Google search engine
HomeEkbisJCFF 2026 Buka Jalan Ekspor Kopi Indonesia, Buyer Yordania Minati Arabika Ijen

JCFF 2026 Buka Jalan Ekspor Kopi Indonesia, Buyer Yordania Minati Arabika Ijen

SURABAYA-kanalsembilan.com (20 Juli 2026)

Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) menjadi momentum penting bagi pelaku usaha kopi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor. Melalui agenda business matching, BI mempertemukan UMKM kopi dengan calon pembeli dari berbagai negara guna mendorong transaksi dagang sekaligus meningkatkan daya saing kopi nasional di pasar internasional.

Export Expert sekaligus Founder Akademi Mudah Ekspor, Dr (c) Ir. Fernanda Reza Muhammad, M.M., mengatakan business matching dirancang agar pelaku usaha tidak hanya memamerkan produknya, tetapi juga dapat bernegosiasi langsung dengan calon pembeli sehingga peluang ekspor lebih cepat terealisasi.
“Business matching ini menjadi jembatan agar UMKM tidak hanya melakukan promosi, tetapi juga memperoleh peluang transaksi secara langsung dengan buyer potensial,” ujar Fernanda di sela penyelenggaraan JCFF 2026 di Surabaya.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut melibatkan 18 Kantor Perwakilan Bank Indonesia dari berbagai daerah yang membawa produk unggulan untuk dipromosikan ke pasar global.

Meski mengusung tema kopi dari Pulau Jawa, JCFF 2026 juga menghadirkan pelaku usaha dari berbagai wilayah Indonesia, mulai Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Papua hingga Maluku. Sebanyak 50 UMKM mengikuti pameran (showcase), sementara total peserta business matching secara luring dan daring mencapai 85 UMKM.

Produk yang dipromosikan tidak hanya kopi Arabika, Robusta, dan Liberika, tetapi juga teh serta aneka rempah. Para pembeli yang hadir berasal dari Prancis, Nigeria, Yordania, Australia, Singapura, Malaysia, dan China.

Menurut Fernanda, tingginya permintaan kopi Indonesia di pasar internasional harus diimbangi dengan kemampuan pelaku usaha menjaga kualitas serta kontinuitas pasokan.

“Buyer luar negeri tidak hanya mencari kopi berkualitas, tetapi juga mitra yang mampu menjaga konsistensi volume. Karena itu UMKM perlu memastikan komitmen terhadap kualitas dan kuantitas agar reputasi perdagangan Indonesia tetap terjaga,” katanya.

Ia menambahkan, industri kopi dunia saat ini menghadapi tantangan penurunan produksi akibat perubahan iklim di berbagai negara penghasil kopi, termasuk Indonesia. Di sisi lain, permintaan global terus meningkat sehingga harga kopi mengalami kenaikan dalam dua tahun terakhir.

Besarnya peluang pasar tercermin dari antusiasme buyer internasional yang mengikuti business matching. Salah satunya datang dari Yordania melalui PT LaTansa Adiguna Perkasa.

Perwakilan perusahaan tersebut, Muhammad Ramadhan BA., MA., PhD, mengatakan pasar kopi di Yordania selama ini masih didominasi produk asal Brasil dan Vietnam. Namun, dalam beberapa tahun terakhir kopi Indonesia mulai mendapat perhatian pelaku industri kopi di negara tersebut.

“Kami berterima kasih kepada Bank Indonesia karena melalui JCFF kami bisa bertemu langsung dengan para pemasok, berdiskusi mengenai kualitas produk hingga melakukan negosiasi harga dalam satu forum,” ujarnya.

Ramadhan yang telah menetap di Yordania selama 12 tahun mengungkapkan, Kopi Sumatra sudah cukup dikenal di negaranya dan banyak digunakan oleh sejumlah roastery maupun jaringan kedai kopi internasional.

Dalam ajang JCFF 2026, ia juga menemukan potensi baru, yakni kopi Arabika natural dari Ijen Lestari yang dinilai memiliki karakter rasa sesuai dengan preferensi konsumen Timur Tengah.

Sebagai tindak lanjut, pihaknya telah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan sejumlah pemasok kopi Indonesia untuk melakukan trial order sebanyak 500 kilogram hingga satu ton.

Menurut Ramadhan, pengiriman perdana tersebut akan menjadi tahap pengenalan produk di pasar Yordania. Jika mendapatkan respons positif, kerja sama akan ditingkatkan menjadi ekspor berkelanjutan dengan volume yang lebih besar.

“Kami berharap kerja sama ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar Yordania, tetapi juga menjadi pintu masuk kopi Indonesia ke negara-negara lain di kawasan Timur Tengah,” katanya.

Fernanda menambahkan, Bank Indonesia tidak hanya membuka akses pasar internasional, tetapi juga memberikan pendampingan kepada UMKM melalui peningkatan kapasitas produksi, pengemasan, fasilitasi pembiayaan, hingga membuka akses perdagangan global melalui berbagai kementerian dan mitra luar negeri.

Ia juga mendorong penguatan sektor hulu dengan memperluas areal tanam kopi melalui pemanfaatan lahan kosong maupun sistem tumpang sari agar produksi nasional mampu memenuhi permintaan pasar dunia yang terus meningkat.

“Permintaan kopi dunia terus bertambah. Ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu pemasok kopi berkualitas di pasar global,” pungkasnya. (za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments