Google search engine
HomeDewan DakwahKalau Bukan Kita, Siapa yang Ajar Mereka?

Kalau Bukan Kita, Siapa yang Ajar Mereka?

Catatan Dakwah dari Masjid Al Amal, Baucau – Timor Leste

Oleh: Royhan Mufid Akbar, Santri Praktik Da’wah Ramafhan (PDR) PPIC eLKISI, Mojokerto

Dewandakwahjatim.com, Timor Leste – –

Ahad, 22 Februari 2026

I. Sahur di Rumah Pak Haji: Dakwah Tanpa Gaji, 24 Tahun Mengabdi

Waktu sahur di rumah Ust. Faisal—yang akrab dipanggil Pak Haji—menjadi momen refleksi yang tidak biasa.

Beliau bertanya pelan, namun sarat makna:

“Hubungan dengan anak-anak baik ya?”

Anak-anak di Baucau, menurut beliau, memiliki semangat belajar yang luar biasa.

“Mereka itu semangat sekali kalau belajar. Bahkan sampai tidak kasi kita istirahat.”

Namun ada satu problem besar: tidak ada pembimbing tetap.

Di luar Ramadhan, yang membimbing mereka justru istrinya. Mengajarkan baca Qur’an, tajwid, rukun shalat—semua dilakukan dari rumah sederhana itu.

Sementara beliau sendiri memikul empat amanah sekaligus:
Ketua takmir masjid, ketua imam, kepala sekolah, dan kepala asrama.

“Tak ada waktu lagi untuk urus anak-anak. Belum lagi dengan orang sekitar.”

Beliau sudah 24 tahun mengabdi. Tanpa gaji.

Untuk kebutuhan sehari-hari, beliau membuka toko kecil di rumahnya. Untuk operasional sekolah, kadang terasa berat.

Namun satu hal membuatnya bertahan:

“Kami punya niat untuk dapat amal jariyah. Karena kalau bukan kita yang ajar mereka, siapa lagi?”

Kalimat itu menjadi poros dari seluruh kisah di Baucau.

II. Riuh Canda di Masjid Al Amal: Masjid yang Hidup oleh Anak-Anak

Masjid Al Amal tidak pernah benar-benar sepi.

Setiap sore, anak-anak berdatangan. Dari yang masih balita hingga siswa kelas 12 SMA.

“Kalau Ramadhan begini selalu ramai ustadz. Kalau hari lain sepi,” ujar Ust. Yusuf.

Sebagian anak tinggal di asrama. Sebagian lain rumahnya jauh, bahkan dua jam perjalanan. Ada pula yang muallaf, orang tuanya masih Katolik, namun justru didorong belajar Islam.

Riuh mereka memenuhi masjid.

Ada yang bermain bola.
Ada yang berkejaran.
Ada yang bercanda.
Ada yang “baku hantam” kecil khas anak-anak.

Semua berkumpul untuk ngabuburit.

Bahkan ada anak Katolik yang ikut berbuka bersama, meski tidak berpuasa.

Di sinilah wajah toleransi Baucau tampak nyata: anak-anak berbeda latar belakang tetap bermain dalam satu ruang.

Pak Haji punya pendekatan unik:

“Kami biarkan saja anak-anak main game di masjid sampai jam 2 malam. Lebih baik daripada mereka bermain di luar. Kalau di sini dengar adzan ikut shalat.”

Masjid ini menjadi ruang aman.

Lebih baik riuh di dalam masjid, daripada sunyi tapi jauh dari adzan.

Semoga keterikatan ini tertanam hingga dewasa.

III. Bilis: Tradisi yang Menguji Generasi Muslim

Pasca shalat Subuh, diskusi berlanjut pada tema yang lebih kompleks: budaya Bilis.

Bilis adalah adat pernikahan di Timor Leste. Sebelum menikah, keluarga kedua belah pihak harus bertemu dan membahas “seserahan” yang nilainya bisa mencapai 10.000 dolar.

Jika tidak mampu membayar, pernikahan bisa tertunda. Bahkan banyak pasangan hidup bersama tanpa status resmi karena belum menyelesaikan Bilis.

Bukan hanya non-Muslim. Muslim pun terikat tradisi ini.

Jika ada keluarga meninggal, keluarga pasangan harus datang membawa sapi, babi, uang, dan barang lainnya. Kadang jenazah ditahan sampai kewajiban adat terpenuhi.

Pertanyaan pun muncul:

Apakah kondisi ini termasuk perzinahan jika pasangan belum sah secara agama?

Problem ini nyata. Anak-anak saling mencintai. Siap menikah. Tapi terhalang adat.

Salah satu solusi yang disampaikan secara pribadi adalah strategi sosial: jika ada yang melamar anaknya, Bilis dinaikkan. Jika tak mampu, disarankan masuk Islam sebagai jalan kemudahan mahar.

Di sini terlihat kompleksitas dakwah:
Bukan hanya soal iman, tapi juga soal budaya, ekonomi, dan struktur sosial.

Penutup: Dakwah Itu Bertahan

Di Baucau, dakwah bukan proyek musiman.

Ia adalah:

Pengabdian 24 tahun tanpa gaji.

Istri yang mengajar Qur’an di ruang tamu.

Anak-anak riuh di masjid hingga tengah malam.

Diskusi berat tentang adat dan hukum.

Toko kecil yang menopang sekolah.

Dan satu pertanyaan besar yang terus menggema:

“Kalau bukan kita yang ajar mereka, siapa lagi?”

Timor Leste mungkin minoritas bagi umat Islam.
Namun di Masjid Al Amal, iman tumbuh dalam riuh tawa anak-anak dan kesunyian sahur para pengabdi.

Semoga Allah kuatkan mereka.
Dan semoga kader-kader baru segera kembali untuk meneruskan estafet dakwah di Bumi Loro Sae.

Aamiin.

Foto: Diskusi soal agama pasca sholat shubuh

Admin: Kominfo DDII JATIM

Editor: Sudono Syueb

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments