Surabaya – Dewandakwahjatim.com
Subuh di Jogokariyan, Yogyakarta, Selasa (24/12/2025), terasa berbeda. Langit masih kelabu ketika kabar wafatnya Ustadz Muhammad Jazir ASP menyebar pelan di lorong-lorong kampung. Tak ada hiruk-pikuk, hanya hening yang dalam—hening yang menyisakan rasa kehilangan.
Masjid Jogokariyan berdiri seperti biasa. Menaranya tegak, jam digitalnya tetap menyala, jamaah terus berdatangan. Namun ada getar yang terasa. Seorang penjaja gorengan di serambi masjid berucap lirih,
“Beliau bukan hanya ustadz, tapi tetangga hidup kami.”
Kalimat sederhana itu merangkum cara Ustadz Jazir memaknai dakwah: agama yang hadir di tengah kehidupan nyata.
Masjid Bukan Monumen, tapi Pusat Kehidupan
Bagi Ustadz Jazir, masjid bukan sekadar simbol kesalehan, melainkan pusat peradaban. Ia menolak masjid menjadi bangunan suci yang jauh dari persoalan umat. Dalam pandangannya, masjid harus berguna, menghidupkan, dan menguatkan masyarakat.
“Masjid itu harus seperti ibu,” tutur beliau suatu ketika, “tidak bertanya siapa yang datang, tapi memastikan yang datang tidak pulang dengan lapar.”
Prinsip inilah yang menjadikan Masjid Jogokariyan dikenal luas sebagai masjid yang benar-benar melayani jamaah dan warga sekitar, tanpa sekat sosial maupun ekonomi.
Saldo Nol dan Amanah Sosial
Salah satu terobosan Ustadz Jazir yang sempat menuai tanda tanya adalah konsep saldo nol infak masjid. Menurutnya, dana umat bukan untuk ditimbun, melainkan dialirkan agar manfaatnya segera dirasakan.
Masjid pun menjadi pusat distribusi kebaikan: membantu janda dan fakir miskin, menggerakkan UMKM warga, menyediakan dapur umum, hingga layanan kesehatan gratis. Ajaibnya, meski tak menumpuk dana, masjid justru tak pernah kekurangan.
Di sanalah nilai tauhid bekerja—semakin dilepas, semakin Allah titipkan kembali.
Pasar, Klinik, dan Kitab Suci
Pada waktu-waktu tertentu, halaman masjid berubah menjadi pasar rakyat. Bukan pasar yang rakus, melainkan ruang harapan. Di sisi lain, klinik kesehatan berdampingan dengan ruang tahfidz Al-Qur’an.
Kitab suci dibaca, luka jasad diobati. Inilah Islam yang utuh—agama yang menyentuh langit dan bumi sekaligus.
“Orang lapar sulit diajak bertauhid dengan tenang,” kata Ustadz Jazir. Sebuah kalimat dakwah yang lahir dari empati mendalam.
Wakaf untuk Masa Depan Umat
Pendirian hotel wakaf menjadi bukti pandangan jauh ke depan Ustadz Jazir. Wakaf tidak ia pahami sebagai simbol, melainkan sebagai ikhtiar keberlanjutan dakwah.
Beliau menanam amal seperti menanam pohon—meski mungkin tak sempat berteduh di bawahnya, umat setelahnya yang akan merasakan manfaatnya. Di situlah makna ikhlas bekerja dalam sunyi.
Masjid Ramah Anak Muda dan Budaya
Masjid Jogokariyan juga dikenal sebagai ruang yang ramah bagi anak muda. Seni, olahraga, diskusi, dan tawa mendapat tempat. Masjid menjadi rumah bersama—terbuka dan hidup.
Sebagaimana masjid di masa Nabi, Jogokariyan bukan ruang steril, tetapi ruang peradaban. Semua itu dijalankan Ustadz Jazir dengan keteladanan, bukan sekadar teori.
Wafat, tapi Dakwah Tak Pernah Berhenti.
Kepergian Ustadz Jazir tidak menghentikan denyut masjid. Program tetap berjalan, jamaah terus berdatangan. Inilah tanda kepemimpinan sejati: pemimpin boleh pergi, tetapi sistem kebaikannya tetap hidup.
Masjid Jogokariyan menolak mati karena telah dihidupkan dengan nilai, bukan figur semata.
Tulisan ini bukan sekadar kisah duka, melainkan pengingat tentang cara beragama yang membumi dan memanusiakan. Jika suatu hari orang bertanya tentang masjid ideal, Jogokariyan menjawab dengan teladan:
Tempat Tuhan disembah, dan manusia dimuliakan.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa‘afihi wa‘fu ‘anhu.
Selamat jalan, Ustadz Muhammad Jazir ASP.
Imanmu mengajarkan kami bahwa iman tertinggi adalah iman yang paling bermanfaat.
Penulis: Ki. RH Soesilo
Editor: Sudono Syueb
Admin: Kominfo DDII Jawa Timur


