdebatan.
Kedewasaan justru terlihat dari kemampuannya:
* Mengendalikan ego dan kepentingan pribadi.
* Menghargai pikiran serta pendapat orang lain.
* Memahami perasaan dan pengalaman orang lain.
* Menerima perbedaan tanpa harus bermusuhan.
* Menghormati prinsip dan hak setiap manusia.
* Mengakui kesalahan serta bersedia meminta maaf.
* Berlaku adil, baik kepada diri sendiri maupun orang lain.
* Tidak menyalahgunakan jabatan, kekuasaan, dan kepercayaan.
* Tidak merasa paling benar hanya karena memiliki kekuasaan atau kedudukan.
* Memberikan ruang kepada orang lain untuk berkembang dan menentukan pilihan hidupnya.
Dalam filosofi kehidupan, ada prinsip keseimbangan antara hak dan kewajiban, kebebasan dan tanggung jawab, kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.
Kebebasan seseorang harus menghormati kebebasan orang lain. Hak seseorang tidak boleh menghilangkan hak orang lain. Kepentingan pribadi tidak boleh menjadi alasan untuk merugikan kepentingan bersama.
Inilah fondasi masyarakat yang beradab.
9. Penutup: Hidup Adalah Ruang Bersama
Pada akhirnya, Basa Alim Tualeka menegaskan:
“Hidup ini bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling hebat, paling berkuasa, atau paling benar. Hidup adalah ruang bersama, tempat setiap manusia memiliki martabat, kehendak, perasaan, dan hak untuk dihargai.” (Obasa).
Dan satu pesan penting lainnya:
“Anda manusia, orang lain juga manusia. Anda ingin dihargai, orang lain juga ingin dihargai. Jangan menuntut sesuatu dari orang lain yang Anda sendiri tidak bersedia melakukannya.” (Obasa).
Kita boleh memiliki cita-cita setinggi langit, prinsip sekuat karang, pendirian yang teguh, dan keinginan untuk menjadi pemimpin. Namun, semua itu tidak boleh membuat kita kehilangan kesadaran bahwa orang lain juga mempunyai martabat dan hak yang harus dihormati.
Jangan menjadikan kehidupan sebagai panggung untuk memenuhi ego sendiri. Jangan menjadikan jabatan sebagai alat untuk memaksakan kehendak. Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan sesama.
Ada tiga filosofi kehidupan yang perlu kita pegang:
* Filosofi kemanusiaan: Saya berharga, tetapi orang lain juga berharga.
* Filosofi keadilan: Hak saya harus dihormati, tetapi hak orang lain juga harus dihormati.
* Filosofi kebijaksanaan: Saya boleh berbeda, tetapi tidak boleh merendahkan orang lain karena perbedaan tersebut.
Ukuran kemuliaan manusia bukan terletak pada seberapa banyak orang yang menghormati dan mengikuti kehendaknya, tetapi pada seberapa besar ia mampu menghormati, menghargai, dan memperlakukan orang lain secara manusiawi.
Hidup ini bukan hanya tentang saya, bukan hanya tentang Anda, tetapi tentang kita semua.
Sebab, pada akhirnya, manusia akan dikenang bukan semata-mata karena apa yang pernah dimilikinya, jabatan yang pernah didudukinya, atau kekuasaan yang pernah dipegangnya, melainkan juga karena bagaimana ia memperlakukan sesama manusia.
Itulah dasar kesadaran, kebijaksanaan, keadilan, toleransi, dan kemanusiaan dalam menjalani kehidupan bersama.
OBASA – Refleksi Kehidupan, Filosofi Kemanusiaan, dan Etika Sosial.


