Google search engine
HomeAgamaKetika Seorang Kiai Duduk Sebagai Murid Dihadapan Guru

Ketika Seorang Kiai Duduk Sebagai Murid Dihadapan Guru

Ada perjalanan yang ditempuh manusia untuk mencari nama.
Ada pula perjalanan yang ditempuh untuk mencari dunia.
Namun ada perjalanan yang lebih sunyi dan lebih mulia: perjalanan seorang murid yang meninggalkan tanah kelahirannya demi duduk di hadapan seorang guru.
Demikianlah perjalanan KH. Ali Maksum.

Dari tanah Jawa, dari lingkungan pesantren yang telah membesarkan jiwanya, beliau berangkat menuju Makkah. Jauh dari kampung halaman. Jauh dari keluarga. Jauh dari segala yang telah dikenalnya.
Tetapi beliau datang membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada bekal perjalanan.
Beliau membawa kerendahan hati.

Di Tanah Suci, KH. Ali Maksum duduk menimba ilmu kepada para ulama. Di antara guru yang tercatat dalam perjalanan keilmuannya adalah Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani.
Bayangkanlah…
Seorang pemuda dari Jawa.
Yang kelak namanya dikenal sebagai ulama besar.
Yang kelak memimpin pesantren.
Yang kelak dipercaya memegang amanah besar umat.
Tetapi ketika berhadapan dengan gurunya…ia bukan siapa-siapa selain seorang murid.

Ia duduk.
Ia mendengarkan.
Ia mengaji.
Ia menerima ilmu dengan hati yang terbuka. Sebab seorang murid yang sejati tidak datang kepada guru untuk menunjukkan apa yang telah diketahuinya.
Ia datang untuk menyadari betapa luasnya ilmu yang belum diketahuinya.

Akhlak KH. Ali Maksum kepada gurunya mengajarkan sebuah pelajaran yang semakin mahal pada zaman ini.
Bahwa ilmu tidak hanya masuk melalui telinga. Ilmu juga masuk melalui adab.
Seorang murid boleh membawa kecerdasan.
Boleh membawa hafalan.
Boleh membawa gelar.
Tetapi ketika ia duduk di hadapan gurunya, ada satu pakaian yang harus dikenakan oleh hatinya yaitu tawaduk.
Sebab ilmu yang besar kadang-kadang tidak mampu tinggal di dalam hati yang merasa sudah besar.

KH. Ali Maksum menempuh perjalanan jauh bukan untuk mencari pujian.Beliau datang ke Makkah untuk menjadi murid.
Dan menjadi murid adalah sebuah kemuliaan.
Karena seorang murid sedang mengosongkan gelas hatinya agar dapat menerima air dari mata air ilmu.
Maka dari majelis Sayyid Alwi, beliau tidak sekadar membawa pulang pelajaran. Beliau membawa adab seorang pencari ilmu.

Namun kisah guru dan murid tidak hanya berbicara tentang murid yang harus menghormati guru. Seorang guru pun memiliki kemuliaan akhlak yang tidak kalah besar. Sayyid Alwi al-Maliki adalah seorang ulama Makkah dari keluarga yang dimuliakan. Seorang alim yang memiliki kedudukan dalam dunia keilmuan. Tetapi ilmu yang sejati tidak menjadikan seorang guru membangun tembok antara dirinya dan murid.
Justru guru sejati membuka pintu.
Mempersilakan murid mendekat.
Membimbingnya.
Menuntunnya.
Dan dengan kesabaran, menyalakan cahaya di dalam jiwanya.

Guru yang baik tidak menciptakan pengagum. Ia menciptakan penerus.
Guru yang baik tidak ingin muridnya berhenti di bawah bayang-bayang namanya.
Ia ingin muridnya kelak mampu menjadi cahaya bagi manusia.

Barangkali itulah salah satu keindahan hubungan seorang guru dan murid. Guru memberikan ilmu.
Murid menerima dengan adab.
Guru menanam.
Murid merawat.
Guru menyalakan pelita.
Murid membawa cahaya itu pulang.

Kelak, perjalanan KH. Ali Maksum tidak berhenti di Makkah. Beliau kembali ke tanah Jawa. Tetapi sesungguhnya, beliau tidak pulang seorang diri.
Beliau pulang membawa jejak para gurunya.

Setiap ilmu yang diajarkan.
Setiap nasihat yang didengar.
Setiap adab yang disaksikan.
Semua itu ikut pulang bersamanya. Dan kemudian…
ilmu itu diajarkan kembali kepada para santri.
Santri mengajarkan kepada murid-murid mereka. Murid-murid itu menyebarkan cahaya ke tempat lain.

Begitulah ilmu bekerja.
Seorang guru mungkin telah lama kembali kepada Allah, tetapi cahaya ilmunya masih berjalan di dalam langkah murid-muridnya.

Kisah KH. Ali Maksum dan Sayyid Alwi al-Maliki mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukanlah tentang siapa yang lebih tinggi. Seorang murid memuliakan gurunya.
Seorang guru menyayangi muridnya.

Dan keduanya dipertemukan oleh cinta kepada agama Allah dan Rasul-Nya ï·º. Sebab ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Tetapi ilmu yang dipeluk dengan adab akan melahirkan kebijaksanaan.
#CintaUlama
#JejangSangPejuang
#UlamaNusantara
#Pahlawan
#TokohKita

(gwa-uzc)

RELATED ARTICLES

Kunci Menjadi Keluarga Allah

Fokus Hari Esok

Kita Hanyalah Tamu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments