Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
š Sidoarjo, 26 Desember 2025
AssalÄmuāalaikum warahmatullÄhi wabarakÄtuh.
Sahabat semua, dunia kita sedang kedatangan ātetangga baruā yang tampak sangat pintar: AI. Ia bisa menulis, merangkum, mendesain, menganalisis bahkan āmenjawabā seperti orang alim. Tapi di sinilah letak ujian zaman: AI bisa terlihat paham, padahal ia sedang meniru.
Yang disebut Generatif AI itu ibarat āmesin pembuat kontenā: teks, gambar, suara, video, bahkan kode. Ia kuat di pola, kuat di kecepatan, kuat di kemasan. Tapi ia tidak punya niat, tidak punya rasa takut kepada Allah, dan tidak otomatis benar. Ia bisa menyusun kalimat yang terdengar meyakinkan bahkan ketika salah. Inilah yang sering dibahas sebagai risiko ājawaban rapi tapi keliruā (sering disebut hallucination).
Lalu muncul level berikutnya yang lebih āberatā: Agentik AI (agentic AI). Ini bukan cuma mesin yang menjawab, tapi sistem yang diarahkan pada tujuan lalu merencanakan langkah, memakai alat, dan mengeksekusi tindakan: menyusun laporan, menarik data, mengelompokkan masalah, sampai membuat keputusan operasional. Di titik ini, risikonya naik kelas: bukan hanya salah kata tapi bisa salah tindakan.
Masalahnya, banyak dari kita tanpa sadar menitipkan hidup kepada algoritma.
Di sekolah, muncul generasi ātugas selesaiā tapi otak tidak tumbuh: esai panjang jadi, tetapi ketika ditanya sederhana, jawabannya buyar. Itu bukan sekadar isu etika akademik itu kebocoran masa depan nalar.
Di pasar dan bisnis, keputusan jadi cepat tapi rapuh. Tim marketing bisa terpukau ādata trenā yang tak jelas sumbernya. Tim legal bisa terseret ringkasan regulasi yang ternyata ada pasal fiktif. UMKM bisa salah langkah karena percaya āversi AIā tanpa verifikasi.
Di masjid dan ruang dakwah, godaannya lebih halus: konten melimpah, tapi sanad makna rapuh. Ayat dan hadits bisa dikutip tanpa konteks, rujukan kitab bisa keliru, kesimpulan bisa melompat. Dan ingat: yang menanggung dosa-pahala bukan mesin, tapi manusia.
Di kantor kebijakan publik, AI bisa membuat negara āterlihat canggihāātapi warga bisa ātergilasā jika sistem menjadi hakim tanpa pintu koreksi. Ketika bantuan sosial ditolak karena ādata tak cocokā lalu warga disuruh āupdate aplikasiā, itu bukan sekadar digitalisasi itu bisa berubah menjadi kolonialisme prosedural.
Kenapa ini terjadi?
Karena AI memang āmeyakinkanā. Dan manusia punya kelemahan klasik: kalau ada rekomendasi mesin, kita cenderung percaya (automation bias). Di sisi lain, tata kelola sering ketinggalan: teknologi lari, rambu-rambu tertinggal. Itulah mengapa banyak lembaga mendorong AI yang dapat dipercaya: transparansi, akuntabilitas, keamanan, keadilan, dan kontrol manusia bukan sebagai slogan, tapi sebagai rem darurat sosial (OECD, 2019; NIST, 2023). UNESCO juga menegaskan perlunya literasi dan kebijakan pendidikan agar GenAI tidak merusak pembelajaran, integritas, dan privasi (UNESCO, 2023).
Lalu apa jalan keluarnya yang benar-benar menginjak bumi?
Kuncinya: mengembalikan kendali manusia dengan menyatukan otakālogikaācahaya hati.
ā
Di Kelas (Sekolah/Kampus):
Kembalikan sekolah jadi ābengkel nalarā, bukan pabrik jawaban.
⢠Biasakan tugas berbasis proses: ide awal dari kepala sendiri ā AI bantu struktur ā wajib verifikasi ke buku/sumber.
⢠Perbanyak ujian lisan, presentasi, dan studi kasus āyang dekat dengan hidupā.
⢠Latih kebiasaan anti-halusinasi: cari 3 klaim AI yang meragukan ā buktikan koreksinya. (UNESCO, 2023; NIST, 2023)
ā
Di Pasar (UMKM/Bisnis):
AI boleh membantu caption, desain, ringkas pembukuan tapi jangan jadi budak dashboard.
⢠Keputusan penting wajib human-in-the-loop (manusia memutuskan).
⢠Tegakkan amanah digital: foto asli, klaim jujur, transparansi bahan dan asal-usul.
⢠Semua ādata pasarā dari AI wajib dicek sumbernya minimal satu data lapangan. (OECD, 2019)
ā
Di Masjid (Dakwah & Komunitas):
Modern boleh. Tapi amanah harus lebih tinggi.
⢠Terapkan aturan 2-sumber: dalil dan data yang muncul dari AI harus dicek ke rujukan tepercaya.
⢠Pisahkan ābahanā dan āfatwaā: AI boleh bantu rangkum, tapi penetapan sikap ilmiah kembali ke ahlinya.
⢠Jangan mengejar viral yang memotong konteks: tabayyun dulu, baru share. (UNESCO, 2023)
ā
Di Kebijakan Publik:
Kalau negara pakai AI, negara wajib lebih bertanggung jawab.
⢠Warga berhak tahu alasan keputusan otomatis.
⢠Harus ada jalur banding manusia (cepat dan jelas).
⢠Audit model dan catatan keputusan: bukan āsistemnya begituā, tapi siapa penanggung jawabnya. (NIST, 2023)
š CHECKLIST PRAKTIS (SIAP PAKAI)
š© Untuk Komunitas Kajian / Takmir
ā
Materi yang dibantu AI diberi label: ādibantu AI, diverifikasi olehā¦ā
ā
Dalil & data dicek minimal 2 rujukan tepercaya
ā
Ada 10 menit sesi ātabayyun kontenā (1 isu viral dibedah bareng)
ā
Admin grup: aturan tegas jangan forward sebelum jelas
š¦ Untuk Sekolah / Guru
ā
Tugas wajib ada ālogbook prosesā (ideāpromptārevisiāverifikasi)
ā
Ada presentasi lisan untuk uji pemahaman
ā
Latihan rutin: ātemukan kesalahan AIā dan buktikan koreksinya
ā
Etika data: dilarang unggah data pribadi siswa ke AI publik
šØ Untuk Organisasi / Bisnis
ā
SOP penggunaan AI tertulis (data apa boleh, apa haram)
ā
Konten promosi wajib cek-fakta (hindari klaim palsu)
ā
Keputusan krusial: selalu ada manusia sebagai penentu akhir
ā
Audit bulanan: error, bias, keluhan pelanggan, kebocoran data
ŁŁŲ§ Ų£ŁŁŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŲ°ŁŁŁŁ Ų¢Ł ŁŁŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁ Ų¬ŁŲ§Ų”ŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ§Ų³ŁŁŁ ŲØŁŁŁŲØŁŲ„Ł ŁŁŲŖŁŲØŁŁŁŁŁŁŁŲ§
*_YÄ ayyuhalladzÄ«na ÄmanÅ« in jÄakum fÄsiqun binabain fatabayyanÅ«8
āWahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka telitilah (tabayyun)ā¦ā (QS. Al-įø¤ujurÄt: 6)
Dan ini sangat relevan di era AI: berita bisa ādibuatā, suara bisa āditiruā, wajah bisa ādirekayasaā. Maka tabayyun bukan sekadar adab tapi benteng peradaban.
Sahabat semua, kita tidak sedang berhadapan dengan āmesin pintarā semata, tapi mesin yang makin piawai menyerupai manusia. Generatif AI bisa meniru gaya guru. Agentik AI bisa meniru cara kerja manajer. Tapi ia tidak punya niat, tidak punya taubat, tidak punya rasa takut berbuat zalim.
Karena itu, jalan selamatnya adalah menyatukan tiga pilar:
Otak agar kita paham teknologi,
Logika agar kita disiplin verifikasi dan audit,
Cahaya hati (qalb) agar kita tetap tahu arah: ābisaā belum tentu ābolehā.
Semoga, ketika mesin makin mendekati manusia, manusianya justru makin mendekat kepada Allah: lebih jujur, lebih amanah, lebih adil, dan lebih rendah hati.
WassalÄmuāalaikum warahmatullÄhi wabarakÄtuh.
š Versi panjang (artikel lengkap Bab 1ā7):
https://www.facebook.com/share/1CDkuwcDMQ/?mibextid=wwXIfr


